Kementan Perkuat Pengendalian OPT Hadapi Kekeringan, Cegah "Janda Pirang" pada Bawang Merah

Pers Pangannews

5 jam yang lalu

news
Lahan pertanian bawang merah. (Foto : Kementan)

Pangannews.id - Kementerian Pertanian (Kementan) memperkuat pendampingan dan pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT) untuk mengantisipasi fenomena mati mendadak pada tanaman bawang merah yang dikenal petani sebagai "janda pirang", terutama di tengah ancaman kekeringan dan perubahan iklim.

Penguatan dilakukan melalui pemantauan pertanaman secara intensif, penguatan sistem deteksi dini, pendampingan petani, serta penyaluran sarana pengendalian OPT yang efektif dan ramah lingkungan.

Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga produktivitas bawang merah sekaligus memastikan petani memiliki dukungan dalam menghadapi perubahan kondisi lingkungan dan cuaca ekstrem.

Direktur Pelindungan Hortikultura Kementerian Pertanian, Leli Nuryati, mengatakan fenomena "janda pirang" yang sempat terjadi di sejumlah sentra bawang merah pada 2023 menjadi pembelajaran penting bagi penguatan strategi antisipasi dan mitigasi di lapangan.

"Kejadian 'janda pirang' pada tahun 2023 berlangsung bersamaan dengan kondisi lingkungan yang ekstrem akibat fenomena El Nino, terutama berupa kekeringan dan suhu tinggi. Kondisi tersebut diduga menjadi salah satu faktor yang mendukung perkembangan fenomena tersebut secara luas dalam waktu relatif singkat," kata Leli dalam keterangannya, Selasa (15/9).

Fenomena "janda pirang" merupakan sebutan yang digunakan petani untuk menggambarkan kondisi tanaman bawang merah yang berubah warna menjadi kuning hingga menyerupai jerami atau pirang secara serentak pada areal yang luas, kemudian mengalami kematian dalam waktu relatif singkat.

Kondisi tersebut berpotensi menurunkan hasil bahkan menyebabkan kegagalan panen.

Fenomena ini pertama kali dilaporkan muncul di pertanaman bawang merah di Pulau Jawa pada 2023. Kemunculannya bertepatan dengan kondisi kemarau panjang akibat El Nino yang ditandai suhu udara tinggi dan kekeringan, serta peningkatan populasi hama trips (Thrips tabaci) secara drastis di sejumlah sentra produksi.

Kondisi iklim ekstrem dan peningkatan populasi OPT tersebut berdampak pada pertanaman bawang merah. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Hortikultura, fenomena "janda pirang" pada 2023 turut memicu penurunan luas panen bawang merah di beberapa sentra utama.

Memasuki 2024, fenomena tersebut masih ditemukan di lapangan dengan intensitas yang lebih ringan dibandingkan tahun sebelumnya dan tidak disertai ledakan populasi trips. Sementara pada 2025 tidak tercatat adanya laporan fenomena "janda pirang", seiring karakteristik musim kemarau basah berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Menurut Leli, dinamika kejadian tersebut menunjukkan bahwa kemunculan "janda pirang" berkaitan dengan interaksi kompleks antara kondisi tanaman, serangan OPT, lingkungan, serta dinamika cuaca. Karena itu, pencegahan tidak cukup dilakukan setelah gejala muncul, tetapi perlu diperkuat melalui pemantauan dan pengendalian sejak dini.

"Karena itu, pendekatan penanganannya harus dilakukan secara komprehensif dan antisipatif, terutama dengan memperkuat pemantauan kondisi pertanaman, deteksi dini, serta pengendalian OPT di lapangan," ujarnya.

Sebagai bagian dari pengendalian OPT terpadu, Kementan melalui Direktorat Jenderal Hortikultura mendorong pemanfaatan berbagai metode pengendalian yang efektif dan ramah lingkungan.

Pendampingan kepada petani dilakukan antara lain melalui penyaluran bahan pengendali OPT berupa pestisida nabati serta perangkap lampu (light trap) untuk membantu menekan populasi hama sekaligus mengurangi ketergantungan pada pestisida kimia.

Selain dukungan sarana pengendalian, pemantauan pertanaman terus dilakukan melalui petugas POPT dan penyuluh pertanian.

Sistem deteksi dini diperkuat agar potensi serangan OPT maupun gangguan akibat perubahan kondisi lingkungan dapat diketahui lebih cepat dan segera ditindaklanjuti.

Kementerian Pertanian bersama pemerintah daerah berkomitmen untuk terus mengawal petani bawang merah melalui pemantauan lapangan, penguatan deteksi dini, pengendalian OPT terpadu, serta pendampingan budidaya.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga produksi bawang merah nasional sekaligus meningkatkan kesiapan petani menghadapi kekeringan, perubahan iklim, dan berbagai potensi gangguan produksi.

Dalam berbagai kesempatan, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa Kementan terus melakukan upaya untuk menjaga produksi pertanian menghadapi kekeringan.

“Kita menyiapkan langkah antisipasi sejak awal untuk menghadapi kekeringan. Kita sudah ada irigasi, ada pompanisasi, ada embung, kemudian ada benih tahan kekeringan, penanganan OPT, dan sebagainya,” pungkasnya.(*/ADV) 


Kolom Komentar

You must login to comment...