4 jam yang lalu
Pangannews.id - Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Hortikultura bersama Pemerintah Kabupaten Dairi mendorong pengembangan kubis untuk menembus pasar ekspor melalui program Horticulture Development in Dryland Areas Project (HDDAP).
Upaya ini dilakukan dengan memperkuat budidaya berstandar ekspor, meningkatkan kualitas pascapanen, dan membangun rantai pasok berkelanjutan guna meningkatkan daya saing serta pendapatan petani kubis di Kabupaten Dairi, Sumatera Utara.
Kabupaten Dairi memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai salah satu sentra hortikultura nasional. Kondisi tanah vulkanik yang subur, dengan ketinggian wilayah antara 700 hingga 1.450 meter di atas permukaan laut, mendukung pengembangan kubis7 dataran tinggi yang memiliki karakteristik renyah dan padat.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Dairi tahun 2025, luas panen kubis tercatat lebih dari 549 hektare. Produktivitas lahan berada pada kisaran 6 hingga 7,3 ton per hektare.
Dengan potensi tersebut, produksi kubis Kabupaten Dairi saat ini diperkirakan mencapai 5.000 hingga 6.000 ton per tahun untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik.
Melalui modernisasi pertanian dan penguatan rantai pasok, pemerintah daerah memproyeksikan alokasi produksi untuk pasar ekspor sebesar 100 hingga 200 ton per bulan pada tahap awal pengembangan.
Hal ini akan didukung penerapan standar mutu, penguatan kelembagaan petani, serta peningkatan kapasitas penanganan pascapanen.
Pengembangan pasar ekspor membuka peluang peningkatan nilai ekonomi bagi petani kubis di Dairi. Berdasarkan proyeksi yang disampaikan, harga kubis di pasar domestik berada pada kisaran Rp2.500 hingga Rp4.000 per kilogram, dengan keuntungan bersih sekitar Rp1.000 hingga Rp1.500 per kilogram.
Sementara itu, harga kubis untuk pasar ekspor diproyeksikan mencapai Rp7.000 hingga Rp10.000 per kilogram. Setelah memperhitungkan penyesuaian biaya produksi, termasuk penyortiran dan pengemasan yang diperkirakan mencapai Rp2.500 hingga Rp3.000 per kilogram, keuntungan bersih petani diproyeksikan berada pada kisaran Rp3.500 hingga Rp5.000 per kilogram.
Dengan demikian, pengembangan pasar ekspor berpotensi meningkatkan keuntungan petani sekitar dua hingga tiga kali lipat dibandingkan penjualan di pasar domestik. Besaran keuntungan tersebut tetap bergantung pada harga aktual, biaya produksi, standar mutu, dan efisiensi rantai pasok.
Varietas Green Nova F1 menjadi salah satu varietas yang dikembangkan petani karena memiliki karakteristik yang sesuai untuk kebutuhan pasar dataran tinggi, antara lain bobot ideal, knop padat, dan daya simpan yang mendukung proses distribusi.
Kubis Dairi Bidik Pasar Asia Tenggara dan Asia Timur
Pengembangan ekspor kubis Dairi diarahkan untuk menyasar pasar Asia Tenggara dan Asia Timur. Malaysia dan Singapura menjadi target pasar potensial dengan kebutuhan pasokan yang diharapkan berlangsung secara rutin.
Selain itu, Taiwan menjadi salah satu pasar yang dituju karena memiliki persyaratan mutu dan kesegaran produk yang perlu dipenuhi melalui penguatan sistem produksi dan penanganan pascapanen.
Untuk memenuhi persyaratan pasar internasional, petani didorong menerapkan Good Agricultural Practices (GAP), termasuk pengelolaan budidaya yang baik, penggunaan pestisida secara tepat, dan pengendalian residu sesuai ketentuan negara tujuan ekspor.
Penerapan sorting and grading juga menjadi bagian penting dalam menjaga konsistensi mutu. Kubis yang dikembangkan untuk pasar ekspor ditargetkan memiliki bobot antara 1,5 hingga 2,5 kilogram per knop, sesuai dengan spesifikasi dan permintaan calon pembeli.
Di sisi kelembagaan, pemerintah daerah memperkuat peran kelompok tani dan koperasi untuk mendukung konsolidasi produksi, kontinuitas pasokan, serta peningkatan posisi tawar petani dalam rantai pemasaran.
Direktur Hilirisasi Hasil Hortikultura Kementerian Pertanian sekaligus Project Director HDDAP, Freddy Lumban Gaol, menegaskan bahwa pengembangan kubis di Kabupaten Dairi merupakan bagian dari upaya pemerintah memperkuat hilirisasi hortikultura berbasis kawasan dan meningkatkan nilai tambah produk petani.
“Program HDDAP tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga mendorong penguatan rantai nilai hortikultura dari hulu hingga hilir. Kabupaten Dairi memiliki potensi pengembangan kubis yang perlu dioptimalkan melalui penerapan praktik budidaya yang baik, peningkatan kualitas pascapanen, dan penguatan akses pasar. Kami ingin memastikan bahwa produk yang dihasilkan petani mampu memenuhi persyaratan mutu dan memiliki daya saing di pasar domestik maupun internasional,” ujar Freddy.
Freddy mengatakan, pengembangan orientasi ekspor perlu didukung perencanaan produksi yang terukur, kelembagaan petani yang kuat, serta kemitraan berkelanjutan dengan pelaku usaha.
“Akses pasar ekspor harus dibangun melalui kesiapan produksi, konsistensi mutu, dan kepastian pasokan. Karena itu, pendampingan melalui HDDAP diarahkan untuk memperkuat kapasitas petani dan kelembagaan, sehingga peluang pasar yang terbuka dapat memberikan manfaat ekonomi yang berkelanjutan bagi petani kubis di Dairi,” katanya.
Doktor jebolan Universitas ternama di Jepang itu tak menampik, jika penguatan rantai pasok dan peningkatan kapasitas petani menjadi bagian penting dalam membangun sistem hilirisasi hortikultura yang berorientasi pada mutu dan kebutuhan pasar.
HDDAP Dorong Modernisasi Pertanian di Kabupaten Dairi
Pengembangan kubis Dairi mendapat dukungan melalui sinergi antara Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Dairi dengan Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian melalui program HDDAP.
Program HDDAP merupakan upaya pengembangan hortikultura di wilayah lahan kering yang diarahkan untuk memperkuat modernisasi pertanian, meningkatkan sarana dan prasarana pendukung, memperbaiki penanganan pascapanen, serta meningkatkan kapasitas sumber daya manusia dan rantai pasok.
Dukungan tersebut diharapkan dapat membantu petani meningkatkan produktivitas, memenuhi persyaratan mutu pasar, dan memperluas akses pemasaran, termasuk peluang ekspor.
Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Dairi, Kesti Rusda Angkat, mengatakan kubis Dairi memiliki potensi untuk bersaing di pasar internasional melalui pendampingan dan pengembangan yang berkelanjutan.
“Kubis Dairi memiliki kualitas premium yang tidak kalah bersaing dengan produk luar negeri. Melalui pendampingan dari hulu ke hilir dalam program HDDAP bersama Direktorat Jenderal Hortikultura, Dairi siap melakukan pengembangan kubis seluas lebih dari 215 hektare. Kami berkomitmen mendampingi petani agar mampu memenuhi standar mutu serta menjaga kontinuitas pasokan ekspor secara berkelanjutan,” ujar Kesti.
Ia mengatakan, pengembangan kawasan kubis melalui HDDAP diharapkan dapat memperkuat daya saing produk lokal sekaligus memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi petani.
Petani Harapkan Akses Pasar yang Lebih Luas
Dukungan terhadap program HDDAP juga disambut positif oleh petani kubis di Kabupaten Dairi. Juragan Sihombing, petani dari Kelompok Tani Martabe, Desa Lae Hole II, Kecamatan Parbuluan, berharap program tersebut dapat membuka akses pasar yang lebih luas bagi hasil produksi petani.
“Program HDDAP sangat bermanfaat bagi kami. Kami berharap program ini dapat membuka akses pasar ekspor. Selama ini, kami sangat bergantung pada harga pasar lokal yang kerap berfluktuasi,” kata Juragan.
Ia menilai pendampingan budidaya dan penguatan akses pasar menjadi faktor penting dalam meningkatkan kepastian pemasaran hasil produksi petani.
“Dengan adanya pendampingan budidaya berstandar ekspor dan kepastian pembeli luar negeri, kami optimistis pendapatan petani dapat meningkat secara signifikan,” ujarnya.
Pengembangan kubis di Kabupaten Dairi melalui program HDDAP diharapkan menjadi bagian dari upaya memperkuat hilirisasi hortikultura, meningkatkan nilai tambah produk pertanian, serta memperluas peluang pasar bagi petani Indonesia.
Melalui kolaborasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, kelembagaan petani, dan pelaku usaha, pengembangan komoditas kubis diarahkan untuk membangun sistem produksi yang berdaya saing, memenuhi standar pasar, dan berkelanjutan.("/ADV)
7 jam yang lalu
23 jam yang lalu
Sabtu, 19 September 2026 13:13 WIB
You must login to comment...
Be the first comment...