14 jam yang lalu
Pangannews.id - Pemerintah mempercepat pembangunan ekosistem peternakan terintegrasi dari hulu hingga hilir untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus menjamin ketersediaan ayam, telur, dan susu bagi kebutuhan nasional.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengatakan pembangunan tersebut merupakan bagian dari arahan Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat industri peternakan nasional.
Pemerintah telah menyiapkan anggaran sekitar Rp17 triliun untuk pengembangan ekosistem peternakan di sejumlah wilayah.
“Lima pabrik pakan, DOC dan seterusnya itu selesai tahun depan. Insyaallah lima ini diresmikan tahun depan,” ujar Mentan Amran saat kunjungan kerja di Bone, Sulawesi Selatan, Jumat (25/9).
Menurut Mentan Amran, tahap awal pembangunan mencakup lima kawasan yang berada di Lampung, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat, dan Gorontalo. Untuk pembangunan lima kawasan tersebut, pemerintah telah menyiapkan anggaran sekitar Rp2,2 triliun.
“Anggarannya sudah turun, beliau (Presiden) sudah tanda tangan Rp2,2 triliun untuk lima. Total anggaran yang dipersiapkan pemerintah sekitar Rp17 triliun, tetapi bukan di sini saja,” katanya.
Mentan Amran menegaskan pembangunan di lima wilayah tersebut terus dikebut dan ditargetkan rampung pada tahun depan.
Menurutnya, dukungan anggaran dan administrasi telah diselesaikan sehingga pekerjaan di lapangan dapat segera dipercepat.
“Sudah bor-bor. Targetnya tahun depan selesai. Administrasinya sudah selesai, anggarannya juga sudah selesai. Yang penting selesai dulu,” tegasnya.
Kawasan peternakan tersebut dirancang sebagai ekosistem terintegrasi, tidak hanya menghasilkan produk peternakan, tetapi juga membangun rantai pasok mulai dari pakan, pembibitan atau DOC, budidaya ayam, produksi telur, hingga pengembangan sapi perah dan susu.
Integrasi ini sekaligus diarahkan untuk memperkuat pasokan pangan bergizi bagi program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Pemerintah mendorong agar kebutuhan ayam, telur, dan susu dapat dipenuhi melalui penguatan produksi dalam negeri.
“Dari hulu ke hilir ini holistik. Ada MBG menjadi off-taker ayam, telur, susu. Kemudian di sini produksi telur, ayam, susu,” jelas Mentan Amran.
Penguatan industri pakan menjadi salah satu bagian penting dalam ekosistem tersebut.
Jagung yang merupakan bahan baku utama pakan akan didorong berasal dari sentra produksi di sekitar kawasan peternakan.
“Ayam butuh pakan. Pakannya dari jagung. Jagung ini nanti dari Bone, Soppeng, kabupaten tetangga, dari mana saja. Karena ini yang menjadi pakan nanti,” kata Mentan Amran.
Menurutnya, pembangunan pabrik pakan di dekat sentra produksi jagung akan membuat rantai pasok lebih efisien dan menekan biaya logistik.
Jagung tidak perlu dikirim ke luar wilayah untuk diolah menjadi pakan, kemudian dikirim kembali ke sentra peternakan.
“Jadi dari hulu ke hilir ini holistik. Itu murah. Daripada jagung ini dikirim ke Surabaya, dikirim ke Jakarta, setelah jadi pakan dikembalikan,” ujarnya.
Selain pabrik pakan, pemerintah juga membangun fasilitas pembibitan atau DOC untuk memperkuat ketersediaan bibit ayam di dalam negeri.
Dengan adanya fasilitas tersebut, kebutuhan DOC dapat dipenuhi lebih dekat dengan sentra produksi.
“Pabrik pakan juga akan dibangun lengkap DOC-nya, anak ayam. Tidak perlu lagi mengambil ke mana-mana. Ambil dari sini. Lengkap,” kata Mentan Amran.
Sementara itu, pengembangan sapi perah diarahkan untuk memperkuat produksi susu nasional. Menurut Mentan Amran, peningkatan ketersediaan susu menjadi bagian penting dalam pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat, terutama anak-anak.
“Peternakan sapi itu sapi perah, susu. Kan butuh susu anak-anak supaya tinggi besar nanti,” katanya.
Mentan Amran menegaskan pengembangan ayam, telur, dan susu bukan hanya berkaitan dengan peningkatan produksi pangan, tetapi juga investasi jangka panjang terhadap kualitas sumber daya manusia.
“Kenapa? Minum susu, telur, ayam dan seterusnya. Itu mimpi Bapak Presiden. Generasi kita adalah generasi cerdas nanti ke depan, sehingga mencapai Indonesia Emas,” ujar Mentan Amran.
Di Sulawesi Selatan, salah satu kawasan pengembangan tersebut berada di Bone dengan luas sekitar 150 hektare.
Pembangunan kawasan ini diharapkan menjadi bagian dari penguatan rantai pasok peternakan sekaligus membuka aktivitas ekonomi baru di wilayah sekitar.
Mentan Amran menekankan bahwa pembangunan ekosistem peternakan dilakukan dengan pendekatan terintegrasi agar manfaatnya tidak berhenti pada produksi, tetapi juga memperkuat pasar bahan baku, industri pengolahan, distribusi, hingga penyerapan produk peternakan.
“Lokal lah. Kalau mau kerja di sini, itu kan lapangan kerja,” ujar Mentan Amran.
Dengan pembangunan ekosistem dari hulu hingga hilir, pemerintah mendorong terbentuknya rantai pasok peternakan yang lebih efisien, memperluas pasar bagi jagung petani, memperkuat industri pakan dan pembibitan, serta meningkatkan kapasitas produksi ayam, telur, dan susu untuk memenuhi kebutuhan pangan bergizi nasional.(*/ADV)
14 jam yang lalu
Jumat, 25 September 2026 15:16 WIB
Jumat, 25 September 2026 14:04 WIB
Jumat, 25 September 2026 13:55 WIB
You must login to comment...
Be the first comment...