14 jam yang lalu
Pangannews.id - Komisi IV DPR RI memastikan ketersediaan beras nasional dalam kondisi aman. Kepastian tersebut disampaikan setelah melakukan kunjungan kerja ke Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC), Jakarta, Jumat (2/10), untuk melihat langsung kondisi stok, pasokan, dan harga beras di pasaran.
Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Hariyadi atau Titiek Soeharto mengatakan, hasil pemantauan menunjukkan pasokan beras di PIBC berjalan lancar. Beras dari sejumlah sentra produksi, termasuk Jawa Barat dan Jawa Tengah, tersedia di pasar dengan harga yang dinilai masih terkendali.
“Kami hadir di sini untuk memastikan stok beras cukup, ada, aman, dan harganya juga stabil serta terjaga untuk masyarakat,” ujar Titiek.
Ia mengatakan, kondisi pasokan yang terjaga tersebut terlihat dari ketersediaan beras di PIBC yang berjalan normal. Berdasarkan dialog dengan para pedagang, pasokan dari daerah sentra produksi juga terus mengalir ke pasar.
“Kami lihat tadi stoknya lancar. Stok berasnya ada, dari Jawa Barat, Jawa Tengah, dan harganya pun baik, tidak tinggi,” katanya.
Menurut Titiek, menjaga ketersediaan beras tidak hanya bergantung pada jumlah stok, tetapi juga pada kelancaran distribusi dari produsen dan Bulog hingga ke konsumen. Karena itu, efektivitas distribusi menjadi bagian penting untuk memastikan masyarakat memperoleh beras dengan harga terjangkau dan kualitas yang baik.
“Masalah beras ini bukan hanya masalah stok, tetapi bagaimana kita memastikan beras didistribusikan dari produsen dan Bulog ke pasar secara efektif dan efisien, kemudian sampai ke masyarakat dengan harga terjangkau dan kualitas yang baik,” jelasnya.
Kondisi pasokan tersebut sejalan dengan perkembangan produksi padi nasional. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produksi padi Januari hingga Agustus 2026 mencapai 43,89 juta ton gabah kering giling (GKG). Berdasarkan angka tetap BPS, produksi tersebut meningkat 0,07 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Pada periode yang sama, produksi beras untuk konsumsi pangan masyarakat mencapai 25,29 juta ton atau meningkat 0,07 persen dibandingkan Januari hingga Agustus 2025.
Titiek menilai peningkatan produksi dalam negeri menjadi faktor penting dalam menjaga ketersediaan beras nasional. Ia juga mengapresiasi kondisi produksi yang mampu memenuhi kebutuhan masyarakat tanpa mengandalkan impor.
“Yang penting kita ini tidak impor lagi. Semuanya sudah diproduksi dalam negeri. Alhamdulillah. Dengan produksi yang sekian banyak berarti petaninya maju dan mudah-mudahan bisa makmur,” ujarnya.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengatakan terjaganya produksi padi nasional merupakan hasil dari berbagai upaya pemerintah dalam menjaga produktivitas petani. Salah satunya melalui penguatan sarana produksi dan pengelolaan air untuk menghadapi tantangan cuaca.
“Kami turun, pasang pompa-pompa, kita tidak boleh menyerah. Kita tidak boleh membiarkan petani jalan sendiri, kita harus turun tangan,” tegas Mentan Amran.
Menurut Mentan Amran, pemerintah akan terus memperkuat intervensi di lapangan agar petani tetap mampu berproduksi, sekaligus menjaga keberlanjutan produksi pangan nasional.
Dari sisi ketersediaan di tingkat pasar, Kepala Bulog Ahmad Rizal Ramdhani juga memastikan pasokan beras di PIBC berada dalam kondisi cukup. Ia mengatakan hasil kunjungan Komisi IV DPR RI menunjukkan beras tersedia dalam jumlah yang memadai, termasuk di tengah munculnya informasi mengenai kelangkaan beras.
“Awalnya ada info katanya ada kelangkaan beras, ternyata beras cukup berlimpah. Pemerintah maupun teman-teman swasta sudah semaksimal mungkin menyediakan kebutuhan beras masyarakat. Buktinya beras-beras itu ada di pasaran,” ujar Rizal.
Rizal menjelaskan, Bulog turut menjaga pasokan beras premium dengan menyiapkan sekitar 507 ton per hari untuk kebutuhan nasional. Jumlah tersebut sekitar 10 persen dari kebutuhan nasional, sementara sekitar 90 persen lainnya dipenuhi melalui pasokan dari pelaku usaha swasta.
“Bulog per hari menyiapkan beras premium seluruh Indonesia lebih kurang 507 ton per hari. Ini baru sekitar 10 persen dari kebutuhan nasional, sisanya 90 persen didukung dan disuplai oleh teman-teman pihak swasta,” jelasnya.
Selain beras premium, Bulog juga terus menyalurkan beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) ke berbagai wilayah. Volume penyaluran SPHP disebut mencapai hampir 4.000 ton per hari.
“Untuk beras SPHP, Bulog tiap hari ada lebih kurang hampir 4.000 ton per hari yang kita salurkan ke seluruh tanah air,” ujarnya.
Sementara itu, Titiek menyebut cadangan beras nasional saat ini berada di kisaran 4,8 juta ton. Menurutnya, besarnya cadangan tersebut menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga ketersediaan sekaligus meredam gejolak harga beras di masyarakat.
“4,8 jutaan ton per hari ini. Jadi tidak usah khawatir bahwa kita akan kelaparan beras. Kalau stoknya banyak berarti harganya bisa terkendali, tidak fluktuasi,” tegas Titiek.(*/ADV)
14 jam yang lalu
Kamis, 01 Oktober 2026 19:23 WIB
You must login to comment...
Be the first comment...