Pangannews.id - Penambahan silika pada tanaman padi berpotensi membantu petani mengurangi penggunaan pupuk tanpa harus mengorbankan hasil panen.
Penelitian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukkan, silika dapat memperkuat jaringan daun, menjaga aktivitas fotosintesis, sekaligus menekan perkembangan sejumlah penyakit tanaman.
Temuan tersebut diperoleh dari penelitian pada padi varietas Inpari 32 di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Dalam pengujian itu, tanaman yang mendapat tambahan silika dengan dosis pupuk terbatas menghasilkan gabah 6,24 ton per hektare.
Hasil tersebut berada pada kisaran yang sama dengan perlakuan pemupukan lainnya, yang mencatat produksi 6,15–6,24 ton per hektare.
Peneliti Pusat Riset Tanaman Pangan BRIN, Arlyna Budi Pustika, menjelaskan penelitian dilakukan dengan membandingkan empat pola pemupukan, mulai dari dosis rekomendasi, dosis terbatas, dosis terbatas dengan tambahan silika, hingga praktik pemupukan petani.
Dari perbandingan tersebut, kombinasi pupuk terbatas dan silika menunjukkan keseimbangan terbaik dari sisi kinerja tanaman.
“Kami membandingkan empat perlakuan pemupukan, yaitu dosis rekomendasi, dosis terbatas, dosis terbatas yang ditambah silika, hingga praktik pemupukan petani. Hasilnya menunjukkan bahwa perlakuan dosis pupuk terbatas yang ditambahkan silika memberikan kinerja agronomis yang paling seimbang,” kata Arlyna, dikutip dari laman resmi BRIN.
Daun lebih kuat, penyakit lebih terkendali
Manfaat silika terlihat pada perubahan struktur daun padi. Tanaman yang mendapat tambahan silika memiliki lapisan kutikula dan jaringan mesofil yang lebih tebal, serta kepadatan stomata lebih tinggi dibandingkan tanaman dengan pemupukan terbatas tanpa silika.
Kondisi tersebut membantu tanaman mempertahankan fungsi fisiologisnya ketika ketersediaan unsur hara terbatas. Kandungan klorofil pada tanaman yang diberi silika juga tercatat lebih tinggi.
Arlyna menyebut, ketebalan kutikula pada perlakuan tersebut mencapai 18,3 mikrometer, sedangkan jaringan mesofil mencapai 256,2 mikrometer. Kepadatan stomata tercatat 473,9 stomata per milimeter persegi dengan kandungan klorofil sebesar 15,4 SPAD.
Struktur daun yang lebih kuat turut mendukung ketahanan tanaman terhadap penyakit. Penelitian menemukan bahwa akumulasi silika dapat menghambat perkembangan bacterial red stripe, hawar daun bakteri, dan narrow brown spot.
Silika membantu memperkuat jaringan daun sehingga dapat membatasi masuknya patogen. Dengan dukungan struktur daun dan kondisi fisiologis yang lebih baik, tanaman memiliki perlindungan tambahan ketika menghadapi serangan penyakit maupun tekanan lingkungan.
Meski demikian, penambahan silika bukan berarti produksi padi otomatis meningkat. Hasil penelitian justru menunjukkan perannya lebih menonjol dalam menjaga kestabilan hasil panen ketika tanaman menghadapi keterbatasan hara.
“Jadi, silika lebih berperan sebagai penstabil hasil daripada sebagai bahan yang secara langsung meningkatkan produksi. Tanaman bisa lebih siap menghadapi tekanan nutrisi dan penyakit, sehingga hasilnya tetap terjaga,” ujar Arlyna.
Masih perlu kajian biaya
Pemanfaatan silika untuk mendukung efisiensi pemupukan masih membutuhkan penelitian lanjutan. Menurut Arlyna, perlu pengukuran lebih jauh untuk mengetahui seberapa besar silika dapat mengompensasi pengurangan unsur hara utama.
Aspek ekonomi juga belum dikaji secara formal. Analisis mengenai perbandingan biaya dan manfaat, keuntungan bersih per hektare, serta harga silika yang ideal diperlukan sebelum penerapannya diperluas di tingkat petani.
Penggunaan silika pun perlu mempertimbangkan kondisi tanah dan kebutuhan hara yang berbeda di setiap lokasi. Dengan demikian, tambahan silika tidak bisa langsung dijadikan pengganti unsur hara utama tanpa memperhitungkan kebutuhan tanaman.
Penelitian ini melibatkan periset BRIN dan Institut Pertanian Stiper Yogyakarta. Hasilnya telah dipublikasikan dalam Chilean Journal of Agricultural Research, Volume 86 Nomor 5, Oktober 2026, melalui artikel berjudul “Silicon-induced Leaf Structural Reinforcement Modulates Growth, Foliar Disease and Yield Performance of Rice under Nutrient-Limited Conditions”.
Tim peneliti terdiri atas Arlyna Budi Pustika, Lesty Ayu Bidhari, Mochammad Arif Subechan, Agus Suprihatin, Pandu Laksono, Setyorini Widyayanti, Sudarmaji Sudarmaji, Setia Sari Br. Girsang, Amelia Sebayang, Idum Satia Santi, Kristamtini, Sugeng Widodo, Hasil Sembiring, Subiyakto, dan Nurnina Nonci.
Editor : Adi Permana


Komentar Pembaca
Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.
Masuk untuk ikut berdiskusi.
MasukBelum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.