Langsung ke konten
PANGANNEWS.ID

Evaluasi K-Smart Farm, Polbangtan Kementan Perkuat Keberlanjutan Smart Farming Indonesia

Bagikan
Foto: Evaluasi K-Smart Farm, Polbangtan Kementan Perkuat Keberlanjutan Smart Farming Indonesia
Foto: Evaluasi K-Smart Farm, Polbangtan Kementan Perkuat Keberlanjutan Smart Farming Indonesia

Pangannews.id - Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Bogor bersama tim kerja sama Korea Selatan melaksanakan monitoring dan evaluasi (monev) program K-Smart Farm untuk meninjau pelaksanaan kerja sama, mengidentifikasi kendala teknis, serta merumuskan langkah perbaikan bagi keberlanjutan penerapan teknologi pertanian modern di Indonesia.

Kegiatan yang berlangsung di Ruang Seminar 2 Polbangtan Bogor, Rabu (14/10), ini melibatkan tim KNU-IIRD dari Korea Selatan, perwakilan Sekretariat Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), pengelola K-Smart Farm, serta alumni pelatihan jangka panjang (long term training).

Evaluasi berfokus pada pelaksanaan proyek kerja sama bertajuk Enhancing Millennial Farmers’ Income by Adopting K-Smart Farm Technology in Indonesia.

Program ini bertujuan mendukung peningkatan pendapatan petani milenial melalui pemanfaatan teknologi pertanian cerdas, sekaligus memperkuat kapasitas sumber daya manusia pertanian dalam menghadapi perkembangan teknologi.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam arahannya senantiasa menekankan pentingnya modernisasi pertanian melalui pemanfaatan teknologi, peningkatan produktivitas, dan penguatan kualitas sumber daya manusia.

Pengembangan smart farming menjadi salah satu upaya untuk mendorong pertanian Indonesia semakin efisien, produktif, dan berdaya saing.

Kepala BPPSDMP, Idha Widi Arsanti, juga menekankan pentingnya pengembangan kompetensi sumber daya manusia pertanian agar mampu beradaptasi dengan transformasi teknologi.

Melalui program kerja sama internasional seperti K-Smart Farm, pengelola lembaga pendidikan vokasi, mahasiswa, dan petani diharapkan memperoleh pengalaman serta keterampilan yang relevan dengan kebutuhan pertanian masa depan.

Dalam sesi evaluasi bersama tim teknis pengelola, dibahas pemanfaatan fasilitas smart greenhouse yang telah mendukung kegiatan pembibitan cabai, tomat, dan terong, serta budidaya tomat ceri dan melon. Bibit yang dihasilkan juga telah dipasarkan kepada petani dan mahasiswa di wilayah Bogor.

Fasilitas tersebut menjadi bagian dari pengembangan pembelajaran berbasis praktik di lingkungan pendidikan vokasi pertanian. Mahasiswa dan pengelola dapat mengenal penerapan teknologi pertanian modern, termasuk penggunaan sensor dan sistem otomasi sederhana untuk memantau kondisi lingkungan tanaman.

Pelaksanaan pelatihan yang telah berlangsung dalam empat gelombang juga memberikan pengetahuan kepada peserta mengenai pemanfaatan teknologi smart farming.

Alumni pelatihan mengungkapkan bahwa program tersebut membantu meningkatkan pengetahuan pertanian dan keterampilan dalam pengelolaan greenhouse. Meski demikian, hasil evaluasi mencatat sejumlah hal yang perlu mendapat perhatian untuk mengoptimalkan pemanfaatan fasilitas.

Beberapa di antaranya adalah sistem pemantauan berbasis web server yang belum dapat diakses, gangguan pada sensor dan peralatan pemompa, serta sistem otomatis mesin fogger yang belum berfungsi optimal.

Selain itu, pelatihan teknis lanjutan dan transfer pengetahuan mengenai pengoperasian serta pemeliharaan perangkat masih diperlukan. Ketersediaan suku cadang yang harus didatangkan dari Korea Selatan juga menjadi tantangan tersendiri dalam pemeliharaan fasilitas.

Temuan tersebut menjadi bahan penting bagi kedua pihak untuk menyusun rekomendasi tindak lanjut, khususnya terkait perbaikan teknologi, peningkatan kompetensi pengelola, serta penguatan dukungan teknis agar fasilitas dapat beroperasi secara optimal.

Kepala Pusat Pendidikan Pertanian (Kapusdiktan), Muhammad Amin, menekankan pentingnya menjadikan fasilitas pendidikan vokasi sebagai sarana pembelajaran yang terhubung dengan kebutuhan nyata sektor pertanian.

Selain mengevaluasi aspek teknis, kegiatan monev juga melibatkan alumni long term training yang berasal dari wilayah Bogor dan mengikuti pelatihan pada 2024 maupun 2025.

Peserta memiliki latar belakang beragam, mulai dari siswa dan mahasiswa hingga petani konvensional. Para alumni menyampaikan bahwa pelatihan memberikan manfaat dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan pengelolaan greenhouse.

Namun, mereka juga menyoroti perlunya dukungan lanjutan untuk membantu petani mengakses pasar dan menghasilkan produk berkualitas dengan harga yang kompetitif. Masukan tersebut memperlihatkan bahwa adopsi teknologi pertanian tidak cukup hanya berfokus pada proses produksi.

Penguatan kemampuan pemasaran, pemahaman kebutuhan konsumen, dan akses terhadap pasar juga menjadi faktor penting agar penerapan teknologi memberikan manfaat ekonomi bagi petani.

Direktur Polbangtan Bogor, Yoyon Haryanto, menegaskan bahwa evaluasi merupakan bagian penting dari upaya memastikan manfaat kerja sama dapat terus dikembangkan, baik untuk pembelajaran mahasiswa maupun peningkatan kapasitas petani.

“Program K-Smart Farm memiliki potensi besar sebagai sarana pembelajaran, pengembangan inovasi, dan penguatan kompetensi sumber daya manusia pertanian. Karena itu, hasil monitoring dan evaluasi ini perlu ditindaklanjuti secara konkret, mulai dari perbaikan fasilitas, peningkatan kemampuan teknis pengelola, hingga pengembangan aspek usaha dan pemasaran. Dengan demikian, teknologi yang tersedia dapat memberikan manfaat yang lebih luas,” demikian draf pernyataan Direktur Polbangtan Bogor.

Pengelolaan K-Smart Farm turut menghadapi tantangan pembiayaan operasional, termasuk pengadaan sarana produksi, perawatan sensor dan peralatan, serta kebutuhan suku cadang. Oleh karena itu, diperlukan perencanaan yang matang agar fasilitas dapat terus dimanfaatkan tanpa mengabaikan aspek efisiensi dan keberlanjutan.

Hasil monitoring dan evaluasi menyimpulkan bahwa kerja sama Indonesia–Korea Selatan dalam pengembangan smart farming dan smart greenhouse memiliki potensi besar untuk mendukung modernisasi pertanian serta meningkatkan kapasitas sumber daya manusia.

Sejumlah rekomendasi yang mengemuka meliputi perbaikan sistem teknologi dan sensor, penguatan pelatihan teknis lanjutan, peningkatan transfer pengetahuan dari pihak Korea Selatan, kemudahan akses suku cadang, serta penguatan koordinasi antara pihak.

Pengembangan teknologi juga perlu mempertimbangkan kebutuhan dan kemampuan ekonomi petani agar penerapannya lebih terjangkau dan dapat memberikan manfaat jangka panjang.

Melalui evaluasi ini, Polbangtan Bogor bersama para pemangku kepentingan diharapkan dapat memperkuat pengelolaan fasilitas K-Smart Farm sebagai bagian dari upaya mendorong pendidikan vokasi pertanian yang adaptif terhadap perkembangan teknologi.

Ke depan, optimalisasi fasilitas, peningkatan kompetensi sumber daya manusia, serta penguatan hubungan antara produksi dan pemasaran diharapkan dapat menjadikan smart farming tidak sekadar inovasi teknologi, tetapi juga solusi nyata untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani Indonesia. (wsd)(*/Adv) 

 

Ditulis olehPers Pangannews
Lihat Semua

Komentar Pembaca

Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

PANGANNEWS.ID

Jelajahi kanal