Pangannews.id - Ancaman kekeringan berkepanjangan mulai membayangi sejumlah wilayah Indonesia akibat fenomena El Nino sangat kuat yang dapat bertahan hingga awal 2027.
Di sejumlah daerah, dampaknya terlihat dari panjangnya periode tanpa hujan hingga kebakaran lahan yang telah ditangani mencapai ribuan hektare.
Data Direktorat Pengendalian Bencana Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, luas lahan terbakar yang ditangani di Kalimantan Tengah mencapai 7.938 hektare.
Sumatera Selatan menyusul dengan 5.194 hektare, kemudian Jambi 2.025 hektare, Kalimantan Selatan 1.974 hektare, dan Kalimantan Barat 1.290 hektare.
Kekeringan juga terjadi di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Periode hari tanpa hujan di kedua wilayah tersebut tercatat mencapai 131 hari atau lebih dari empat bulan.
Kondisi ini menjadi salah satu risiko yang diantisipasi pemerintah menyusul prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengenai mundurnya awal musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton Panjaitan mengatakan, pemerintah terus memantau perubahan kondisi cuaca untuk menentukan langkah penanganan kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
“Kami terus memantau dan mengevaluasi setiap pemutakhiran data cuaca yang disampaikan BMKG terkait potensi kekeringan berkepanjangan,” kata Berton saat dikonfirmasi di Jakarta, Kamis.
Salah satu langkah yang ditempuh adalah operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk meningkatkan peluang terjadinya hujan melalui penyemaian natrium klorida (NaCl). Menurut Berton, satuan tugas udara masih menjalankan operasi berdasarkan analisis kondisi cuaca.
Penanganan kekeringan juga dilakukan melalui penyaluran bantuan air bersih. BNPB bekerja sama dengan pemerintah daerah serta organisasi dan lembaga nirlaba untuk membantu masyarakat yang terdampak.
Berton mengatakan, langkah penanganan disusun bersama kementerian dan lembaga terkait, dengan evaluasi harian hingga mingguan. Pemerintah juga akan menyesuaikan upaya mitigasi berdasarkan perkembangan situasi di lapangan.
“Kami akan melakukan evaluasi setiap saat untuk kesiapsiagaan dan mitigasi, termasuk menentukan langkah-langkah yang perlu dilakukan ke depan,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani sebelumnya menyebut anomali suhu muka laut di Samudra Pasifik mencapai +2,63 derajat. Angka tersebut menunjukkan El Nino berada pada kategori sangat kuat dan diproyeksikan bertahan hingga awal 2027.
BMKG memperkirakan awal musim hujan akan mundur di 529 Zona Musim (ZOM), setara dengan sekitar 61,08 persen luas daratan Indonesia.
Musim hujan diperkirakan mulai terjadi pada November 2026 di 185 ZOM yang mencakup 24,66 persen daratan Indonesia. Pada Desember 2026, hujan diprediksi mulai memasuki 266 ZOM dengan cakupan 17,31 persen daratan.
Meski demikian, mundurnya awal musim hujan tidak serta-merta membuat akumulasi curah hujan di seluruh wilayah berada di bawah normal. BMKG memperkirakan curah hujan di 510 ZOM atau 69,76 persen luas daratan Indonesia masih berada dalam kategori normal.
Adapun puncak musim hujan diprediksi berlangsung bertahap, mulai Desember 2026 di 155 ZOM, Januari 2027 di 162 ZOM, dan Februari 2027 di 190 ZOM. BMKG juga memperkirakan durasi musim hujan di 482 ZOM akan lebih pendek dibandingkan kondisi normal.
Editor : Adi Permana


Komentar Pembaca
Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.
Masuk untuk ikut berdiskusi.
MasukBelum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.