Pangannews.id - Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman merespons langsung keluhan petani dan peternak dalam dialog terbuka di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Jakarta, Selasa (27/10).
Keberpihakan tersebut mendapat pengakuan dari peternak yang menyebut Mentan Amran sebagai “Bapak Peternak Indonesia”.
Berbagai keluhan dari kesulitan menjual jagung ke Bulog, kebutuhan alat pengering saat musim hujan, harga kambing yang tak kunjung membaik, hingga persaingan usaha di sektor unggas, Mentan Amran meminta jajaran terkait menindaklanjuti persoalan yang disampaikan.
Ketua Koperasi Peternak Unggas Sejahtera (KPUS) Kabupaten Kendal, Suwardi, menyebut Mentan Amran sebagai bapak bagi seluruh peternak Indonesia.
Ia menyampaikan apresiasi atas perhatian pemerintah di tengah tekanan usaha yang telah dirasakan peternak selama berbulan-bulan.
“Sudah tujuh bulan kami terpuruk. Pak Menteri sudah hebat, sudah maksimal untuk membela kami karena beliau adalah bapak kami semua peternak Indonesia,” kata Suwardi.
Dalam dialog tersebut, Mentan Amran menegaskan pemerintah tidak boleh membiarkan petani dan peternak menghadapi persoalannya sendirian.
Ia meminta jajaran teknis, Bulog, dan satuan tugas terkait menindaklanjuti setiap keluhan, mulai dari persoalan teknis penyerapan hasil panen hingga kebijakan yang memengaruhi keberlangsungan usaha.
“Kami tidak akan biarkan kalian sendiri,” tegas Mentan Amran.
Salah satu keluhan disampaikan petani jagung asal Lampung yang mengungkapkan kesulitan menjual hasil panen ke Bulog. Menurutnya, kebijakan penyerapan jagung dengan harga Rp5.500 per kilogram sebelumnya mendorong petani memperluas tanam.
Namun, persyaratan kualitas, terutama kadar air dan aflatoksin, dinilai menyulitkan petani yang umumnya menjual jagung dalam kondisi kering panen.
Tidak semua petani memiliki fasilitas pengering untuk memenuhi standar jagung kering simpan sehingga sebagian hasil panen kesulitan masuk ke jalur penyerapan Bulog.
Mendengar keluhan tersebut, Mentan Amran meminta jajaran terkait memperjelas ketentuan penerimaan jagung.
Ia juga menginstruksikan Bulog menyampaikan ketentuan kadar air kepada seluruh jajaran agar petani memperoleh kejelasan mengenai persyaratan penyerapan.
“Pak Dirut Bulog, sampaikan seluruh Indonesia. Kadar air 20 persen diterima,” ujar Mentan Amran.
Kendala pascapanen juga disampaikan peternak dari Blitar Selatan yang membutuhkan alat pengering jagung untuk menghadapi musim hujan.
Menanggapi permintaan itu, Mentan Amran meminta agar fasilitas pengering yang tersedia di Bulog dan Kementan dioptimalkan, termasuk 89 unit yang disebut telah tersebar di kelompok tani.
Ia juga meminta jajaran terkait menyiapkan tambahan 100 unit pengering pada tahun berikutnya.
Bagi Mentan Amran, penyelesaian persoalan petani dan peternak tidak boleh berhenti pada rapat atau penyampaian janji.
Ia meminta setiap keluhan ditindaklanjuti dengan langkah konkret sesuai kebutuhan di lapangan.
“Yang bagus tidak pidato, tapi ada bantuan,” ujarnya.
Keluhan lain datang dari peternak kambing yang mengaku harga hasil usahanya tidak kunjung membaik selama tiga tahun.
Kondisi tersebut menekan keberlangsungan usaha, terlebih ketika peternak juga harus menanggung biaya produksi.
Mentan Amran meminta jajaran terkait mengevaluasi persoalan impor kambing dan bahan baku pakan konsentrat.
Ia menekankan bahwa kebijakan impor perlu memperhatikan kemampuan produksi peternak dalam negeri agar usaha lokal tidak tersisih ketika mampu memenuhi kebutuhan pasar.
“Selama Anda bisa produksi, enggak boleh (impor) masuk ke wilayah Indonesia. Itu prinsipnya kita bernegara,” tegasnya.
Di sektor unggas, peternak turut menyuarakan persoalan persaingan usaha antara peternak rakyat dan perusahaan integrator.
Mereka meminta pemerintah meninjau aturan kemitraan agar peternak rakyat tetap memiliki ruang untuk menjalankan usaha budidaya di tengah persaingan dengan perusahaan yang menguasai rantai usaha dari hulu hingga hilir.
Aspirasi tersebut menambah daftar persoalan yang membutuhkan tindak lanjut, mulai dari harga jual, biaya produksi, akses pasar, hingga kepastian aturan usaha.
Mentan Amran mendengarkan keluhan itu dan meminta persoalan yang berkaitan dengan kebijakan serta regulasi ditindaklanjuti oleh jajaran terkait.
Mentan Amran juga menyoroti anomali harga ayam dan telur, ketika harga di tingkat peternak melemah tetapi harga di tingkat konsumen masih tinggi.
Untuk membantu penyerapan hasil produksi peternak, ia meminta Bulog memperkuat penyerapan telur melalui dukungan anggaran Rp30 miliar.
“Ada anomali. Kenapa harga telur dengan ayam jatuh, tapi di konsumen juga tinggi?” katanya.
Mentan Amran menegaskan, pemerintah harus hadir ketika petani dan peternak menghadapi kesulitan. Ia meminta seluruh jajaran terkait tidak berhenti pada pencatatan aspirasi, tetapi mengawal penyelesaian masalah sesuai kewenangan masing-masing.
“Tujuan pemerintah itu adalah menyejahterakan rakyat, melayani rakyat, melayani peternak, bukan menzalimi,” pungkasnya.(*/ADV)


Komentar Pembaca
Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.
Masuk untuk ikut berdiskusi.
MasukBelum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.