Rabu, 08 April 2026 11:46 WIB
Pangannews.id - Gejolak energi global mulai memicu kekhawatiran terhadap stabilitas harga berbagai kebutuhan di dalam negeri. Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno meminta pemerintah tidak menunggu dampak meluas dan segera menyiapkan langkah antisipatif.
Situasi tersebut dipicu ketegangan di kawasan Timur Tengah yang berimbas pada terganggunya pasokan minyak dan gas dunia. Penutupan jalur strategis Selat Hormuz dinilai berpotensi menekan distribusi energi global, yang pada akhirnya berdampak ke harga barang di tingkat konsumen.
Eddy menilai, efek domino dari krisis ini akan terasa pada produk-produk berbasis migas, termasuk sektor industri hingga kebutuhan rumah tangga.
“Sejumlah kebutuhan esensial yang bahan bakunya bersumber dari minyak dan gas telah atau akan mengalami kenaikan harga,” ujar Eddy.
Ia menjelaskan, kenaikan harga energi tidak hanya memukul komoditas utama seperti minyak mentah dan gas, tetapi juga merambat ke berbagai produk turunannya. Kondisi ini menyebabkan biaya produksi meningkat dan berujung pada kenaikan harga jual.
“Saat ini, selain minyak mentah dan gas, produk jadi dari turunan migas seperti plastik, pupuk, obat-obatan dan pakaian jadi merupakan barang-barang yang biaya produksinya melonjak sehingga otomatis harga jualnya juga akan meningkat,” katanya.
Menurutnya, kenaikan harga plastik akan berdampak luas karena digunakan sebagai bahan kemasan berbagai produk konsumsi. Sementara itu, lonjakan harga pupuk berpotensi menekan sektor pertanian dan memicu kenaikan harga pangan.
“Pemerintah perlu mengantisipasi kenaikan harga produk plastik seperti kemasan mi instan, air minum kemasan, peralatan rumah tangga dan lain-lain. Harga pangan otomatis juga akan mengalami karena kenaikan harga pupuk yang menggunakan bahan baku gas telah naik juga,” ucapnya.
Eddy mengapresiasi kebijakan pemerintah yang masih menahan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di tengah tekanan global. Namun, ia mengingatkan perlunya kebijakan lanjutan agar dampak krisis tidak semakin meluas.
Selain intervensi pemerintah, ia juga menekankan pentingnya peran masyarakat dalam menghemat energi dan mengurangi konsumsi berlebihan, khususnya penggunaan plastik.
“Namun demikian, sebagai anggota masyarakat, kita juga punya tanggung jawab untuk melakukan aksi penghematan energi serta daur ulang, khususnya plastik,” ujarnya.
Ia juga mendorong langkah efisiensi nasional, mulai dari pengurangan limbah makanan hingga penggunaan transportasi publik berbasis listrik.
“Di antaranya agar makanan tidak terbuang secara mubazir, mengurangi penggunaan kemasan plastik serta pemberian insentif bagi masyarakat untuk menggunakan kendaraan umum, khususnya kendaraan umum listrik seperti bus listrik atau MRT,” pungkasnya.
Senin, 20 April 2026 12:14 WIB
Sabtu, 18 April 2026 15:22 WIB
Jumat, 17 April 2026 15:35 WIB
You must login to comment...
Be the first comment...