Langsung ke konten
PANGANNEWS.ID

PBB Sebut Rusia Perparah Krisis Pangan Global Gegara Keluar dari Kesepakatan Pangan Laut Hitam 

Bagikan
Pengiriman komersial pertama M/V Riva Wind dari Ukraina yang membawa 50.000 ton ton gandum pesanan. (Dokumentasi Kedubes Ukraina)
Pengiriman komersial pertama M/V Riva Wind dari Ukraina yang membawa 50.000 ton ton gandum pesanan. (Dokumentasi Kedubes Ukraina)

PanganNews.id, Amerika - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyampaikan bahwa krisis pangan akan semakin parah karena ulah Rusia yang  keluar dari kesepakatan pangan Laut Hitam dan bombardemen  pelabuhan-pelabuhan penting.

"Kita kini  menyaksikan ketahanan pangan kian terpukul hebat, ketika Rusia dalam empat hari berturut-turut menyerang pelabuhan Ukraina di Laut Hitam di Odesa, Chornomorsk dan Mykolaiv dengan rudal dan drone," kata Kepala Urusan Politik PBB Rosemary DiCarlo, Minggu 23 Juli 2023. 

Ia menyebut bahwa PBB mengutuk keras aksi tidak manusiawi yang dilakukan oleh Rusia. Ia meminta Rusia segera menghentikan  aksi pemberhentian kesepakatan laut hitam itu karena mengancam krisis pangan global. 

"Gelombang baru serangan menyasar pelabuhan-pelabuhan Ukraina berisiko menciptakan dampak yang hebat terhadap ketahanan pangan global, khususnya di negara-negara berkembang," kata dia.

"Ancaman menyangkut kemungkinan kapal sipil yang berlayar di Laut Hitam dijadikan sasaran tembak, sungguh tak masuk akal," lanjut dia. 

Sementara, Kepala Bantuan PBB Martin Griffith menyebut langkah Rusia keluar dari kesepakatan pangan dinilai sangat mengecewakan berbagai pihak. 

"Bagi 362 juta manusia langkah itu bukan masalah kesedihan atau kekecewaan: Ini menyangkut hal yang mengancam masa depan mereka, anak-anak mereka dan keluarga mereka," kata Griffith.


"Mereka tidak sedih, tapi marah. Mereka khawatir, mereka gelisah. Beberapa akan kelaparan, beberapa akan sangat kelaparan, mungkin banyak yang mati akibat keputusan Rusia ini," lanjutnya.  

Griffith memohon Dewan Keamanan agar melakukan segala upaya untuk memulihkan kesepakatan pangan Laut Hitam yang ditandatangani di Istanbul pada Juli tahun lalu oleh Rusia, Ukraina, Turki dan PBB.

Perjanjian itu menciptakan koridor aman melewati Laut Hitam untuk ekspor dari tiga pelabuhan Ukraian yang sempat terhenti sejak perang mulai pada Februari 2022.

Kesepakatan itu turut mengendalikan harga pangan yang melonjak dan meredakan krisis pangan global dengan memulihkan aliran gandum, minyak bunga matahari, pupuk, dan produk lainnya dari Ukraina yang merupakan salah satu eksportir produk pangan biji-bijian terbesar di dunia.

Penulis: Egi Abdul Mugni 
Editor: R Muttaqien 

Lihat Semua

Komentar Pembaca

Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

PANGANNEWS.ID

Jelajahi kanal