PanganNews.id, Jakarta – Badan Pangan Nasional (Bapanas) merilis hasil penyusunan Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan atau Food Security and Vulnerability Atlas (FSVA) 2023.
Dalam FSVA tahun ini, Bapanas menyimpulkan adanya perubahan positif tingkat kerentanan rawan pangan, dari semula 14 persen di 2022 terdepresiasi menjadi 13 persen di 2023.
Deputi Bidang Kerawanan Pangan dan Gizi NFA, Nyoto Suwignyo mengatakan, tingkat kerentanan semakin mendekati target 12 persen atau sekitar 61 kabupaten/kota, sebagaimana dituliskan pada RPJMN (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional) 2024.
"Kita bisa melihatnya sebagai langkah awal menuju ketahanan pangan nasional yang lebih baik di tahun-tahun mendatang,” ungkap dia, Kamis 14 Desember 2023.
Nyoto menyebut, penurunan tingkat kerentanan rawan pangan tahun 2023 merupakan buah kerja keras semua stakeholder pangan selama setahun ke belakang.
Untuk secara konsisten mendukung Aksi Kesiapsiagaan Krisis Pangan yang telah dilakukan Bapanas melalui program-program yang secara langsung dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
“Diantaranya bantuan pangan dalam rangka intervensi pengendalian kerawanan pangan yang menyasar ke 22 kabupaten/kota berbasis FSVA dan Prevalence of Undernourishment (PoU), penyaluran bantuan pangan beras untuk Keluarga Penerima Manfaat (KPM) sesuai arahan Kepala NFA," kata dia.
"Serta mengikuti amanat Bapak Presiden Joko Widodo yang akan terus dilanjutkan sampai tahun depan. Lalu kita laksanakan juga bantuan penanganan stunting berupa telur dan daging ayam untuk Keluarga Risiko Stunting (KRS),” imbuh Nyoto.
Selain itu terdapat pula program-program lainnya yang telah dilakukan Bapanas dalam Aksi Kesiapsiagaan Krisis Pangan, antara lain Penguatan Cadangan Pangan Pemerintah Daerah (CPPD) dan Cadangan Pangan Masyarakat (CPM), pengendalian inflasi pangan, diversifikasi konsumsi pangan berbasis pangan lokal, serta Gerakan Selamatkan Pangan (GSP) untuk menekan food waste melalui Kampanye Gerakan Stop Boros Pangan.
“Pada FSVA 2022, terdapat 74 kabupaten/kota teridentifikasi sebagai daerah rentan rawan pangan atau prioritas 1-3. Kemudian FSVA pada tahun ini, terjadi perubahan yang membaik berupa penurunan jumlah menjadi 68 kabupaten/kota daerah rentan rawan pangan. Ini artinya situasi ketahanan pangan Indonesia tahun 2023 meningkat dibandingkan tahun 2022,” papar Nyoto.
Selain adanya identifikasi penurunan jumlah daerah rentan rawan pangan atau prioritas 1-3, FSVA 2023 yang disusun NFA bersama tim ahli lintas Kementerian/Lembaga juga mengidentifikasi adanya kenaikan jumlah daerah tahan pangan atau prioritas 4-6 menjadi 446 kabupaten/kota, dimana sebelumnya pada FSVA 2022 terdapat 440 kabupaten/kota yang termasuk daerah tahan pangan.
Lebih lanjut, pada hasil FSVA 2023 ditemui 9 kabupaten kota yang mengalami perbaikan berdasarkan indikator FSVA nasional, antara lain di Sumatra yakni Kabupaten Musi Rawas Utara, Kabupaten Bengkulu Utara, dan Kabupaten Karimun.
Selanjutnya ada Kabupaten Tana Tidung di Kalimantan Utara. Lalu Kabupaten Alor dan Kabupaten Sumba Barat Daya di Nusa Tenggara Timur beserta Kabupaten Maluku Tenggara Barat turut tercatat terdapat perbaikan.
"Di ujung timur Indonesia, Kabupaten Kepulauan Yapen dan Kabupaten Sarmi di Papua juga mengalami indeks FSVA yang kian membaik," tutup dia.
Penulis : Egi Abdul Mugni
Editor : R Muttaqien


Komentar Pembaca
Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.
Masuk untuk ikut berdiskusi.
MasukBelum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.