PanganNews.id, Purwakarta - Angka stunting di Kabupaten Purwakarta masih terbilang tinggi, yakni di kisaran 21,8 persen.
Pemerintah Kabupaten Purwakarta pun menggandeng berbagai pihak untuk mengatasi persoalan ini, salah satunya dengan menggandeng PT EWINDO, produsen penyedian benih sayur unggulan.
Sekda Kabupaten Purwakarta, Norman Nugraha mengatakan, sesuai arahan dari pemerintah pusat kasus stunting di setiap daerah harus bisa ditekan hingga 14 persen di 2024 mendatang.
Maka, tahun ini jajarannya harus bekerja ekstra keras dalam penanganan stunting tersebut.
"Penanganan stunting, sampai saat ini masih terus kami lakukan secara 'guyub' hingga tingkat desa. Kami juga haturkan terima kasih, untuk pihak-pihak yang selama ini turut andil dalam upaya tersebut," kata Norman, belum lama ini.
Menurut Norman, untuk menekan angka stunting ini pekerjaan pemerintah memang masih berat di 2024 nanti. Pravalensi stunting kita masih di angka 21,8 persen. Sedangkan target pemerintah itu di angka 14 persen.
"Sudah saatnya, pemerintahan menggerakkan juga masyarakat untuk melek stunting. Supaya, jika ada kasus ini ataupun kasus baru bisa segera ditangani," jelas dia.
Norman meminta, seluruh lapisan masyarakat bisa selaras dan bergandengan tangan dengan pemerintah dalam mengatasi stunting ini.
Pihaknya sangat mengapresiasi peran swasta dalam hal ini EWINDO yang turut berkontribusi dalam upaya penurunan stunting di Kabupaten Purwakarta.
"Mari kita bersama-sama merempug masalah stunting ini, karena target penurunannya cukup besar sampai 7 persen. Kalau tahun depan tak sesuai target, minimalnya angka prevalensi di kita bisa turun," ujar Norman.
Adapun prinsip pencegahan stunting ini, lanjut Norman, meliputi, pencegahan primer yakni setiap satu bulan sekali bayi dan balita ditimbang ke posyandu. Perhatikan asupan ASI/MPASI dan makanan keluarga yang berbasis protein hewani.
Kemudian, pencegahan sekunder.
Jika ada balita yang stunting segera dibawa ke dokter di puskesmas. Tujuannya, mendeteksi apakah balita itu memiliki penyakit bawaan atau tidak.
Kemudian, pencegahan ketiga yakni pencegahan dokter spesialis anak di RSUD. Jika sudah masuk kategori ini, maka perlakuan terhadap bayi dan balitanya akan beerbeda. Sesuai prosedur yang berlaku.
Pihaknya berharap, dengan semua pihak bergandengan tangan dan selaras untuk sama-sama menurunkan prevalensi stunting. Serta, mencegah munculnya kasus baru.
Editor : R Muttaqien


Komentar Pembaca
Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.
Masuk untuk ikut berdiskusi.
MasukBelum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.