Langsung ke konten
PANGANNEWS.ID

Tinggalkan Opium, Petani Afghanistan Mulai Beralih ke Hortikultura

Bagikan
Petani Afghanistan menanam tanaman legal di lahan yang sebelumnya digunakan untuk menanam bunga opium di Provinsi Wardak, Afghanistan, 23 Juni 2025. (Foto : ANTARA/Xinhua/Saifurahman Safi)
Petani Afghanistan menanam tanaman legal di lahan yang sebelumnya digunakan untuk menanam bunga opium di Provinsi Wardak, Afghanistan, 23 Juni 2025. (Foto : ANTARA/Xinhua/Saifurahman Safi)

Pangannews.id - Di antara deretan pohon apel dan ceri di ladang seluas ribuan meter persegi, Noor Agha bekerja dengan senyuman. Sebuah pemandangan yang menandai perubahan besar di kawasan yang dulu dikenal sebagai pusat penanaman opium.

Ia, bersama banyak petani lain di Afghanistan, kini memilih menanam tanaman pangan dan hortikultura demi masa depan yang lebih sehat dan berkelanjutan.

“Dulu, menanam opium hanya membawa bencana. Sekarang kami menanam bibit, kentang, dan gandum. Ketika pohon apel berbuah, pendapatannya jauh lebih baik,” kata Agha, seorang petani berpengalaman dari wilayah timur dan selatan Afghanistan, seperti dikutip dari Antara.

Pergeseran ini bukan hanya pilihan pribadi. Pemerintah sementara Afghanistan tengah menggalakkan kampanye nasional untuk memberantas budi daya tanaman narkotika, termasuk opium, yang selama bertahun-tahun menjadikan negara ini sebagai salah satu produsen opium terbesar di dunia.

Zargo Stanikzai, petani berusia 44 tahun dari Distrik Nirkh, Provinsi Wardak, kini mengandalkan kebun buah sebagai sumber utama pendapatan. Dengan lahan sekitar 4.000 meter persegi, ia menanam apel, almond, persik, dan ceri, tanaman yang menurutnya jauh lebih menjanjikan.

“Berkebun itu bersih dan tidak menimbulkan masalah seperti opium. Kini lima orang bekerja bersama saya dan hidup kami jauh lebih baik,” ujarnya.

Dari kebun itu, Stanikzai mampu menghasilkan hingga 1 juta afghani per tahun, atau sekitar Rp231 juta.

Ia juga menyampaikan kekhawatirannya tentang dampak kekeringan yang berkepanjangan dan menyerukan agar masyarakat internasional tidak berpaling dari petani Afghanistan, terutama dalam menghadapi perubahan iklim yang memperburuk situasi pertanian.

Perubahan ini didukung oleh pendekatan pemerintah yang mencakup penyuluhan, pembagian benih, hingga pembentukan komisi antinarkotika di berbagai provinsi.

Di Provinsi Wardak, upaya ini dipimpin oleh Mawlawi Habibullah Mujahid, Direktur Informasi dan Kebudayaan, yang menekankan pentingnya edukasi publik dan penegakan hukum.

“Kami ingin meyakinkan masyarakat bahwa menanam opium itu salah. Komisi antinarkotika akan memeriksa ladang dan menghancurkan tanaman opium jika ditemukan,” tegas Mujahid.

Namun, ia juga menyayangkan kurangnya dukungan dari organisasi internasional dalam perjuangan ini, meski pemerintah Afghanistan telah membentuk komisi tingkat tinggi dengan 27 anggota pada September 2024 untuk menangani isu narkoba secara nasional.

Meski tantangan masih besar, dari ketergantungan ekonomi historis pada opium hingga dampak perubahan iklim, semangat petani seperti Agha dan Stanikzai menunjukkan bahwa transformasi adalah hal yang mungkin.

Mereka membutuhkan dukungan yang lebih luas agar pertanian bersih dapat benar-benar menggantikan praktik lama yang merusak.

“Kami sudah memulai perubahan, tapi kami tidak bisa berjalan sendiri,” kata Stanikzai.

Editor : Adi Permana

Ditulis olehPers Pangannews
Lihat Semua

Komentar Pembaca

Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

PANGANNEWS.ID

Jelajahi kanal