Pangannews.id - Pemerintah semakin mengandalkan teknologi dalam menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang rawan terjadi di musim kemarau. Salah satunya melalui sistem pemantauan dini Fire Danger Rating System (FDRS) yang dioperasikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, menjelaskan bahwa FDRS mampu memetakan potensi kebakaran secara harian dengan akurasi tinggi.
Sistem ini didukung data dari berbagai sumber, termasuk satelit NOAA (National Oceanic and Atmospheric Administration), dan menghasilkan peta kerawanan kebakaran yang dibagi dalam tiga warna, yakni hijau (aman), oranye (berpotensi tinggi), dan merah (titik api aktif).
“Warna merah menunjukkan firespot atau kebakaran aktif, oranye menunjukkan potensi tinggi, dan hijau relatif aman. Data ini menjadi acuan bagi operasi modifikasi cuaca dan patroli di lapangan,” jelas Guswanto, Rabu (12/8/2025), di Jakarta.
BMKG tidak hanya memantau titik api, tetapi juga arah angin, sebaran asap, hingga potensi asap lintas batas negara, dengan integrasi data dari citra satelit dan radar meteorologi.
Langkah ini dinilai krusial dalam penanganan karhutla yang berpotensi menimbulkan bencana ekologis maupun gangguan kesehatan lintas wilayah.
Data yang dihasilkan FDRS menjadi referensi penting bagi tim gabungan di lapangan, seperti Manggala Agni (Kementerian Kehutanan), BNPB, serta dinas terkait di daerah.
Rantai koordinasi juga ditopang oleh patroli udara dan operasi hujan buatan di wilayah terdampak atau yang menunjukkan potensi kebakaran tinggi.
Enam provinsi menjadi prioritas pengawasan selama puncak musim kemarau tahun ini. Diantaranya Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan.
“Sistem ini terbukti membantu penentuan prioritas wilayah penanganan karhutla setiap hari,” tegas Guswanto.
Ia menekankan, deteksi dini jauh lebih murah dan efektif dibandingkan pemadaman setelah api membesar.
Dengan dukungan FDRS, risiko kerusakan ekosistem, gangguan kesehatan, dan kabut asap bisa ditekan lebih dini, setidaknya hingga musim kemarau diperkirakan berakhir pada September mendatang.
Editor : Adi Permana


Komentar Pembaca
Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.
Masuk untuk ikut berdiskusi.
MasukBelum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.