Langsung ke konten
PANGANNEWS.ID

Petani Urban Jakarta Khawatir Dampak Modifikasi Cuaca pada Tanaman Sayur

Bagikan
Operasi modifikasi cuaca (OMC) digelar Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta, pada 7-9 Desember 2024, lalu. (Foto : BPK RI)
Operasi modifikasi cuaca (OMC) digelar Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta, pada 7-9 Desember 2024, lalu. (Foto : BPK RI)

Pangannews.id - Sejumlah petani urban di Jakarta menyampaikan kekhawatiran terhadap operasi modifikasi cuaca (OMC) yang tengah dilakukan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Mereka menilai, perubahan pola hujan akibat intervensi cuaca berpotensi mempengaruhi produktivitas lahan pertanian skala komunitas, terutama yang banyak dikelola di permukiman padat.

Latif, petani urban asal Jagakarsa, Jakarta Selatan, mengatakan intensitas hujan yang meningkat dalam beberapa pekan terakhir memberi dampak langsung pada budidaya tanaman sayuran yang umumnya ditanam di lahan-lahan terbatas.

Menurutnya, banyak area pertanian kota berada di lokasi yang awalnya tidak dirancang untuk bercocok tanam.

“Hujan, apalagi kalau ekstrem, sangat memengaruhi lahan kami. Sebagian kebun berada di pinggir sungai dan tanah miring. Kalau cuaca berubah mendadak, tanaman gampang rusak,” ujar Latif, dikutip dari Antara, Jumat (7/11/2025).

Ia menuturkan, curah hujan tidak menentu turut mengganggu proses produksi kompos yang menjadi sumber utama pupuk organik para petani urban.

Kelembapan tinggi membuat pengomposan berlangsung lebih lama, sementara cuaca yang terlalu kering dapat mematikan mikroorganisme pengurai.

“Kalau terlalu basah, komposnya lama jadi. Kalau terlalu kering, nutrisinya hilang. Padahal kompos ini yang paling kami andalkan,” jelasnya.

Komunitas petani di RW 6 Cipedak umumnya menanam sayuran daun seperti kangkung, bayam, dan sawi—jenis tanaman yang sensitif terhadap perubahan lingkungan.

Perubahan tiba-tiba pada durasi dan intensitas hujan, kata Latif, bisa membuat batang tanaman mudah patah dan meningkatkan risiko serangan hama.

Sebagai langkah antisipasi, para petani di wilayah tersebut mengembangkan sistem daur ulang sampah dapur menjadi kompos. Limbah organik rumah tangga tersebut diolah, kemudian dikembalikan sebagai pupuk bagi kebun komunitas.

“Kami mencoba menutup siklusnya sendiri. Sampah dapur jadi kompos, kompos untuk kebun, hasilnya balik ke warga. Sekaligus mengurangi sampah yang harus dikirim ke Bantar Gebang,” ungkap Latif.

Ia berharap kebijakan modifikasi cuaca tidak hanya dilihat dari sisi pengendalian iklim semata, tetapi juga mempertimbangkan keberlangsungan pertanian urban yang kini menjadi bagian strategi ketahanan pangan Jakarta.

“Kami tidak tahu teknis modifikasi cuacanya seperti apa. Tapi dampaknya terasa di lapangan. Semoga pemerintah melihat ini bukan hanya soal teknis cuaca, tapi juga soal masyarakat yang terdampak,” ujarnya.

Menurutnya, sinergi antara kebijakan pengendalian cuaca dengan program lingkungan berbasis komunitas, seperti pengolahan kompos dan kebun kolektif, dapat mendukung mitigasi perubahan iklim di perkotaan secara lebih nyata.

Editor : Adi Permana

Ditulis olehPers Pangannews
Lihat Semua

Komentar Pembaca

Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

PANGANNEWS.ID

Jelajahi kanal