Langsung ke konten
PANGANNEWS.ID

Universitas Brawijaya Kukuhkan 10 Guru Besar Lintas Disiplin Ilmu

Bagikan
Universitas Brawijaya kukuhkan 10 guru besar lintas disiplin ilmu. (Foto : dok. Universitas Brawijaya)
Universitas Brawijaya kukuhkan 10 guru besar lintas disiplin ilmu. (Foto : dok. Universitas Brawijaya)

Pangannews.id - Universitas Brawijaya (UB) kembali memperkuat jajaran akademiknya dengan mengukuhkan 10 guru besar dari berbagai disiplin ilmu. Pengukuhan tersebut digelar dalam dua tahap, yakni pada Selasa (10/2/2026) dan Rabu (11/2/2026), di lingkungan kampus UB, Kota Malang, Jawa Timur.

Pada hari pertama, lima akademisi resmi menyandang jabatan profesor. Mereka adalah Prof Defri Yona di bidang pencemaran laut, Prof Fadly Usman di bidang manajemen kebencanaan, Prof Riyanto Haribowo di bidang kualitas air dan lingkungan, Prof Achmad Effendi di bidang statistika komputasi sosial ekonomi, serta Prof Trisilowati di bidang matematika biologi.

Sementara itu, lima guru besar lainnya dikukuhkan pada hari kedua. Mereka terdiri atas Prof Mashudi di bidang teknologi pakan ternak ruminansia, Prof Prija Jatmika di bidang hukum pidana, Prof Tri Yudani Mardining Raras di bidang biokimia biomolekuler, Prof Agustin Iskandar di bidang patologi klinik dan penyakit infeksi, serta Prof Tatit Nurseta di bidang obstetri dan ginekologi.

Dilansir dari Antara, salah satu profesor yang dikukuhkan, Prof Defri Yona, memaparkan risetnya terkait pengendalian pencemaran laut. Dalam konferensi pers di Gedung Samantha Krida UB, Senin (9/2/2026), ia menjelaskan pengembangan kerangka kerja bernama Kerangka Integratif Risiko Solutif atau Keris Laut untuk memetakan dan mengendalikan dampak polusi di perairan.

Menurut Defri, pencemaran laut tidak hanya berdampak pada ekosistem, tetapi juga berpengaruh langsung terhadap kesehatan manusia. Karena itu, pendekatan yang ia kembangkan menggabungkan analisis alur pencemar, proses akumulasi, hingga risiko ekologis dan kesehatan dalam satu sistem terpadu. Model tersebut diharapkan dapat membantu penentuan prioritas penanganan serta strategi mitigasi yang lebih tepat sasaran.

Di bidang kesehatan, Prof Agustin Iskandar memperkenalkan model host oriented prognostic evaluation in infectious disease (HOPE-ID). Model ini dirancang sebagai alat prediksi berbasis biomarker untuk memperkirakan luaran klinis pasien penyakit infeksi.

Agustin menjelaskan, HOPE-ID mengintegrasikan berbagai indikator, mulai dari biomarker inflamasi, disfungsi endotel, hingga faktor molekuler dan klinis. Pendekatan multidimensional ini dinilai mampu mendukung pengambilan keputusan medis secara lebih presisi dan cepat, termasuk melalui pengembangan berbasis kecerdasan buatan.

Ia menambahkan, model tersebut mencerminkan perubahan arah dalam patologi klinik, dari sekadar menegakkan diagnosis menuju upaya memprediksi kondisi pasien secara lebih komprehensif.

“Ini menjadi langkah menuju layanan kesehatan yang lebih akurat dan bermakna,” ujarnya.

Dengan bertambahnya 10 guru besar baru, UB berharap dapat memperkuat kapasitas riset, pengajaran, dan kontribusi keilmuan bagi masyarakat, khususnya di bidang lingkungan, kesehatan, hukum, dan teknologi terapan.

Edior : Adi Permana

Ditulis olehPers Pangannews
Lihat Semua

Komentar Pembaca

Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

PANGANNEWS.ID

Jelajahi kanal