Kamis, 09 April 2026 14:57 WIB
Pangannews.id - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan potensi peningkatan risiko kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia seiring kemungkinan berkembangnya fenomena El Nino pada 2026. Fenomena tersebut diperkirakan muncul dengan intensitas lemah hingga moderat pada semester kedua tahun ini.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengatakan peluang kemunculan El Nino berada di kisaran 50 hingga 80 persen. Saat ini, kondisi iklim global masih berada pada fase netral, namun tren penguatan mulai terdeteksi.
“Perlu dipahami bahwa kemarau dan El Nino adalah dua fenomena berbeda. Kemarau merupakan siklus klimatologis, namun jika terjadi bersamaan dengan El Nino, curah hujan akan jauh berkurang dan kondisi menjadi lebih kering,” ujar Faisal dalam keterangannya, Kamis (9/4/2026).
BMKG memperkirakan musim kemarau tahun ini berpotensi datang lebih awal dan berlangsung lebih panjang dari biasanya. Secara umum, kondisi iklim pada 2026 juga diprediksi lebih kering dibandingkan kondisi normal.
Fenomena El Nino sendiri merupakan bagian dari siklus El Nino Southern Oscillation (ENSO), yakni perubahan suhu permukaan laut dan tekanan udara di Samudra Pasifik tropis yang memengaruhi pola cuaca global. Di Indonesia, kondisi ini umumnya berdampak pada penurunan curah hujan.
Seiring dengan indikasi tersebut, BMKG mencatat peningkatan jumlah titik panas di sejumlah wilayah. Hingga awal April 2026, jumlah hotspot telah mencapai 1.601 titik, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
BMKG memetakan potensi peningkatan karhutla mulai terjadi di wilayah Riau pada Juni, kemudian meluas ke Jambi dan Sumatera Selatan. Risiko itu diperkirakan berlanjut ke Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan pada Juli hingga Agustus.
Sebagai langkah antisipasi, BMKG mengintensifkan upaya mitigasi melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), terutama di kawasan rawan lahan gambut. Metode ini dilakukan dengan menjaga kelembapan tanah agar tidak mudah terbakar.
“Ketika tinggi muka air tanah di lahan gambut mulai menurun, BMKG segera melakukan modifikasi cuaca untuk menjaga kelembapan tanah agar tidak mudah terbakar,” pungkasnya.
Editor : Adi Permana
19 jam yang lalu
Kamis, 16 April 2026 11:47 WIB
You must login to comment...
Be the first comment...