7 jam yang lalu
Pangannews.id - Ketergantungan industri perunggasan Indonesia terhadap impor bibit ayam ras komersial masih menjadi persoalan. Hampir seluruh rantai produksi ayam nasional bertumpu pada grand parent stock (GPS) impor yang selama ini dikuasai perusahaan global dari negara maju.
Di tengah situasi itu, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mulai mendorong pembentukan GPS ayam lokal sebagai fondasi baru industri unggas nasional. Tujuannya bukan hanya mengurangi ketergantungan impor, tetapi juga menjaga stabilitas produksi dalam negeri ketika terjadi gangguan perdagangan internasional maupun gejolak geopolitik global.
Kepala Pusat Riset Tanaman Pangan, Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN, Yudhistira Nugraha, mengatakan Indonesia sebenarnya memiliki modal besar untuk membangun sistem pembibitan unggas sendiri.
Berbagai jenis ayam lokal tersebar di sejumlah daerah dengan kemampuan adaptasi yang dinilai lebih cocok terhadap iklim tropis Indonesia.
“Namun demikian, kita berharap tidak terus bergantung pada GPS impor. Pasalnya, Indonesia memiliki sumber daya genetik ayam lokal yang sangat beragam dan memiliki keunggulan komparatif, terutama kemampuan adaptasi terhadap lingkungan tropis dan cita rasa khas yang dimiliki,” ujar Yudhistira, dikutip dari laman resmi BRIN.
Selama ini industri GPS dunia dikuasai negara-negara yang telah mengembangkan riset genetika unggas selama puluhan hingga ratusan tahun. Kondisi tersebut membuat negara berkembang seperti Indonesia masih bergantung pada pasokan bibit dari luar negeri.
Padahal, kebutuhan protein hewani nasional terus meningkat dari tahun ke tahun. Sektor perunggasan menjadi salah satu penopang utama konsumsi protein masyarakat melalui produksi daging ayam dan telur.
Permintaan diperkirakan semakin tinggi seiring pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan target pemerintah meningkatkan produksi pangan hewani hingga 2029.
Karena itu, BRIN menilai penguatan sistem pembibitan nasional menjadi bagian penting dalam menjaga ketahanan pangan. Tanpa kemandirian bibit, industri unggas nasional dinilai rentan terhadap fluktuasi pasokan global.
Kepala Pusat Riset Peternakan BRIN, Santoso, mengatakan ayam lokal Indonesia sebenarnya memiliki sejumlah keunggulan yang tidak dimiliki ayam ras komersial. Selain lebih adaptif terhadap lingkungan tropis, beberapa jenis ayam lokal juga dinilai lebih tahan terhadap kondisi tertentu dan memiliki cita rasa yang disukai konsumen.
Meski demikian, ia menilai pengembangan ayam lokal tidak cukup hanya mengandalkan potensi genetik alami. Diperlukan dukungan riset berkelanjutan agar produktivitas ayam lokal meningkat dan mampu bersaing secara ekonomi dengan ayam ras komersial.
“Terdapat berbagai upaya untuk mewujudkan pengembangan ayam lokal yaitu melalui perbaikan pemuliaan, pendekatan rekayasa genetik, pengelolaan sistem pembibitan, penerapan teknologi reproduksi, hingga pengembangan budidaya modern yang lebih efisien,” kata Santoso.
BRIN menargetkan hasil pengembangan riset peternakan, termasuk ayam pedaging dan ayam petelur unggul, mulai dapat disiapkan pada 2027. Lembaga tersebut berharap riset ayam lokal mampu menghasilkan bibit yang lebih produktif, efisien, dan sesuai dengan kondisi agroekosistem Indonesia.
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Peternakan BRIN, Tike Sartika, mengatakan pembentukan GPS ayam lokal menjadi langkah strategis untuk memperkuat sistem pembibitan nasional sekaligus mengurangi dominasi bibit impor di pasar domestik.
Ia menilai kekayaan plasma nutfah ayam lokal Indonesia merupakan aset yang belum dimanfaatkan secara optimal. Dengan dukungan riset dan inovasi, ayam lokal dinilai berpeluang berkembang menjadi bibit unggul nasional yang mampu menopang kebutuhan daging dan telur masyarakat dalam jangka panjang.
Editor : Adi Permana
5 jam yang lalu
Rabu, 13 Mei 2026 16:48 WIB
Selasa, 12 Mei 2026 11:30 WIB
Senin, 11 Mei 2026 20:36 WIB
You must login to comment...
Be the first comment...