1 jam yang lalu
Pangannews.id - Universitas Sahid (USAHID) mengembangkan beras analog berbahan dasar rumput laut. Pengembangan ini dilakukan dengan menggandeng Japan International Cooperation Agency, University of Tsukuba, serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam riset yang berlangsung di Jakarta, akhir April 2026.
Selama ini, rumput laut Indonesia lebih banyak diekspor dalam bentuk mentah. Padahal, sebagai salah satu produsen terbesar dunia, potensi nilai tambah dari komoditas ini dinilai masih terbuka lebar jika diolah lebih lanjut.
Di laboratorium kampus, rumput laut tersebut diolah menjadi butiran menyerupai beras menggunakan teknologi extruder. Hasilnya adalah beras analog yang bisa dimasak layaknya nasi, tetapi memiliki kandungan serat dan mineral yang lebih tinggi.
Rektor USAHID, Prof. Giyatmi mengatakan, inovasi ini diarahkan untuk menjawab tantangan diversifikasi pangan.
“Rumput laut memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk pangan bernilai tambah tinggi. Ini bagian dari upaya mendorong hilirisasi dan diversifikasi pangan berbasis sumber daya lokal,” ujarnya, dikutip dari laman resmi USAHID.
Dalam kunjungan dua hari, tim peneliti bersama mitra internasional meninjau fasilitas riset sekaligus mencoba langsung proses produksi menggunakan mesin extruder. Diskusi juga mengerucut pada peluang pengembangan produk hingga tahap industri.
Perwakilan University of Tsukuba, Prof. Sosaku Ichikawa, menilai riset semacam ini penting karena menjembatani kebutuhan akademik dan industri.
“Kolaborasi ini menunjukkan bagaimana riset bisa menghasilkan solusi nyata yang berpotensi dikembangkan dalam skala industri,” katanya.
Beras analog berbasis rumput laut dinilai memiliki prospek sebagai pangan alternatif, terutama di tengah kebutuhan memperluas sumber karbohidrat nasional. Selain itu, inovasi ini juga membuka peluang peningkatan nilai ekonomi komoditas kelautan.
Meski begitu, pengembangannya masih membutuhkan tahapan lanjutan, mulai dari penyempurnaan rasa dan tekstur hingga uji pasar. USAHID menyebut akan melanjutkan riset sekaligus membuka peluang kerja sama dengan industri untuk mendorong produksi dalam skala lebih besar.
Jika berhasil dikembangkan secara luas, beras analog dari rumput laut ini bukan hanya menjadi inovasi kampus, tetapi juga bisa menjadi bagian dari solusi jangka panjang ketahanan pangan nasional.
Editor : Adi Permana
Jumat, 01 Mei 2026 20:42 WIB
Kamis, 30 April 2026 14:48 WIB
Kamis, 30 April 2026 14:18 WIB
Rabu, 22 April 2026 12:16 WIB
You must login to comment...
Be the first comment...