Peneliti UB Kembangkan Sunscreen Anak dari Ekstrak Rambut Jagung

Pers Pangannews

7 jam yang lalu

news
Dr. Rosalina Ariesta Laeliocattleya, S.Si., M.Si (Foto : Prasetya UB)

Pangannews.id - Limbah rambut jagung yang selama ini jarang dimanfaatkan kini dilirik sebagai bahan baku produk perawatan kulit. Peneliti dari Universitas Brawijaya (UB) mengembangkan sunscreen anak berbasis ekstrak rambut jagung yang diklaim ramah lingkungan dan aman untuk kulit sensitif.

Produk bernama Hi-To-Go Sun Protector itu dikembangkan oleh tim Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) UB dan telah masuk tahap produksi melalui kerja sama dengan PT Cedefindo, bagian dari Martha Tilaar Group.

Penggagas riset tersebut, Rosalina Ariesta Laeliocattleya, mengatakan inovasi ini berangkat dari upaya memanfaatkan limbah pertanian yang selama ini belum memiliki nilai ekonomi.

“Kami ingin mengkaji nilai bahan aktif dalam suatu produk yang awalnya dianggap limbah, seperti rambut jagung, sehingga bisa memberikan nilai tambah sekaligus lebih ramah lingkungan,” ujarnya, dikutip dari laman Prasetya UB.

Dalam formulasinya, ekstrak rambut jagung dipadukan dengan bahan alami lain seperti minyak atsiri dan lavandula hybrida oil. Produk ini memiliki perlindungan SPF 50 PA++ untuk menangkal paparan sinar UVA dan UVB, sekaligus menjaga kelembapan kulit anak.

Menurut Rosalina, produk ini dirancang dengan mempertimbangkan karakter kulit anak yang cenderung sensitif dan aktif. Karena itu, bentuknya dibuat dalam kemasan semprot agar lebih praktis digunakan.

“Produk ini kami rancang agar praktis, sehingga bentuknya spray dan mudah digunakan oleh anak-anak,” katanya.

Selain fungsi perlindungan, penggunaan bahan alami juga diharapkan memberikan kenyamanan melalui aroma yang ringan, tanpa menimbulkan iritasi.

Lebih jauh, penelitian terhadap bahan aktif lokal disebut masih terus dikembangkan. Rosalina menyebut banyak komponen pangan lokal yang berpotensi memiliki efek perlindungan terhadap sinar ultraviolet.

“Banyak bahan aktif pangan lokal yang kami kaji memiliki potensi anti UV, sehingga ke depan bisa dikembangkan lebih luas,” ujarnya.

Dalam proses produksi, bahan baku rambut jagung diperoleh melalui kerja sama dengan petani, terutama di wilayah Pulau Jawa. Skema ini dinilai tidak hanya mendukung keberlanjutan lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru.

“Kami bekerja sama dengan petani untuk memanfaatkan limbah rambut jagung, dan tidak menutup kemungkinan kolaborasi dengan industri lain,” katanya.

Pemanfaatan limbah sebagai bahan utama juga dinilai mampu menekan biaya produksi, sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas lokal.

“Keunggulan kami adalah mengangkat bahan yang sebelumnya tidak bernilai menjadi produk dengan nilai ekonomi tinggi,” ujar Rosalina.

Ke depan, pengembangan rambut jagung tidak berhenti pada produk perawatan kulit. Penelitian lanjutan juga diarahkan pada pemanfaatan sebagai bahan minuman herbal hingga potensi kesehatan lain, meski masih dalam tahap awal.

Editor : Adi Permana


Kolom Komentar

You must login to comment...