6 jam yang lalu
Pangannews.id - Kementerian Pertanian (Kementan) menargetkan Indonesia menjadi eksportir buah dan florikultura nomor satu dunia dalam 10 tahun ke depan melalui penguatan promosi, standardisasi mutu, perluasan jejaring bisnis internasional, dan pembukaan akses pasar ekspor melalui ajang Nusa Horti yang digelar di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Tangerang, Banten, pada 12–14 Juni 2026.
Pameran tersebut menjadi wadah strategis untuk memperkenalkan produk hortikultura unggulan Indonesia sekaligus mempertemukan petani, pelaku usaha, dan buyer dari dalam maupun luar negeri guna mempercepat peningkatan ekspor nasional.
Sekretaris Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian, Hotman Fajar Simanjuntak, mengatakan penyelenggaraan Nusa Horti merupakan bagian dari strategi besar pemerintah dalam memperluas akses pasar internasional bagi komoditas hortikultura Indonesia.
Menurutnya, ajang tersebut dikembangkan melalui kolaborasi dengan penyelenggara Nusatic dan Nusa Pet yang telah sukses mengangkat ikan hias dan tanaman aquascape Indonesia hingga menjadi pemain utama di pasar global.
"Kalau tanaman hias untuk aquascape dan ikan hias Indonesia sudah mampu menjadi nomor satu dunia, kenapa hortikultura tidak bisa? Karena itu dibuat wadah Nusa Horti untuk memperkenalkan seluruh potensi buah, sayuran, tanaman obat, dan florikultura Indonesia kepada pasar yang lebih luas," ujar Hotman.
Ia menjelaskan seluruh produk yang ditampilkan merupakan hasil karya petani, kelompok tani, dan UMKM dari berbagai daerah di Indonesia, seperti Kalimantan Selatan, Purbalingga, Wonosobo, Bali, dan sentra hortikultura lainnya.
"Semua yang ditampilkan adalah produk asli Indonesia, tidak ada produk impor. Ini menunjukkan bahwa potensi kita sangat besar dan layak bersaing di pasar global," katanya.
Hotman menegaskan peningkatan ekspor tidak cukup hanya mengandalkan promosi. Keberhasilan menembus pasar internasional harus didukung penerapan standar mutu secara konsisten, mulai dari Good Agricultural Practices (GAP), Good Handling Practices (GHP), hingga sistem traceability yang menjadi persyaratan utama perdagangan global.
"Kita harus memastikan mutu produk terstandar dan traceability berjalan dengan baik karena itu menjadi bagian penting dari protokol ekspor yang disyaratkan negara tujuan," jelasnya.
Selain itu, Direktorat Jenderal Hortikultura akan terus memperkuat skema business matching dengan komunitas, pelaku usaha, dan buyer internasional. Menurut Hotman, komunitas tanaman dan florikultura memiliki jaringan pasar global yang dapat menjadi jembatan bagi petani dan UMKM Indonesia.
"Komunitas-komunitas ini punya hubungan langsung dengan buyer luar negeri. Mereka mengetahui apa yang dibutuhkan pasar global dan bisa menjadi jembatan bagi petani dan UMKM kita untuk masuk ke pasar ekspor," ujarnya.
Sebagai regulator, lanjut Hotman, pemerintah akan terus memfasilitasi pelaku usaha dalam memenuhi berbagai persyaratan ekspor dan menyederhanakan regulasi yang diperlukan.
"Kami akan terus memediasi dan memfasilitasi. Jika ada hambatan regulasi, akan kami sederhanakan agar para pelaku usaha, petani, dan UMKM lebih mudah menembus pasar internasional," tegasnya.
Direktur Hilirisasi Hasil Hortikultura Direktorat Jenderal Hortikultura, Freddy Lumban Gaol, mengatakan Nusa Horti menjadi panggung strategis untuk memperkenalkan produk hortikultura unggulan Indonesia sekaligus memperkuat hubungan bisnis antara petani, pelaku usaha, dan calon pembeli.
Menurutnya, penyelenggaraan pameran tersebut merupakan bukti nyata komitmen pemerintah dalam mendukung pengembangan sektor hortikultura dari hulu hingga hilir.
"Pemerintah bersama pelaku usaha hortikultura seluruh Indonesia ingin menunjukkan bahwa kita memiliki buah, sayur, tanaman obat, dan tanaman hias unggulan asli Indonesia. Melalui pameran ini masyarakat dapat mengenal, merasakan, dan pada akhirnya mencintai produk hortikultura lokal kita," ujar Freddy.
Ia menambahkan seluruh peserta yang mengikuti pameran merupakan petani dan pelaku usaha yang memiliki keyakinan terhadap kualitas produknya sehingga perlu diberikan ruang promosi yang lebih luas.
Freddy mencontohkan sejumlah produk unggulan yang dipamerkan, antara lain jeruk dan salak Bali, manggis, mangga, hingga keripik salak dari Wonosobo yang mendapat perhatian besar dari para pengunjung.
Lebih dari sekadar pameran, Nusa Horti juga difungsikan sebagai sarana business matching yang mempertemukan buyer dengan pelaku usaha sehingga membuka peluang transaksi bisnis yang berkelanjutan.
"Kami berharap setelah pengunjung datang, mengenal dan mencicipi produknya, mereka tertarik membeli kembali. Karena itu kami menjembatani dengan sarana business matching agar terjadi transaksi lanjutan antara buyer dan pelaku usaha hortikultura Indonesia," katanya.
Dalam mendukung pemasaran produk hortikultura nasional, Kementerian Pertanian juga menggandeng Asian Development Bank (ADB) dan International Fund for Agricultural Development (IFAD) melalui program Horticulture Development in Dryland Areas Project (HDDAP).
Melalui proyek tersebut, pemerintah tengah mengembangkan Project Management Information System (PMIS), sebuah platform digital yang mengintegrasikan informasi budidaya, promosi, hingga pemasaran hortikultura secara daring untuk memperluas akses pasar.
Sementara itu, Direktur Buah dan Florikultura Direktorat Jenderal Hortikultura, Fausiah T. Ladja, menyampaikan Indonesia memiliki modal besar untuk menjadi pemain utama hortikultura dunia berkat kekayaan biodiversitas yang dimiliki.
Ia optimistis Nusa Horti dapat menjadi momentum penting untuk mengangkat buah dan florikultura Indonesia ke pasar internasional sebagaimana keberhasilan Nusatic menjadikan Indonesia sebagai pemimpin dunia di sektor ikan hias.
"Kita ingin mengikuti jejak Nusatic. Ikan hias Indonesia sudah menjadi jawara dunia. Dengan keanekaragaman buah dan florikultura yang kita miliki, saya yakin Indonesia tidak akan kalah. Targetnya jelas, 10 tahun ke depan buah dan florikultura Indonesia harus menjadi nomor satu di dunia," tegas Fausiah.
Salah satu komoditas yang menjadi fokus pengembangan ekspor adalah durian, seiring terbukanya peluang kerja sama dengan Tiongkok yang membuka akses bagi ekspor durian Indonesia ke pasar negara tersebut.
Meski demikian, Fausiah menilai tantangan terbesar saat ini terletak pada aspek branding dan penguatan identitas komoditas unggulan nasional.
"PR kita sekarang adalah bagaimana membranding buah-buah Indonesia. Misalnya durian, durian Indonesia yang mana yang akan kita dorong dan kita kenalkan ke pasar dunia. Karena itu peran asosiasi, pelaku usaha, dan pemerintah harus disatukan dalam satu gerakan besar," ujarnya.
Untuk mempercepat pencapaian target tersebut, Kementerian Pertanian akan menggelar forum bersama berbagai asosiasi buah dan florikultura guna menyusun strategi pengembangan ekspor yang lebih agresif dan terintegrasi.
"Kita akan melakukan brainstorming bersama asosiasi untuk menentukan arah pengembangan buah dan florikultura Indonesia ke depan. Jangan sampai sektor ini tertinggal hanya karena fokus pemerintah saat ini lebih banyak pada swasembada pangan," katanya.
Kepala Ketua Kelompok Substansi (KAPOKSI) Pemasaran Direktorat Jenderal Hortikultura, Dina Martha Susilawati, mengungkapkan antusiasme masyarakat terhadap stan hortikultura sangat tinggi sejak hari pertama pameran dibuka.
Kapoksi Pemasaran Hortikultura itu juga membeberkan jika Kepala Badan Karantina Indonesia, Abdul Kadir Karding bersama jajaran pimpinan penyelenggara telah mengunjungi stan hortikultura dan memberikan apresiasi terhadap keberagaman produk yang ditampilkan.
"Mereka sangat takjub dengan produk-produk yang ditampilkan. Ini menunjukkan stan hortikultura menjadi ajang promosi yang efektif untuk memperlihatkan keanekaragaman produk, pelaku usaha, sekaligus pola kemitraan antara pemerintah dan dunia usaha," ujar Dina.
Ia menyebutkan hanya dalam beberapa jam setelah pembukaan, stan hortikultura telah dikunjungi ratusan pengunjung dengan melibatkan 15 pelaku usaha binaan Direktorat Jenderal Hortikultura.
Dina juga mengungkapkan sejumlah buyer telah meminta kontak pelaku usaha untuk menindaklanjuti peluang kerja sama, bahkan salah satu penerbit nasional menunjukkan minat untuk menjajaki potensi bisnis di sektor hortikultura Indonesia.
Ajang Nusa Horti yang berlangsung pada 12–14 Juni 2026 dan dibuka secara resmi oleh Kepala Badan Karantina Indonesia menjadi momentum penting untuk memperkuat promosi, memperluas jejaring bisnis, dan mempercepat transformasi Indonesia menuju salah satu kekuatan utama hortikultura dunia melalui kolaborasi antara pemerintah, petani, pelaku usaha, asosiasi, dan mitra internasional.(*/ADV)
5 jam yang lalu
7 jam yang lalu
You must login to comment...
Be the first comment...