11 jam yang lalu
Pangannews.id - Buah tanpa biji kerap dianggap sebagai hasil tanaman yang tidak lagi mampu bereproduksi. Anggapan itu ternyata tidak sepenuhnya benar.
Menurut Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University, Prof Sobir, tanaman penghasil buah tanpa biji tetap dapat berkembang biak melalui mekanisme biologis maupun teknik budidaya tertentu.
"Buah tanpa biji dapat terbentuk melalui mekanisme biologis alami tertentu maupun perlakuan buatan, sehingga tanaman tetap dapat berkembang biak dengan cara lain," kata Prof Sobir, dikutip dari laman IPB University.
Ia menjelaskan, semangka tanpa biji merupakan contoh yang paling umum. Buah tersebut dihasilkan dari persilangan tanaman tetraploid dan diploid yang menghasilkan tanaman triploid.
Karena memiliki jumlah kromosom yang tidak seimbang, tanaman triploid tidak mampu membentuk biji secara normal.
Meski demikian, tanaman tetap membutuhkan proses penyerbukan agar buah dapat berkembang.
"Penyerbukan menginduksi pembentukan buah, tetapi karena ketidakseimbangan kromosom, biji tidak berkembang sempurna sehingga buah yang dihasilkan praktis tanpa biji," ujarnya.
Selain melalui persilangan, buah tanpa biji juga dapat terbentuk ketika penyerbukan berlangsung tetapi proses pembuahan gagal. Kondisi tersebut membuat bakal buah tetap berkembang, sementara biji tidak terbentuk atau hanya menjadi biji kosong.
Cara lain yang digunakan adalah pemberian hormon tumbuhan seperti auksin dan giberelin. Perlakuan ini mampu merangsang bakal buah tumbuh tanpa melalui proses pembuahan.
"Di Jepang, misalnya, bunga yang belum mekar dicelupkan ke dalam larutan giberelin sehingga buah dapat berkembang tanpa menghasilkan biji. Teknik serupa juga telah diterapkan pada tanaman tomat," kata Prof Sobir.
Meski buah yang dipanen tidak memiliki biji, bukan berarti tanaman tersebut tidak bisa dibudidayakan. Pada semangka tanpa biji, misalnya, benih tetap diproduksi dari tanaman induk diploid dan tetraploid yang masih menghasilkan biji.
Sementara itu, berbagai tanaman buah tanpa biji lainnya diperbanyak secara vegetatif, seperti melalui sambung pucuk, cangkok, atau kultur jaringan.
"Dengan demikian, ketiadaan biji pada buah yang dikonsumsi tidak berarti tanaman kehilangan kemampuan untuk diperbanyak," ujarnya.
Di sisi konsumen, buah tanpa biji memang lebih praktis karena mudah dikonsumsi. Namun, Prof Sobir mengingatkan bahwa keunggulan tersebut belum tentu diikuti kualitas rasa yang lebih baik.
Ia menjelaskan, proses penyerbukan dan pembuahan berperan dalam pembentukan senyawa yang ikut memengaruhi cita rasa buah.
Karena itu, beberapa jenis buah tanpa biji justru dinilai kurang manis dibandingkan buah berbiji. Salah satu contohnya adalah semangka tanpa biji yang, menurutnya, kurang diminati di Jepang karena kalah dari sisi rasa.
Selain itu, ia mengingatkan pengembangan buah tanpa biji juga perlu memperhatikan keragaman genetik tanaman. Jika varietas tanpa biji terlalu mendominasi, keanekaragaman genetik dapat menyusut sehingga tanaman menjadi lebih rentan terhadap perubahan iklim, hama, maupun penyakit.
"Oleh karena itu, sumber daya genetik, termasuk tanaman tetua, perlu terus dipertahankan melalui kebun koleksi dan program pemuliaan," kata Prof Sobir.
Menurutnya, inovasi pengembangan buah sebaiknya tidak hanya berorientasi pada menghilangkan biji. Alternatif seperti menghasilkan buah dengan biji yang lebih kecil atau terkonsentrasi pada bagian tertentu dinilai dapat menjadi solusi agar buah tetap nyaman dikonsumsi tanpa mengorbankan cita rasa maupun keberlanjutan sumber daya genetik tanaman.
"Inovasi buah sebaiknya menjaga keseimbangan antara kebutuhan konsumen, kualitas produk, dan kelestarian sumber daya genetik tanaman," tutupnya.
Editor : Adi Permana
Selasa, 04 Agustus 2026 10:15 WIB
Kamis, 30 Juli 2026 12:48 WIB
Rabu, 29 Juli 2026 14:54 WIB
You must login to comment...
Be the first comment...