Rumput Laut Sargassum Berpotensi Jadi Sabun hingga Pupuk Organik

Pers Pangannews

13 jam yang lalu

news
Rumput laut sargassum. (Foto : Ilustrasi/telaah.id)

Pangannews.id - Selama ini rumput laut cokelat Sargassum belum banyak dimanfaatkan masyarakat. Padahal, tanaman laut yang banyak ditemukan di wilayah pesisir itu berpotensi diolah menjadi berbagai produk bernilai ekonomi, mulai dari sabun cair ramah lingkungan hingga pupuk organik.

Potensi tersebut tengah dikembangkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama The University of Queensland, Australia, melalui riset pemanfaatan Sargassum untuk menghasilkan produk yang lebih bernilai sekaligus mendukung perekonomian masyarakat pesisir.

Dilansir dari laman resmi BRIN, Peneliti Pusat Riset Biomassa dan Bioproduk BRIN Rossy Choerun Nissa mengatakan salah satu inovasi yang berhasil dikembangkan adalah ekoenzim berbahan dasar Sargassum.

Berdasarkan hasil pengujian laboratorium, ekoenzim tersebut mampu menghambat pertumbuhan bakteri patogen seperti Escherichia coli dan Staphylococcus aureus.

Kemampuan itu didukung kandungan senyawa bioaktif dalam Sargassum, seperti tanin, saponin, flavonoid, dan alkaloid yang memiliki sifat antimikroba.

"Inovasi ekoenzim ini juga berpotensi dikembangkan menjadi berbagai produk turunan, seperti sabun cair yang ramah lingkungan," kata Rossy.

Tak hanya itu, ekoenzim berbahan dasar Sargassum juga dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik cair, membantu menghilangkan residu pestisida dan bakteri, mengurangi bau sampah, memperbaiki kualitas air limbah domestik, hingga menjadi cairan pembersih lantai, dapur, dan kamar mandi.

Rossy menjelaskan proses pembuatannya merupakan pengembangan dari metode pembuatan ekoenzim konvensional. Sargassum terlebih dahulu dicacah, diblender, lalu disaring untuk diambil ekstraknya.

Cairan tersebut kemudian dicampur dengan molase, air bersih, dan larutan EM4 sebelum difermentasi selama enam minggu hingga menjadi ekoenzim.

Selain dapat diolah menjadi ekoenzim, Sargassum juga menyimpan potensi untuk berbagai industri.

Peneliti Pusat Riset Teknologi Lingkungan dan Teknologi Bersih BRIN Novi Fitria mengatakan rumput laut tersebut mengandung alginat yang banyak digunakan sebagai pengental alami, fucoidan yang berpotensi dimanfaatkan di bidang kesehatan, polifenol sebagai antioksidan, manitol sebagai sumber energi alami, serta karotenoid yang dapat dimanfaatkan sebagai pewarna alami.

Sementara itu, Peneliti Pusat Riset Elektronika BRIN Athanasia Amanda Septevani menambahkan bahwa pemanfaatan Sargassum tidak berhenti pada produk yang langsung digunakan masyarakat.

Ke depan, rumput laut tersebut juga akan dikembangkan sebagai biomaterial berkelanjutan untuk mendukung inovasi material fungsional, termasuk elektronika hijau.

Menurut Amanda, pemanfaatan Sargassum diharapkan tidak hanya meningkatkan nilai tambah sumber daya pesisir, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat sekaligus mendukung pelestarian lingkungan.

Pengembangan teknologi tersebut merupakan bagian dari riset kolaborasi BRIN dan The University of Queensland melalui pendanaan joint research BRIN-KONEKSI Australia.

Hasil riset itu juga mulai diperkenalkan kepada masyarakat melalui pelatihan pemanfaatan Sargassum menjadi ekoenzim di Kalurahan Duwet, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Editor : Adi Permana


Kolom Komentar

You must login to comment...