Kimpul Mendadak Viral, Ini Potensinya Menurut Pakar Gizi UNAIR

Pers Pangannews

23 jam yang lalu

news
Kimpul berpotensi untuk dikembangkan sebagai sumber karbohidrat alternatif.

Pangannews.id - Kimpul belakangan ramai di media sosial Instagram dan Tiktok, setelah muncul dalam berbagai konten masakan. Umbi lokal dari keluarga talas-talasan itu ditampilkan dalam beragam olahan, mulai dari mashed potato hingga seblak.

Di balik tren tersebut, kimpul memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai sumber karbohidrat alternatif. Namun, kimpul dinilai lebih tepat menjadi bagian dari diversifikasi pangan daripada menggantikan nasi sepenuhnya.

Dosen Program Studi Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga (UNAIR), Lailatul Muniroh SKM MKes, mengatakan kimpul memiliki kandungan serat dan karakteristik pati yang baik.

“Sebenarnya, potensi kimpul cukup besar sebagai sumber karbo alternatif, tetapi bagi masyarakat Indonesia yang sebagian besar memiliki pemikiran ‘Kalau belum makan nasi, berarti belum makan’, sepertinya kimpul hanya lebih tepat sebagai pangan diversifikasi dan substitusi parsial, bukan pengganti beras atau nasi,” ujar Lailatul, dilansir dari laman UNAIR.

Menurutnya, kimpul dapat dikonsumsi dengan cara dikukus atau direbus. Umbi tersebut juga dapat diolah menjadi tepung untuk berbagai produk pangan.

Tepung kimpul dinilai memiliki potensi besar untuk menggantikan sebagian penggunaan terigu. Olahannya dapat berupa cookies, biskuit, brownies, cake, bolu, pancake, keripik, hingga stik.

Tepung tersebut juga dapat dikombinasikan dengan sumber protein untuk membuat bubur, makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI), dan biskuit fortifikasi.

Viral Jangan Berhenti Jadi Tren

Lailatul menilai popularitas kimpul di media sosial bisa menjadi kesempatan untuk mengenalkan kembali pangan lokal kepada masyarakat. Namun, tren tersebut berpotensi cepat berlalu jika kimpul hanya dianggap sebagai sesuatu yang unik.

“Terlebih jika kimpul diposisikan sebagai sesuatu yang unik tanpa ada alasan untuk mengonsumsinya kembali. Tetapi saat kimpul sedang tren, hal ini menjadi alarm baik karena dapat menjadi sorotan masyarakat untuk ikut penasaran dan mencoba,” katanya.

Jika masyarakat kemudian menyukai dan mengonsumsi kimpul secara berulang, tren tersebut dapat berkembang menjadi kebiasaan konsumsi. Kondisi itu bisa menjadi pintu masuk bagi diversifikasi pangan.

Persoalannya, kata Lailatul, bukan terutama pada ketersediaan kimpul, melainkan kebiasaan masyarakat yang sudah terbiasa menjadikan nasi sebagai makanan utama. Pengolahan kimpul juga harus dilakukan dengan tepat, termasuk untuk mengurangi rasa gatal.

Agar lebih mudah diterima, diperlukan pengembangan produk yang menarik dan sesuai dengan kebiasaan konsumsi berbagai kelompok, termasuk generasi milenial, Gen Z, dan Gen Alpha.

Pemerintah, akademisi, pelaku usaha, masyarakat, dan media dinilai memiliki peran agar momentum viral kimpul tidak berhenti sebagai konten.

“Kuncinya dengan mengubah viralitas menjadi kebiasan, seperti peran pemerintah untuk menjamin produksi, distribusi, harga, dan memasukkan pangan lokal dalam program pangan,” ujar Lailatul.

Editor : Adi Permana


Kolom Komentar

You must login to comment...