1 jam yang lalu
Pangannews.id – Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengusulkan konsep pelaksanaan Makan Bergizi Gratis (MBG) ditinjau ulang, terutama dalam hal keamanan pangan. Salah satu usulannya, makanan MBG dimasak dan disajikan langsung di kantin sekolah.
Ketua Umum IDAI Piprim Basarah Yanuarso mengatakan cara tersebut dinilai dapat membuat makanan lebih hangat dan segar ketika dikonsumsi siswa. Penyajiannya juga bisa dibuat lebih menarik dan menyesuaikan selera anak, misalnya dengan konsep prasmanan.
“Standar keamanan pangan itu sangat ketat dan tidak bisa ditawar-tawar lagi,” kata Piprim.
Usulan itu disampaikan Piprim menyusul kejadian keracunan yang berulang dalam pelaksanaan program nasional tersebut. Menurut dia, persoalan keracunan tidak semestinya hanya dilihat sebagai angka statistik karena dampaknya juga dirasakan oleh keluarga penerima manfaat.
Bagi orang tua, kata dia, kejadian keracunan membuat mereka merasa sedih dan khawatir. Karena itu, niat memberikan asupan gizi kepada anak harus berjalan beriringan dengan jaminan bahwa makanan yang diberikan aman dan memenuhi standar.
Piprim pun merekomendasikan agar konsep MBG dievaluasi secara objektif dan menyeluruh. Menurut dia, memastikan keamanan pangan harus menjadi bagian utama dalam pelaksanaan program.
Pandangan serupa disampaikan Prof Dr Damayanti Rusli dari Unit Kerja Koordinasi (UKK) Nutrisi dan Penyakit Metabolik IDAI. Ia menjelaskan bahwa keracunan pangan dapat berasal dari makanan maupun dari cara makanan tersebut diolah.
“Yang kedua adalah si orang sendiri, orang tersebut yang menyebabkan hazardnya tadi. Jadi, bisa dari makanannya, bisa dari perilakunya untuk mengolah makanan,” katanya.
Damayanti menyebut food-based hazard dapat berasal dari paparan kimia maupun fisik pada makanan. Contohnya antara lain bakteri, jamur, cacing, dan pestisida.
Sementara dari sisi pengolahan, risiko dapat muncul ketika makanan mentah dicampur dengan makanan yang sudah matang, makanan disimpan pada temperatur yang tidak tepat, atau bahan makanan tidak dicuci dengan bersih.
Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2015, satu dari 10 orang mengalami keracunan makanan. Kondisi tersebut, kata Damayanti, bahkan dapat menyebabkan kematian.
Ia mengingatkan kelompok tertentu memiliki risiko lebih tinggi ketika mengalami keracunan makanan, termasuk lansia dan anak-anak berusia di bawah lima tahun.
“Nah, siapa yang sangat sensitif terhadap keracunan tersebut? Satu adalah lansia, kemudian anak-anak di bawah 5 tahun. Jadi, nanti kalau MBG-nya sudah masuk ke 3B, ini lebih lagi, risikonya lebih besar. Kemudian orang-orang yang daya tahan tubuhnya rendah,” katanya.
Editor : Adi Permana
2 jam yang lalu
Kamis, 10 September 2026 08:58 WIB
Rabu, 09 September 2026 06:30 WIB
Senin, 07 September 2026 17:54 WIB
You must login to comment...
Be the first comment...