Mendag Ungkap Penyebab Harga Cabai Masih Tinggi

Pers Pangannews

12 jam yang lalu

news
Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso. (Foto: ANTARA)

Pangannews.id - Harga cabai masih bergerak di atas harga acuan. Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan kondisi cuaca dan faktor musim menjadi salah satu penyebab produksi cabai menurun sehingga berdampak pada pasokan dan harga di pasar.

Berdasarkan data Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) Kementerian Perdagangan, harga rata-rata nasional cabai rawit merah kini mencapai Rp81.252 per kilogram. Sementara harga acuannya berada di level Rp57.000 per kilogram.

Harga cabai merah keriting juga tercatat tinggi. Rata-rata nasionalnya mencapai Rp69.883 per kilogram, sedangkan harga acuannya sebesar Rp55.000 per kilogram.

Budi mengatakan penurunan produksi memang menjadi salah satu faktor yang memengaruhi harga cabai. Kondisi tersebut berkaitan dengan cuaca dan siklus musim tertentu.

“Cabai ini kan salah satu faktornya adalah faktor produksi, termasuk juga faktor musiman. Pada musim tertentu, apalagi sekarang ini memang produksinya lagi turun,” ujar Budi, Kamis (8/10/2026).

Ia menyebut harga rata-rata cabai rawit saat ini berada di kisaran Rp70.000 per kilogram, lebih tinggi dibandingkan HAP yang sekitar Rp57.000 per kilogram.

Untuk menjaga ketersediaan pasokan, pemerintah telah berkomunikasi dengan asosiasi petani cabai. Upaya tersebut diarahkan untuk mendorong peningkatan produksi di tengah kondisi produksi yang menurun akibat faktor cuaca.

Sementara itu, harga telur ayam ras masih berada di bawah harga acuan. Harga rata-rata nasionalnya sekitar Rp26.800 per kilogram, sedangkan harga acuan ditetapkan Rp30.000 per kilogram.

Menurut Budi, harga telur juga perlu dijaga agar tidak jatuh terlalu rendah. Harga yang berada di bawah biaya produksi berisiko membuat peternak menghentikan usahanya.

“Jangan sampai harga terlalu rendah, nanti peternak tutup. Kalau peternak tutup ya telur nggak ada, terus telur langka dan telur menjadi mahal,” pungkasnya.

Editor : Adi Permana


Kolom Komentar

You must login to comment...