Langsung ke konten
PANGANNEWS.ID

Futechi Farm ITS, Inovasi Kandang Ayam yang Bisa Dikendalikan dari Ponsel

Bagikan
Salah satu anggota peneliti Khoerunnisa Utami saat demo menjalankan sistem melalui aplikasi Futechi Farm melalui gawai pintar. (Foto : ITS)
Salah satu anggota peneliti Khoerunnisa Utami saat demo menjalankan sistem melalui aplikasi Futechi Farm melalui gawai pintar. (Foto : ITS)

Pangannews.id - Tim mahasiswa Departemen Teknik Mesin Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengembangkan Futechi Farm, sistem kandang ayam petelur berbasis otomasi Internet of Things (IoT) yang dirancang untuk meningkatkan efisiensi peternakan.

Inovasi ini mengintegrasikan sejumlah pekerjaan kandang, mulai dari pemberian pakan hingga pemantauan kesehatan ayam.

Futechi Farm dikembangkan oleh tujuh mahasiswa program S1 dan S2 Teknik Mesin ITS, yakni Muhammad Samsuddin, Khoerunnisa Utami, Yusran Ardian Hamissy, Risky Firmansyah, Muhammad Tabranie, Osama Ilham Prasetya Putra, dan Achmad Rizky Tri Wibowo.

Ketua tim inovator, Muhammad Samsuddin, mengatakan pengelolaan peternakan ayam petelur masih banyak mengandalkan tenaga manusia untuk menjalankan kegiatan sehari-hari.

Cara tersebut membutuhkan waktu dan tenaga kerja yang tidak sedikit, sekaligus meningkatkan biaya operasional, terutama pada peternakan berskala besar.

“Kondisi tersebut tentunya menghabiskan waktu, tenaga kerja, hingga biaya operasional yang sangat besar, khususnya pada peternakan dengan skala yang besar,” kata Samsuddin, dikutip dari laman resmi ITS.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, tim mengembangkan sistem yang memungkinkan peternak mengatur berbagai aktivitas kandang melalui satu platform.

Futechi Farm dilengkapi fitur pemberian pakan otomatis, pemantauan suhu, pengumpulan telur otomatis, serta pendeteksian indikasi penyakit pada ayam.

Pemberian pakan dapat diatur berdasarkan jadwal dan dikendalikan melalui panel kontrol maupun ponsel pintar.

Sistem ini juga menyediakan pengaturan jadwal vaksinasi dan sterilisasi untuk membantu peternak menjalankan perawatan ayam serta menjaga kebersihan kandang secara teratur sesuai usia ayam.

Tim turut menggunakan kecerdasan buatan untuk membantu mendeteksi indikasi penyakit pada ayam, terutama dalam populasi yang besar.

Dengan kemampuan tersebut, peternak diharapkan dapat mengenali potensi gangguan kesehatan lebih awal dan mengambil tindakan sebelum berdampak pada produksi telur.

“Adanya fitur ini memungkinkan bagi peternak untuk mengobati ayam sebelum jatuh sakit dan produksi telur dapat tetap optimal,” ujar Samsuddin.

Kandang dirancang untuk mempermudah perawatan

Futechi Farm juga memiliki perbedaan pada konstruksi kandangnya. Jika kandang konvensional umumnya masih menggunakan bambu, inovasi mahasiswa ITS ini memanfaatkan material weld mesh.

Struktur tersebut memungkinkan kotoran ayam langsung jatuh ke bagian bawah kandang sehingga proses pembersihan dan pemeliharaan lebih praktis.

Selain mengotomatisasi pekerjaan, tim merancang sistem yang mendukung efisiensi penggunaan pakan serta mengintegrasikan pengelolaan kotoran ayam dengan kolam lele.

Konsep ini dikembangkan dengan mempertimbangkan kapasitas usaha peternakan kecil dan menengah.

Samsuddin, yang juga berprofesi sebagai Manufacturing Designer, mengatakan teknologi peternakan modern seharusnya tidak hanya dapat dimanfaatkan oleh industri berskala besar. Melalui Futechi Farm, tim ingin membantu peternak lokal beralih ke sistem yang lebih efisien dan berkelanjutan.

“Jadi, kami mendorong transformasi peternakan konvensional menuju sistem yang lebih modern, efisien, dan berkelanjutan demi penguatan ketahanan pangan nasional,” katanya.

Terjual ke Bangkalan dan Papua

Riset Futechi Farm dimulai pada awal Januari 2026. Inovasi tersebut telah mencatatkan penjualan dua unit platform senilai total Rp70 juta ke Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur. Tim juga berhasil menjual satu unit lainnya senilai Rp35 juta ke Papua.

Pengembangan bisnis Futechi Farm mendapat dukungan pendanaan Asian Development Bank (ADB) dan ITS melalui program HETI. Tim juga memperoleh pendampingan bisnis dari Inkubator dan Layanan Bisnis Inovatif (ILBI), Direktorat Inovasi dan Kawasan Sains Teknologi (DIKST) ITS.

Rektor ITS Prof. Dr. (HC) Ir. Bambang Pramujati, S.T., M.Sc.Eng., Ph.D., mengatakan ITS terus mendorong agar riset mahasiswa dapat diterapkan untuk menjawab persoalan di masyarakat, bukan berhenti sebagai konsep akademik.

Melalui pendanaan, pembinaan, dan kemitraan, ITS berupaya mendorong inovasi mahasiswa agar memberikan dampak nyata bagi pengembangan sumber daya manusia dan perekonomian nasional.

“Selalu saya dorongkan peran mahasiswa dan lulusan ITS untuk memberikan dampak nyata bagi pengembangan SDM dan perekonomian nasional,” ujar Bambang.

Bidik ekosistem digital peternakan

Tim Futechi Farm berencana memperluas pengembangan teknologi tersebut menjadi ekosistem digital yang menghubungkan seluruh aktivitas bisnis peternakan, mulai dari produksi hingga pemasaran dan pembiayaan usaha.

Salah satu rencana pengembangannya adalah memasang sensor penghitung telur pada konveyor. Sensor tersebut nantinya dapat mencatat jumlah produksi harian secara otomatis melalui aplikasi Futechi Farm.

Tim juga merencanakan pengembangan sistem distribusi pakan otomatis dari gudang ke kandang, serta pendampingan peternakan berdasarkan usia dan kebutuhan ayam.

Pengembangan pakan berbasis mikroalga turut masuk dalam agenda berikutnya. Samsuddin mengatakan tim sedang mendiskusikan kolaborasi riset mengenai pakan tersebut dengan dosen Departemen Biologi ITS.

Di sisi pemasaran, tim ingin membangun platform yang mempertemukan peternak secara langsung dengan pembeli berskala besar, distributor, dan mitra industri.

“Kami ingin Futechi Farm menjadi sarana yang mempertemukan peternak dengan distributor maupun mitra industri yang lebih luas,” kata Samsuddin.

Editor : Adi Permana

Ditulis olehPers Pangannews
Lihat Semua

Komentar Pembaca

Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

PANGANNEWS.ID

Jelajahi kanal