Keren, Indonesia Sukses Bangun Industri Gula Terintegrasi di Rawa

Jurnalis Pangannews

Minggu, 21 Mei 2023 14:00 WIB

news
Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika, (kiri). (Istimewa)

PanganNews.id, Sumsel - Pemerintah Indonesia melalui kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong peningkatan produktivitas dan pengembangan industri gula, terutama melalui konsep terintegrasi dengan perkebunan tebu, baik di wilayah dataran tinggi maupun lahan rawa.

Langkah itu dilakukan untuk mengakselerasi pemenuhan kebutuhan gula yang kian meningkat baik untuk memenuhi kebutuhan masyarakat maupun untuk bahan baku bagi sejumlah sektor industri penggunanya.

Pasalnya Indonesia sudah membuat industri gula yang terintegrasi di lahan rawa yang berlokasi di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan. Perkebunan itu sekaligus menjadi perkebunan pertama di Indonesia yang berada di lahan rawa. 

"Perkebunan ini dikembangkan oleh PT Pratama Nusantara Sakti (PT PNS) sejak tahun 2009," kata Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika, dalam keterangannya, Minggu 21 Mei 2023.

Kata dia, PT PNS melakukan penanaman tebu pertama kali pada tahun 2013, dan sampai tahun 2022 telah menanam seluas 11.400 hektare termasuk program kemitraan seluas 211 hektare yang melibatkan tidak kurang 133 KK.

Tanaman tebu di lahan rawa ternyata di atas rata-rata produktivitas tanaman tebu nasional, yaitu mencapai 100 ton/ha.

PT PNS, kata dia telah menyelesaikan pembangunan pabrik gula dengan kapasitas 6.000 ton cane per day (TCD) dan melakukan commissioning pada tahun 2020.

Produksi gula secara komersial dari tanaman tebu dimulai tahun 2021, PT PNS telah siap menambah investasi untuk meningkatkan kapasitas giling menjadi 12.000 TCD dengan upaya-upaya pembukaan lahan baru dan pengembangan kemitraan penanaman tebu menjadi 25.000 hektare.

"PT PNS adalah perusahaan pionir yang telah menyulap pemanfaatan lahan rawa menjadi perkebunan tebu produktif di Indonesia, dimana PT PNS telah berhasil melakukan alih fungsi lahan rawa (lahan marjinal) yang tidak produktif menjadi lahan produktif untuk penanaman tebu," papar dia.

Sementara, Operasional PT PNS, Deni Gunawan menyebut, usaha pemanfaatan lahan rawa sebagai lahan produksi gula tebu masih menghadapi beberapa kendala yang menyebabkan Harga Pokok Produksi (HPP) gula menjadi tinggi, seperti biaya transportasi yang tinggi untuk transportasi sarana dan prasarana meliputi alat, pupuk, dan batu bara.

"Selain itu, kesulitan untuk mendapatkan tenaga kerja perkebunan baik dari sisi jumlah maupun kualitas, serta kesulitan untuk melakukan mekanisasi pertanian dikarenakan jenis tanah marine clay yang sulit untuk mobilisasi mesin dan peralatan," papar dia. (egi)


Kolom Komentar

You must login to comment...