PanganNews.id Jakarta, - (Dilema antara pertumbuhan dan lingkungan hidup)
Oleh: M. Chairul Arifin (Purnabakti Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian RI)
Saat ini Indonesia sedang menghadapi masalah gizi yang cukup serius .Disatu sisi kita berhadapan dengan masalah gizi stunting dan wasting serta underwight. Selain itu berhadapan juga dengan masalah kekurangan zat gizi mikro di anak anak Indonesia , tetapi selain itu masaalah gizi juga berkaitan dengan kelebihan nutrisi atau salah gizi yaitu obesitas kegemukan anak anak sebagai akibat tingginya asupan gula dan garam serta makanan cepat saji . Ini menyebabkan Indonesia menghadapi masalah gizi ganda.
Kekurangan gizi tapii lebih gizi
Selain kekurangan gizi yang, menyebabkan tingginya angka tengn es, wasting , , garam serta lemak .
Tentunya kalau kurang gizi dapat ,dipenuhi dari sumbangan gizi dari berbagai pihak termasuk kontribusi makanan bergizi anak sekolah , dari tingkat TK, SD, ,SMP sampai SMA serta pondok pesantren. Ditargetkan pula dalam rangka perbaikan gizi adalah ibu ibu hamil dan calon ibu ibu hamil yang siap jadi pengantin
Upaya global
Tetapi walaupun upaya upaya tersebut telah digenjarkan oleh pemerintah tetapi upaya tersebut berhadapan dengan upaya global untuk menurunkan emisi . Sebagai negara berkembang Indonesia akan menghadapi dialektika pembangunan tersebut.
Disatu pihak mau menolong orang yang kekurangan gizi dengan mengembangkan peternakan daging sapi , daging unggas , telur dan susu . Tetapi menurut perhitungan organisasi kesehatan dunia (WHO) dalam kajiannya rencana proses . Red meat tahun 2023 menyebutkan bahwa daging merah memiliki peran penting untuk memenuhi asupan gizi dimasa penting kehidupan termasuk sebelum dan selma kehamilan dan dalam seribu hari pertama antara pembuahan dan ulang tahun ke 2 seorang anak.
Disisi lain WHO juga mengingatkan bahwa konsumsi daging merah terutama bagi orang dewasa beresiko meningkatkan penyakit tak menular . Pada 2015 Badan International untuk penelitian kanker (IARC) mengklasifasikan daging merah sebagai karsinogen.
Dari aspek lingkungan menurut penelitian ITB dan di jurnal Natur Food menghitung perbedaan emisi antarta produksi daging dan nabati yang sangat mencolok . Produksi 1 kg gandum mengeluarkan 2,5 kg emisi . Sementara produksi 1 kg daging sapi mengeluarkan 70 kg emisi.
Sistim pangan global menyumbang sekitar 16,8 CPO 2 setara dengan 30 persen Emisi gas dunia . Emisi ini dihasilkan dari proses produksi , distribusi , konsumsi hingga sampah makanan .
Produksi daging dan susu dipeternakan tersebut menjadi penyumbang besar emisi dibandibgkan sunmber pangan nabati .Selain dari besarnya lahan yang dibutuhkan untuk memberi pakan, kotoran ternak ruminansia mengeluarkan gas metan yang merupakan gas rumah kaca yang kuota cukup besar.
Berbagai upaya di tingkat global dengan mengembsngkan peternakan yang ramah lingkungan . Tetapi sejauh ini sebagian besar telah gagal turunka emisi.
Bagaimana PKH Indonesia
Dialektika tersebut akana membawa ke bijakan yang lebih memikirkan perternakan yang ramah lingkungaan dengan segala Implementasi nya
Perhitungannya dampak lingkungan menjadi bagian utama proposal usaha peternakan dan kesehatan hewan. Selama ini kita luput mengurusnya, terlalu terpaku pada usaha peternakan saja.
Mari kita mulai bahas agar pekaha, menjadi bagian dari penurunan emissi ditengah gencarnya, penurunan angka stunting. (*/Adv)


Komentar Pembaca
Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.
Masuk untuk ikut berdiskusi.
MasukBelum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.