Pangannews.id - Harga ayam hidup (livebird) di tingkat peternak mengalami penurunan tajam dalam tiga pekan terakhir. Anjloknya harga ini bahkan jauh di bawah Harga Pokok Produksi (HPP), memicu kerugian besar bagi para pelaku usaha unggas di seluruh Indonesia.
Sekretaris Jenderal Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN), Sugeng Wahyudi, menyebutkan harga ayam hidup saat ini hanya berkisar antara Rp11.500 hingga Rp12.000 per kilogram. Padahal, HPP ayam hidup mencapai Rp17.500 per kilogram.
“Ini bukan sekadar penurunan margin, tapi murni rugi. Kalau HPP-nya Rp17.500 dan dijual Rp12.000, berarti rugi Rp5.500 per kilo. Kalau berat ayamnya 2 kilogram, rugi Rp11.000. Bayangkan kalau punya 10.000 kg, tinggal dikalikan saja. Ini pukulan yang luar biasa,” kata Sugeng.
Harga ayam hidup ini juga jauh dari Harga Acuan Pembelian (HAP) yang ditetapkan pemerintah dalam Peraturan Badan Pangan Nasional (Bapanas) Nomor 5 Tahun 2022, yaitu Rp21.000 hingga Rp23.000 per kilogram.
Sugeng menjelaskan, anjloknya harga disebabkan oleh kondisi oversupply atau kelebihan pasokan ayam hidup pasca-Lebaran. Di sisi lain, daya beli masyarakat melemah, sehingga pasar tak mampu menyerap hasil produksi.
“Memang dari awal sudah diprediksi akan terjadi oversupply. Setelah Lebaran, daya beli juga menurun sehingga permintaan melemah,” jelasnya.
Kondisi ini juga berdampak pada harga produk turunan lainnya seperti karkas ayam dan telur. Namun, menurut Sugeng, dampaknya tidak separah yang dirasakan oleh peternak ayam hidup.
“Harga karkas memang ikut turun, tapi tidak seekstrem ayam hidup. Telur juga agak terganggu,” ujarnya.
Untuk menanggulangi kerugian peternak, GOPAN telah menjalin koordinasi dengan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH), Kementerian Pertanian. Sugeng berharap pemerintah segera turun tangan dalam menyerap hasil produksi peternak.
Salah satu solusi yang diajukan GOPAN adalah melibatkan peternak dalam program pencegahan stunting nasional dan memperkuat serapan ayam hidup melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Dengan melibatkan peternak lokal, program pemerintah bisa lebih tepat sasaran sekaligus membantu stabilisasi pasar unggas nasional,” tutup Sugeng.
Editor : Adi Permana


Komentar Pembaca
Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.
Masuk untuk ikut berdiskusi.
MasukBelum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.