Jumat, 01 Agustus 2025 19:06 WIB
Pangannews.id - Di tengah isu menyusutnya sumber daya air di berbagai wilayah, masyarakat Dusun Gedongan, Desa Ngemplak, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, memilih cara berbeda untuk merawat sumber air, yakni tradisi Seribu Ketupat.
Setiap tahun, warga menggelar ritual bersama di tepi Sungai Lenging, aliran air yang menjadi urat nadi pertanian dan kehidupan sehari-hari mereka. Tradisi ini bukan sekadar seremoni syukuran panen, tapi bentuk nyata kesadaran lingkungan dan sosial.
"Kalau air tidak dikelola dengan bijak, bisa jadi sumber perselisihan antarwarga. Maka tradisi ini hadir sebagai pengingat pentingnya menjaga air dan menjaga hubungan baik sesama," ujar Sri Astuwidi Subayo, Kepala Desa Ngemplak, Jumat (1/8/2025).
Dalam prosesi ini, warga membawa nasi tumpeng dan ketupat ke area aliran Sungai Lenging. Mereka memanjatkan doa bersama, kemudian makan bersama, sedangkan ketupatnya diperebutkan warga dalam suasana penuh kegembiraan.
Tradisi yang dikenal sebagai "nyadran seribu ketupat" ini berkembang dari kearifan lokal masyarakat agraris. Di balik nuansa folklor dan kebersamaan, tersembunyi pesan ekologis yang dalam, yakni menjaga sumber air bukan hanya tugas pemerintah, tetapi tanggung jawab bersama.
"Tradisi ini adalah bentuk syukur dan sekaligus pengingat. Air dari Sungai Lenging telah menghidupi kami. Sudah seharusnya kami jaga," kata Sri.
Sungai Lenging bukan sekadar aliran air, tapi sumber kehidupan dan sumber konflik potensial jika pengelolaannya tidak adil. Lewat ritual ini, masyarakat mencoba mencegah konflik itu sejak awal, dengan doa, ketupat, dan kebersamaan.
Bagi masyarakat yang menggunakan air sungai, mereka juga menyisipkan doa khusus bagi warga Gedongan. “Semoga mereka selalu mendapatkan rezeki yang cukup dan berkah,” tambahnya.
Editor : Adi Permana
Selasa, 09 Juni 2026 12:46 WIB
Selasa, 09 Juni 2026 11:51 WIB
Selasa, 09 Juni 2026 11:46 WIB
Minggu, 07 Juni 2026 14:11 WIB
You must login to comment...
Be the first comment...