Langsung ke konten
PANGANNEWS.ID

Tak Lagi Sekadar Ritual, Kemenyan Jadi Komoditas Strategis Ekspor

Bagikan
Tak lagi sekadar ritual, kemenyan jadi komoditas strategis ekspor. (Foto : pngtree)
Tak lagi sekadar ritual, kemenyan jadi komoditas strategis ekspor. (Foto : pngtree)

Pangannews.id - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mulai memacu hilirisasi komoditas kemenyan melalui pelibatan industri kecil dan menengah (IKM), dengan fokus pada pengolahan minyak atsiri sebagai produk bernilai tambah tinggi.

"Hilirisasi kemenyan memberikan nilai tambah lebih tinggi sekaligus memperkuat daya saing IKM di daerah penghasil. Ini terus kami dorong sejalan dengan agenda hilirisasi pemerintah," kata Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin, Reni Yanita.

Getah kemenyan yang dulunya identik dengan keperluan ritual dan wewangian tradisional, kini semakin luas pemanfaatannya. Melalui ekstraksi resin dan minyak atsiri, kemenyan telah digunakan dalam berbagai produk modern seperti parfum, aromaterapi, kosmetik, hingga insektisida alami.

Lebih dari sekadar aroma, Reni menyebut kemenyan juga berperan sebagai fixative alami dalam industri parfum.

“Fungsinya membuat aroma parfum lebih tahan lama dan memperhalus transisi lapisan aroma,” jelasnya.

Kemenperin menilai pelaku IKM memiliki posisi strategis dalam rantai nilai ini, mengingat kedekatan mereka dengan sumber bahan baku dan teknik penyadapan tradisional yang menjaga kualitas resin.

“Kemenyan Indonesia dikenal berkualitas tinggi dan diminati pasar global, terutama di India, Vietnam, China, Amerika Serikat, dan Prancis,” kata Reni.

Dar data Trademap.org, ekspor produk getah alam, resin, dan oleoresin Indonesia, termasuk kemenyan, mencapai 55,5 juta dolar AS pada 2024 dengan volume 43.685 ton.

Sementara itu, ekspor produk hilirisasi berupa minyak atsiri dan turunannya mencapai 42,3 juta dolar AS, meskipun volumenya jauh lebih kecil: hanya 1.776 ton.

“Ini menunjukkan bahwa nilai per ton produk hilirisasi jauh lebih tinggi dibandingkan bahan mentah. Hilirisasi kemenyan mampu memberikan nilai tambah signifikan dan memperkuat posisi Indonesia di pasar global,” lanjut Reni.

Sebagai langkah awal, Ditjen IKMA melalui Direktorat IKM Kimia, Sandang, dan Kerajinan (IKM KSK) mulai menjajaki kolaborasi dengan daerah penghasil utama, yakni Kabupaten Tapanuli Utara dan Humbang Hasundutan, Sumatra Utara. Dua wilayah ini menyumbang sekitar 80 persen produksi kemenyan dunia.

Direktur IKM KSK Budi Setiawan menyebut pihaknya tengah memetakan kondisi lapangan, mulai dari jenis tanaman, proses penyulingan, rantai pasok, hingga program pembinaan yang telah berjalan.

“Dengan begitu, kami bisa identifikasi aspek yang perlu diperkuat melalui pembinaan Kemenperin,” kata Budi.

Dia menambahkan, langkah lanjutan akan melibatkan lebih banyak pemangku kepentingan, dari Kementerian atau lembaga lain hingga asosiasi dan pemerintah daerah. Tujuannya adalah membangun ekosistem hilirisasi kemenyan yang berkelanjutan dan berbasis lokal.

“Dengan kebijakan yang tepat, kolaborasi lintas sektor, dan inovasi dari IKM, pengolahan minyak atsiri dari kemenyan bisa jadi penggerak baru ekspor industri berbasis sumber daya lokal,” tegasnya.

Kemenyan asal Tapanuli Utara telah memperoleh sertifikasi Indikasi Geografis (IG) dari Kementerian Hukum dan HAM pada 2025. Sertifikasi ini memberi perlindungan hukum sekaligus memperkuat posisi tawar petani dan pelaku industri lokal di pasar nasional maupun global.

Editor : Adi Permana

Ditulis olehPers Pangannews
Lihat Semua

Komentar Pembaca

Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

PANGANNEWS.ID

Jelajahi kanal