Langsung ke konten
PANGANNEWS.ID

Hindari Gorengan, Pilih Kukus dan Rebus untuk Lindungi Tubuh dari Peradangan

Bagikan
Hindari gorengan, pilih kukus dan rebus untuk lindungi tubuh dari peradangan. (Foto : Pixabay)
Hindari gorengan, pilih kukus dan rebus untuk lindungi tubuh dari peradangan. (Foto : Pixabay)

Pangannews.id - Cara memasak ternyata berperan besar dalam menjaga kesehatan tubuh. Penelitian terbaru menemukan bahwa metode memasak berbasis air seperti mengukus, merebus, atau memasak perlahan terbukti dapat mengurangi senyawa pemicu peradangan dalam tubuh hingga 50 persen.

Temuan ini berasal dari studi ilmiah yang dilakukan tim peneliti Belgia dan diterbitkan di jurnal Cell Reports Medicine.

Studi tersebut menemukan bahwa penggunaan panas tinggi dalam memasak dapat meningkatkan pembentukan Advanced Glycation End Products (AGE), senyawa hasil reaksi antara gula dan protein yang berperan dalam proses penuaan, peradangan, dan berbagai penyakit kronis. Sebaliknya, memasak dengan suhu rendah dan kelembapan tinggi mampu menekan pembentukan AGE secara signifikan.

“Janji realistisnya bukan memutar waktu, tapi menurunkan beban peradangan tubuh,” ujar Ed McCormick, konsultan ilmu pangan asal New Jersey dan CEO Cape Crystal Brands, dikutip dari Antara.

McCormick menjelaskan, suhu ideal untuk menjaga kadar AGE tetap rendah adalah sekitar 212 derajat Fahrenheit (100 derajat Celsius). Pada suhu ini, reaksi Maillard, yakni proses kimia yang menyebabkan makanan berwarna coklat dan beraroma caramel, dapat ditekan.

“Gunakan metode berbasis kelembapan seperti slow cooker atau panci presto untuk menambah kadar air dan mencegah pencoklatan berlebih,” ujarnya.

Ia juga menyarankan agar daging atau hidangan utama yang dipanggang dikombinasikan dengan sayuran kukus atau rebus, agar kelembapan tetap terjaga dan efek panas tinggi berkurang.

Selain itu, riset dari Mount Sinai menemukan bahwa merendam daging dalam jus lemon atau cuka selama satu jam sebelum dimasak dapat mengurangi pembentukan AGE hingga separuhnya. Peneliti juga menganjurkan agar proses memasak dilakukan dengan suhu lebih rendah, waktu singkat, dan wadah tertutup untuk hasil yang optimal.

Beberapa penelitian tambahan menyebutkan, menambahkan rempah dan herbal kaya antioksidan seperti rosemary, thyme, oregano, dan bawang putih juga dapat membantu menetralkan efek samping panas tinggi pada makanan.

“Untuk rasa, andalkan bahan alami seperti miso, jamur, jeruk, atau cuka. Jika ingin tekstur, panggang sebentar di akhir proses,” kata McCormick.

Sementara itu, metode memasak dengan suhu tinggi seperti menggoreng, memanggang, membakar, atau mengasap terbukti meningkatkan kadar AGE hingga seratus kali lipat dibandingkan bahan mentah, sebagaimana ditemukan dalam studi Mount Sinai tahun 2004.

Jenis makanan hewani seperti daging berurat, kulit ayam, bacon, dan keju disebut paling rentan membentuk senyawa tersebut.

Dalam jangka panjang, penumpukan AGE dapat mempercepat penuaan sel, menurunkan fungsi memori, serta meningkatkan risiko diabetes, penyakit jantung, ginjal, dan Alzheimer.

Penelitian observasional dari Institut Nutrisi Manusia Jerman Potsdam-Rehbruecke juga memperkuat temuan ini dengan menunjukkan keterkaitan antara kadar AGE tinggi dan gangguan metabolik kronis.

Editor : Adi Permana

Ditulis olehPers Pangannews
Lihat Semua

Komentar Pembaca

Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

PANGANNEWS.ID

Jelajahi kanal