Pangannews.id - Pemerintah mulai mengarahkan strategi pemenuhan kebutuhan energi nasional pada sumber tenaga surya, seiring komitmen memperkuat ketahanan energi dan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Pemanfaatan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) disebut menjadi sumber penting dalam agenda swasembada energi ke depan.
Tenaga Ahli Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Satya Hangga Yudha Widya Putra mengatakan, langkah ini bukan sekadar penyesuaian teknologi, melainkan strategi jangka panjang yang menempatkan energi terbarukan sebagai fondasi sistem kelistrikan nasional.
“Kita sudah berada pada titik di mana PLTS harus dioptimalkan, bukan lagi sekadar opsi. Pemerintah melihat potensi ini yang paling realistis dikembangkan besar-besaran,” kata Hangga di Tangerang, Banten, Kamis, dalam agenda Solar & Storage Live Indonesia 2025.
Menurut dia, perkembangan teknologi dalam beberapa tahun terakhir membuat energi surya semakin terjangkau, baik dari sisi produksi maupun penyimpanan daya.
Kehadiran battery energy storage system (BESS) dengan harga yang lebih kompetitif membuka peluang pemanfaatan PLTS dalam skala lebih luas, termasuk dukungan untuk pengisian kendaraan listrik.
Indonesia sendiri memiliki potensi energi terbarukan sekitar 3.687 gigawatt (GW), dan lebih dari 90 persen diantaranya bersumber dari radiasi matahari. Namun, kapasitas PLTS yang sudah terpasang baru sekitar 916 megawatt (MW), sehingga masih terdapat ruang ekspansi yang sangat besar.
Hangga mencontohkan langkah percepatan melalui program penggantian pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) dengan PLTS di sejumlah daerah, serta penggunaan PLTS atap pada skala rumah tangga 10 hingga 20 kilowatt.
Meski begitu, ia mengingatkan bahwa perlu ada penyesuaian kebijakan agar pengembangan PLTS berjalan efektif di lapangan.
Aturan mengenai PLTS atap disebut perlu ditinjau ulang, terutama menyangkut kesesuaian dengan kondisi iklim, ketersediaan lahan, serta integrasi jaringan listrik.
Selain regulasi, tantangan lain adalah kebutuhan modal awal yang masih tinggi serta sifat produksi listrik berbasis cahaya matahari yang tidak stabil sepanjang hari.
“Untuk daerah terpencil, program konversi PLTD ke PLTS tidak cukup hanya membangun pembangkitnya. Infrastruktur on-grid maupun off-grid, termasuk sistem penyimpanan energi yang kuat, harus berjalan bersamaan,” ujarnya.
Editor : Adi Permana


Komentar Pembaca
Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.
Masuk untuk ikut berdiskusi.
MasukBelum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.