Himpunan Alumni Tanah IPB Gagas Pengembangan Proyek Karbon di Sektor Pertanian

Pangannews.id

9 jam yang lalu

news
Foto: Himpunan Alumni Tanah IPB Gagas Pengembangan Proyek Karbon di Sektor Pertanian.

PanganNews.id – Himpunan Alumni Tanah IPB (HATI) menggagas hadirnya forum multipihak untuk mengembangkan proyek karbon di sektor pertanian. Proyek karbon ini dinilai juga bisa menjadi peluang ekonomi baru serta menjadi instrumen transformasi menuju pertanian produktif, adaptif dalam menghadapi perubahan iklim. 

“Dengan perubahan iklim yang semakin nyata, sektor pertanian Indonesia kini berada di persimpangan sejarah. Sejarah itu apakah menjadi korban perubahan iklim atau menjadi pahlawan mitigasi melalui carbon project yang kredibel dan berkeadilan,” kata Ketua Himpunan Alumni Tanah IPB (HATI), Agustinus Toko Susetio, dalam keterangannya kepada media, Minggu (01/03/2026). 

Pria yang akrab disapa Koko ini menyampaikan hal tersebut sebagai benang merah dari smninar bertajuk “Pengembangan Carbon Project di Sektor Pertanian” yang digelar di Auditorium Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM), IPB University Dramaga, Bogor, Sabtu (28/2).

Kegiatan yang dihadirkan sebagai road to Seminar Nasional 2026 ini menghadirkan para pihak yang berasal dari lintas kepentingan. Koko mengatakan kegiatan ini menjadi ruang konsolidasi lintas sektor karena mempertemukan akademisi, perencana pembangunan nasional, lembaga riset, pelaku pasar karbon global, hingga pengembang proyek. 

“Tujuannya untuk merumuskan arah pengembangan carbon project pertanian yang kredibel, berintegritas, dan berpihak pada kesejahteraan petani,” ujarnya.

Pada kegiatan ini, Direktur Pengembangan Karier, Kewirausahaan, dan Hubungan Alumni IPB University, Puji Mudiana, S.P., M.A., membuka acara. Ia hadir mewakili rektor IPB University Dr. Alim Setiawan Slamet. Mendampinginya adalah Kepala Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan IPB University, Dr. Ir. R.A. Dyah Tjahyandari Suryaningtyas, M.Appl.Sc. 

Dalam sambutannya, Puji Mudiana menekankan peran strategis perguruan tinggi dalam memastikan transisi ekonomi hijau berjalan berbasis sains. Ia juga mengatakan kehadiran perguruan tinggi ini sudah sepatutnya bisa memberi manfaat nyata bagi masyarakat. “Di sini menjadi penting juga adanya landasan ilmiah ilmu tanah dalam pengembangan proyek karbon pertanian,” katanya. 

Acara ini menghadirkan Dr. Prayudi Syamsuri, S.P., M.Si., wakil Ketua Umum DPP Himpunan Alumni IPB sekaligus Staf Ahli Menteri Bidang Manajemen Konektivitas pada Kementerian Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia, sebagai pembicara kunci. Hadir juga sebagai pembicara Jarot Indarto, S.P., M.T., M.Sc., Ph.D., Direktur Pangan dan Pertanian, Kementerian PPN/Bappenas; Dr. Ratih Damayanti, S.Hut., M.Si., Direktur Kebijakan Lingkungan Hidup, Kemaritiman, Sumber Daya Alam, dan Ketenaganukliran, BRIN; Erlinda Ekaputri, Country Director Wildlife Works Indonesia; serta M. Nizar Zulkarnaen, Group Lead Forestry and Nature-Based Solutions dan Partner PT Hatfield Indonesia

Prayudi Syamsuri mengatakan proyek karbon pertanian ini bisa menjadi instrumen strategis yang mampu menjembatani agenda penurunan emisi nasional dan ketahanan pangan. Namun hal itu hanya akan berhasil, kata dia, jika dibangun di atas integritas ilmiah, sistem MRV yang kredibel, tata kelola yang transparan, serta mekanisme pembagian manfaat yang adil bagi petani kecil. Di sini perlu dipertimbangkan pasar karbon global yang menuntut adanya additionality dan kredibilitas tinggi,” katanya mengingatkan. 

“Sehingga Indonesia perlu memastikan kesiapan kebijakan, teknologi, serta agregasi kelembagaan petani agar proyek karbon pertanian benar-benar bankable dan berdaya saing internasional,” ujarnya.

Dalam sesi berikutnya, Prof. Dr. Suria Darma Tarigan, Guru Besar Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan IPB University, menekankan bahwa tanah merupakan carbon sink jangka panjang yang harus diukur dan dilaporkan dengan metodologi ilmiah yang kredibel. 

Sementara itu, Prof. Dr. A. Faroby Falatehan, S.P., M.E., dosen Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB University, menggarisbawahi urgensi tata kelola proyek karbon agar selaras dengan dinamika ekonomi karbon global. Selanjutnya, Imam Basuki, Senior Wetland Specialist, menyoroti pentingnya pengelolaan lahan gambut dan ekosistem basah dalam mendukung agenda FoLU Net Sink 2030.

Diskusi yang dimoderatori oleh Haris Iskandar, Chief of Climate Solutions and Services Jejakin, mengerucut pada isu krusial, yakni biaya MRV, risiko alih fungsi lahan, potensi double counting, serta kebutuhan agregasi kelembagaan petani agar proyek menjadi layak secara ekonomi.

“Forum ini menyimpulkan bahwa Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan carbon project pertanian. Namun keberhasilan hanya dapat dicapai jika proyek berbasis sains, berintegritas tinggi, transparan, serta menjamin perlindungan sosial bagi petani sebagai aktor utama,” kata Haris Iskandar.

Koko juga menjelaskan kegiatan ini menjadi langkah awal menuju Seminar Nasional 2026 yang diharapkan menghasilkan rekomendasi kebijakan yang lebih terstruktur dan implementatif. “Dengan perubahan iklim yang semakin nyata, sektor pertanian Indonesia kini berada di persimpangan sejarah: menjadi korban perubahan iklim, atau menjadi pahlawan mitigasi melalui carbon project yang kredibel dan berkeadilan.” (*/Adv) 


Kolom Komentar

You must login to comment...