9 jam yang lalu
Pangannews.id - Sebanyak 100 siswa sekolah dasar di Kota Tangerang kini punya tugas tambahan di lingkungan sekolahnya. Mereka bukan ketua kelas atau petugas upacara, melainkan “Inspektur Pangan Cilik” yang bertugas membantu mengawasi keamanan jajanan di kantin sekolah.
Program yang dijalankan Dinas Kesehatan Kota Tangerang itu membekali para siswa kemampuan mengenali makanan yang aman dikonsumsi, termasuk mendeteksi jajanan yang mengandung bahan berbahaya.
Para siswa diajarkan mengenali cemaran fisik, biologis, hingga kimia pada makanan. Mereka juga diperkenalkan cara membaca Informasi Nilai Gizi (ING) pada kemasan produk untuk mengetahui kandungan gula, garam, dan lemak dalam makanan atau minuman yang dikonsumsi sehari-hari.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangerang Dini Anggraini mengatakan pembentukan Inspektur Pangan Cilik dilakukan karena masih ditemukannya jajanan yang tidak aman di lingkungan sekolah.
“Urgensi pembentukan Inspektur Pangan Cilik ini didasari atas temuan bahwa sekitar 17% jajanan di lingkungan sekolah masih mengandung bahan berbahaya yang tidak layak konsumsi. Melalui anak-anak ini, kita melakukan deteksi dini terhadap cemaran fisik, biologis, maupun kimia,” ujar Dini.
Menurutnya, edukasi sejak dini penting agar anak-anak mulai memahami risiko makanan yang dikonsumsi sehari-hari. Tidak hanya soal kebersihan, tetapi juga kandungan gizi yang dapat berdampak pada kesehatan dalam jangka panjang.
Selain memeriksa jajanan, para siswa juga diajarkan memahami label nutrisi pada produk kemasan. Pengetahuan itu diharapkan membuat anak-anak lebih selektif memilih makanan dan minuman.
Meinanda Salsabila Cahyani Putri, siswi SDN Perumnas II yang mengikuti program tersebut, mengaku kini lebih memahami cara memilih jajanan sehat di sekolah.
“Tugas aku membantu teman-teman tahu mana makanan yang bagus dan mana yang tidak, juga mengecek jajanan di kantin supaya teman-teman tidak salah pilih,” katanya.
Hal serupa disampaikan Keenan Arsy Mumtaz Charijfie, siswa kelas 5 SDIT Granada. Ia mengaku mulai memahami arti informasi kandungan gizi yang selama ini kerap diabaikan saat membeli makanan kemasan.
“Sekarang aku tahu cara melihat informasi nilai gizi, seperti berapa jumlah gulanya atau kalsiumnya. Harapan aku, ini bisa membantu memajukan bangsa Indonesia agar semua bisa memilih makanan yang bersih,” ujarnya.
Program Inspektur Pangan Cilik telah berjalan selama tiga tahun. Hingga 2026, Dinas Kesehatan Kota Tangerang mencatat sudah ada 250 siswa yang dilatih menjadi pengawas pangan di sekolah masing-masing.
Selain siswa, program tersebut juga melibatkan guru pendamping untuk memperkuat pengawasan pangan sehat di lingkungan sekolah melalui kegiatan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS).
Editor : Adi Permana
Rabu, 06 Mei 2026 11:10 WIB
You must login to comment...
Be the first comment...