6 jam yang lalu
Pangannews.id - Konflik yang terus memanas di Timur Tengah mulai menimbulkan kekhawatiran baru di luar sektor energi. Gangguan di Selat Hormuz kini dinilai berpotensi memicu lonjakan harga pangan dunia dan memperburuk ancaman kelaparan di negara-negara miskin.
Selat Hormuz selama ini menjadi jalur utama distribusi minyak dan produk energi global. Namun meningkatnya ketegangan antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel membuat aktivitas pelayaran di kawasan itu terganggu. Ratusan kapal dilaporkan tertahan di jalur laut sempit yang menjadi salah satu nadi perdagangan dunia tersebut.
Dampaknya diperkirakan tidak berhenti pada kenaikan harga minyak. Organisasi bantuan kemanusiaan menilai gangguan distribusi energi akan ikut mendorong kenaikan harga pupuk, biaya transportasi, dan ongkos produksi pertanian yang pada akhirnya memukul harga pangan global.
Negara-negara berkembang disebut paling rentan menghadapi situasi ini. Banyak negara miskin saat ini masih bergantung pada impor pangan dan energi, sementara kemampuan fiskal mereka terus melemah akibat tekanan utang dan perubahan iklim.
Penasihat kebijakan senior Bread for the World, Sabine Minninger, mengatakan dampak penutupan Selat Hormuz bisa sangat besar terhadap ketahanan pangan dunia.
“Jika perang ini terus berlangsung dan Selat Hormuz tetap ditutup, dampaknya terhadap ketahanan pangan akan sangat besar, terutama di negara-negara termiskin seperti di Afrika,” ujarnya, dilansir dari Anadolu.
Menurutnya, dunia dapat menghadapi gelombang baru krisis kelaparan apabila kenaikan harga energi terjadi bersamaan dengan cuaca ekstrem dan lemahnya sistem pangan di negara-negara berkembang.
Peringatan serupa sebelumnya juga disampaikan World Food Programme. Lembaga pangan PBB itu menilai konflik berkepanjangan di Timur Tengah dapat mendorong jutaan orang tambahan masuk kategori rawan pangan akut jika biaya produksi pertanian global terus meningkat.
Situasi terbaru ini juga kembali memperlihatkan kuatnya ketergantungan sistem pangan dunia terhadap energi fosil. Ketika harga minyak melonjak, dampaknya langsung menjalar ke rantai pasok pangan global, mulai dari produksi pupuk hingga distribusi bahan makanan.
Sejumlah organisasi iklim mendesak negara-negara maju memperbesar dukungan pendanaan dan transfer teknologi energi bersih bagi negara berkembang. Mereka menilai percepatan transisi energi kini bukan hanya soal agenda lingkungan, tetapi juga berkaitan langsung dengan stabilitas pangan global.
Penasihat kebijakan senior Oxfam Deutschland, Jan Kowalzig, menilai lemahnya komitmen pendanaan iklim global membuat negara miskin semakin rentan menghadapi krisis berlapis.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Climate Alliance Germany, Christiane Averbeck, mengatakan konflik Iran menjadi pengingat bahwa ketergantungan dunia terhadap energi fosil masih terlalu besar dan berisiko terhadap stabilitas global.
Editor : Adi Permana
6 jam yang lalu
Sabtu, 02 Mei 2026 15:02 WIB
Senin, 20 April 2026 11:44 WIB
Jumat, 17 April 2026 14:03 WIB
You must login to comment...
Be the first comment...