Mengenali Adaptasi Perubahan Iklim Pada Peternakan

Pangannews.id

Jumat, 01 Maret 2024 12:41 WIB

news
drh. Pudjiatmoko, Ph.D Medik Veteriner Ahli Utama Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan. (Foto : Dok. Pudjiatmoko)

PanganNews.id Jakarta, - oleh drh. Pudjiatmoko, Ph.D Medik Veteriner Ahli Utama Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan.

Usaha peternakan dari hulu sampai ke hilir memegang peranan sangat penting untuk memenuhi kebutuhan dasar pangan manusia. Produk asal hewan telah menyediakan 33% protein dan 17% kalori kebutuhan manusia sedunia. Agribisnis peternakan menyumbangkan sekitar 40% PDB pertanian dunia. Sektor peternakan ini membuka lapangan kerja yang lebar bagi masyarakat di pedesaan. Terpenting, peternakan merupakan penyedia utama pangan bernilai gizi tinggi pencegah stunting, sekaligus sebagai sumber mata pencaharian sebagian besar penduduk negara berkembang.

Sampai saat ini masih terdapat interaksi antara perubahan iklim yang sedang berlangsung dan tuntutan peningkatan produksi peternakan. Ini menjadi tantangan bagaimana meningkatkan produksi sekaligus menurunkan dampak perubahan iklim. Untuk mengatasi tantangan tersebut diperlukan pemahaman tentang adaptasi perubahan iklim terhadap produksi peternakan.

Adaptasi perubahan iklim merupakan upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kemampuan dalam menyesuaikan diri terhadap perubahan iklim, terutama timbulnya keragaman iklim dan kejadian iklim ekstrim. Sehingga dapat diperoleh: (1) potensi kerusakan akibat perubahan iklim berkurang; (2) peluang yang ditimbulkan oleh perubahan iklim dapat dimanfaatkan; dan (3) konsekuensi yang muncul akibat perubahan iklim dapat diatasi.

Dalam lingkungan peternakan, adaptasi dapat terjadi melalui perubahan ekologi hewan dan upaya manusia. Bagi ternak, adaptasi alami dihasilkan dari berbagai mekanisme yang digunakan hewan untuk beradaptasi terhadap perubahan iklim. Sedangkan adaptasi manusia melalui tindakan dan praktik untuk membantu hewan ternak beradaptasi terhadap perubahan iklim, akhirnya produktivitas ternak meningkat. Dalam konteks peternakan, tindakan adaptasi meliputi adaptasi hewan, genetika hewan, modifikasi fisik lingkungan, pengendalian penyakit, dan sistem manajemen peternakan.

Adaptasi Hewan

Hewan dapat beradaptasi melalui respons fisiologis, biokimia, imunologi, anatomi, dan perilakunya. Gejala yang umum diamati terhadap cekaman panas yaitu penurunan nafsu makan, mencari tempat berteduh, peningkatan keringat, terengah-engah dengan mulut terbuka, peningkatan konsumsi minum, peningkatan waktu berdiri dan penurunan waktu berbaring, serta penurunan frekuensi buang air besar dan kecil.

Perlu dicatat bahwa hewan ternak jarang terkena cekaman tunggal. Selain cekaman panas, dapat bersama cekaman lainnya seperti kekurangan pakan dan air atau gizi buruk terjadi secara bersamaan. Dari berbagai pemicu cekaman tersebut menimbulkan efek kumulatif yang bersifat multiplikatif.

Hewan mungkin tidak dapat sepenuhnya beradaptasi terhadap cekaman iklim, sehingga peternak perlu membantu untuk mempertahankan produksi dan reproduksi ternaknya. Namun, kita harus ingat bahwa perubahan iklim bisa begitu besar sehingga dampaknya tidak dapat diatasi. Dalam kasus seperti ini, tindakan yang lebih ekstrim mungkin diperlukan, seperti melakukan perubahan penggunaan lahan, spesies hewan, atau pembebasan hewan. Strategi adaptasi yang diupayakan manusia meliputi genetika hewan, modifikasi fisik, pengelolaan pakan dan pengendalian hama, serta sistem manajemen peternakan.

Genetika hewan

Genetika hewan adalah suatu ilmu yang mempelajari hal-ihwal tentang gen mulai dari susunan kimia gen, peranan gen dalam penentuan sifat atau performans hewan. Pemilihan bangsa hewan ternak secara tradisional telah digunakan untuk meningkatkan efisiensi produksi ternak dan memfasilitasi peningkatan produksi ternak secara besar-besaran. Namun, spesies yang saat ini dipilih karena produksinya tinggi, dalam beberapa kasus memiliki produksi panas metabolik yang lebih tinggi sehingga mudah sekali terkena stres panas.

Karena iklim di masa mendatang diperkirakan akan lebih panas, suhu ekstrim lebih sering terjadi, maka teknik pemuliaan dan pemilihan jenis bangsa hewan ternak menjadi tindakan adaptasi. Variasi genetik dalam respon cekaman panas pada spesies hewan ternak diamati dan diukur. Beberapa bangsa hewan ternak tidak terlalu terpengaruh oleh cekaman panas, seperti hewan yang lebih kecil dan berwarna lebih terang. Ada bangsa hewan ternak yang telah beradaptasi secara fisik dan fisiologis sehingga tahan terhadap cekaman panas.

Jika sifat tersebut menurun ke anaknya, maka pembiakan selektif tahan cekaman panas dapat digunakan untuk meningkatkan adaptasi hewan. Peternak dapat mengganti bangsa hewan ternak yang dipelihara, misalnya untuk peternakan sapi dengan menggunakan bangsa Bos indicus atau Bos sondaicus yang cocok dikembangbiakan di wilayah tropis.

Modifikasi fisik lingkungan

Modifikasi fisik lingkungan juga dapat dilakukan, secara garis besar dapat dibagi menjadi dua kelompok yaitu dipelihara di luar ruangan dan dalam ruangan.

Untuk hewan yang dipelihara di luar ruangan seperti padang rumput, salah satu metode adaptasi yang hemat biaya adalah penyediaan naungan. Hal ini menurunkan paparan radiasi matahari dan mengurangi cekaman panas. Alat penyiram air juga dapat membantu menurunkan suhu tubuh. Huynh (2005) menyarankan penggunaan kombinasi metode karena menimbulkan efek interaksi. Misalnya, kombinasi penyiraman air dan kandang tertutup tanpa halaman luar menghasilkan produksi harian lebih tinggi dibandingkan dengan pemberian penyiraman air saja.

Untuk ternak yang dipelihara di dalam ruangan kandang, pilihan modifikasi fisik kandang dapat menggunakan: (1) sistem ventilasi yang cukup; (2) desain dan bahan bangunan peredam panas; (3) penyemprotan atap kandang; (4) penggunaan kipas angin dalam kandang; (5) pendingin alas kandang (pendingin pipa bawah tanah). Pendingin udara dan pendingin alas kandang terbukti memiliki kinerja terbaik dalam menurunkan cekaman panas, namun perlu investasi awal dan biaya operasional cukup tinggi.

Pengendalian hama penyakit

Pengendalian hama penyakit belum banyak dibahas sebagai adaptasi ternak, meskipun para peneliti telah memperhatikan bahwa perubahan pola curah hujan di masa depan dapat memengaruhi penyebaran dan kuantitas beberapa hama penyakit yang ditularkan melalui vektor serangga.

Ada beberapa kekhawatiran terkait pengelolaan hama penyakit ternak. Pertama, beberapa hama penyakit berkembang menjadi resisten terhadap insektisida dan obat-obatan dalam waktu singkat, yang akan menurunkan efektivitas insektisida dan obat-obatan. Oleh karena itu, dalam praktik disarankan untuk melakukan rotasi penggunaan insektisida yang cara kerjanya berbeda.

Kedua, pengaturan kepadatan ternak. Sistem dengan kepadatan ternak tinggi dapat mendorong wabah hama penyakit. Khususnya unggas banyak menderita masalah hama penyakit karena dipelihara dengan sangat padat dengan tujuan memperoleh hasil produksi lebih banyak dalam waktu singkat. Maka disarankan untuk mempraktikan kepadatan optimal sesuai standar cara beternak yang baik.

Ketiga, residu obat pada produk asal hewan akibat penggunaan pestisida yang tidak tepat. Cara ini dapat menimbulkan potensi ancaman terhadap kesehatan masyarakat. Sebagai hasil dari pertimbangan ini, diperlukan pengelolaan hama penyakit terpadu, disertai pengembangan teknologi pestisida.

Praktik pemberian pakan yang tepat dapat digunakan untuk meningkatkan daya tahan tubuh di bawah cekaman panas. Kegiatannya meliputi modifikasi komposisi makanan, perubahan waktu dan/atau frekuensi makan, dan pengelolaan air. Praktik ini membantu meringankan cekaman panas dengan mencukupi asupan kandungan energi, nutrisi, elektrolit dan mineral, serta menjaga keseimbangan air. Modifikasi pemberian pakan pada sapi dan unggas telah banyak dikaji, umumnya berdampak positif untuk menjaga status kesehatan hewan ternak.

Sistem manajemen peternakan

Adaptasi sistem manajemen peternakan dapat menggunakan satu atau lebih strategi berikut:

(1) Diversifikasi spesies ternak: Peternakan multi-spesies meningkatkan kemampuan peternak untuk mengatasi perubahan iklim dan perubahan kondisi padang rumput, serta dapat meningkatkan keberlanjutan peternakan.

(2) Penyesuaian tingkat persediaan ternak: Penyesuaian tingkat persediaan ternak digunakan untuk mengurangi dampak kekeringan pada anak sapi. Tingkat persediaan ternak menurun seiring dengan peningkatan indeks suhu-kelembaban dan peningkatan curah hujan di musim panas. Maka dari itu diatur sedemikian rupa agar persediaan anak sapi tetap stabil.

(3) Integrasi sistem peternakan-kehutanan atau peternakan-tanaman pangan: Cara ini mempunyai efek sinergis positif terhadap sifat tanah dan siklus unsur hara. Integrasi tanaman pangan-ternak atau kehutanan-ternak dapat mencegah degradasi tanah, mengurangi penggunaan bahan kimia, dan meningkatkan nilai tambah usaha pertanian.

Kesimpulan dan saran

Peternak harus berperan dalam upaya adaptasi perubahan iklim melalui budidaya ternak yang baik menggunakan bibit unggul tahan cekaman panas dan memberikan pakan bermutu. Pemerintah perlu terus-menerus memfasilitasi adaptasi perubahan iklim dengan menerapkan teknologi tepat guna terkini. Penting menggalang komitmen semua pemangku kepentingan terkait untuk terlibat dalam kegiatan adaptasi perubahan iklim ini yang terencana dan berkesinambungan. (*/Adv)


Kolom Komentar

You must login to comment...