22 jam yang lalu
PanganNews.id - Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Pusat Penyuluhan Pertanian menyelenggarakan kegiatan Mentan Sapa Petani dan Penyuluh (MSPP) Volume 7 dengan tema “Sinergi Penyuluh Pertanian dalam Mendukung Pelaporan LTT”, Jum’at (27/02/2026).
Kegiatan ini dilaksanakan secara daring melalui kanal YouTube @pusluhtanri dan Zoom Meeting, serta diikuti oleh penyuluh dan petani dari berbagai daerah di Indonesia.
Kegiatan yang berlangsung interaktif ini menghadirkan Ketua Kelompok Substansi Data Evaluasi dan Tindak Lanjut Hasil Pemeriksaan dan Pengendalian Intern dari Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Kementan Ugi Sugiarto sebagai narasumber.
Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman menegaskan pentingnya pemantauan harian terhadap capaian Luas Tambah Tanam (LTT). Ia menyampaikan bahwa evaluasi tidak boleh hanya dilakukan secara bulanan, melainkan harus dilakukan setiap hari guna memastikan target swasembada pangan tercapai.
Pemantauan terhadap LTT harus dilakukan secara harian untuk menjamin tercapainya target swasembada.
“Kalau mau pangan terpenuhi, harus evaluasi harian, bukan bulanan,” tegas Mentan Amran.
Kepala Badan (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menekankan bahwa keberhasilan percepatan LTT sangat ditentukan oleh kolaborasi lintas sektor. Penyuluh, petugas lapangan, dan seluruh pemangku kepentingan diharapkan bergerak dalam satu komando dengan mengedepankan sinergi serta pemanfaatan data sebagai dasar pengambilan keputusan.
"Pelaporan harian berbasis aplikasi sistem informasi menjadi bagian penting dalam strategi nasional penguatan manajemen data pertanian", ujarnya.
Plt. Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian, Eko Nugroho Dharmo Putro menambahkan bahwa kompetensi penyuluh dalam mengelola informasi pertanian modern sangat krusial. Penguatan sinergi antara pusat dan daerah diharapkan mampu meminimalisir kendala data di lapangan sehingga kebijakan yang diambil tetap akurat dan responsif terhadap dinamika kondisi pertanian.
Ugi Sugiharto menyampaikan target produksi padi tahun 2026 sebesar 60,34 juta ton Gabah Kering Giling (GKG) atau setara 34,77 juta ton beras. Untuk mendukung pencapaian tersebut, pemerintah telah mengalokasikan bantuan benih senilai Rp2,913 triliun untuk pertanaman padi seluas 2,69 juta hektare.
Selain itu, pemerintah juga mengalokasikan bantuan perlindungan tanaman pangan untuk penanganan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) dan Dampak Perubahan Iklim (DPI) seluas 93,6 ribu hektare dengan total anggaran Rp17,89 miliar.
Dukungan ini merupakan langkah preventif sekaligus respon cepat guna meminimalisir risiko gagal panen di tingkat petani.
Dalam upaya percepatan perluasan tanam, Kementan menerapkan empat strategi terintegrasi, yaitu pemanfaatan aplikasi Siscrop/Simotandi untuk pemetaan digital dan ground check, pelaksanaan aksi teknis dengan target tanam maksimal 14 hari setelah panen melalui gerakan tanam partisipatif, mobilisasi infrastruktur dan alat mesin pertanian (alsintan) melalui sistem brigade, serta penguatan manajemen data melalui pengawalan harian dan sinkronisasi pelaporan secara ketat dari tingkat BPP hingga pusat.
Menghadapi berbagai tantangan di lapangan, solusi strategis yang ditempuh meliputi percepatan penyaluran bantuan benih dan asuransi bagi lahan terdampak banjir, penguatan komitmen pemerintah daerah dalam menjaga Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) untuk menekan alih fungsi lahan, serta optimalisasi peran Penyuluh Swadaya guna mengatasi keterbatasan sumber daya manusia.
Sebagai penutup, Penyuluh Pertanian Ahli Utama, Siti Nurjannah selaku pendamping acara menyampaikan pesan kepada seluruh penyuluh agar tetap menjalankan tugas dengan semangat dan penuh tanggung jawab. Ia menegaskan bahwa keberhasilan pertanaman menjadi kunci keberlanjutan produksi dan pencapaian swasembada pangan nasional.
Melalui sinergi yang kuat dan pelaporan LTT yang akurat serta tepat waktu, Kementan optimistis target produksi dan ketahanan pangan nasional tahun 2026 dapat tercapai secara berkelanjutan. (RS) (*/Adv)
Sabtu, 28 Februari 2026 21:36 WIB
Sabtu, 28 Februari 2026 21:24 WIB
Sabtu, 28 Februari 2026 21:19 WIB
Sabtu, 28 Februari 2026 21:04 WIB
You must login to comment...
Be the first comment...