Selasa, 24 Maret 2026 11:32 WIB
Pangannews.id - Harga minyak dunia jatuh tajam setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan penundaan serangan lanjutan terhadap fasilitas energi Iran, di tengah rencana pembicaraan antara kedua negara. Pasar merespons langkah tersebut sebagai sinyal meredanya ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Pada perdagangan Senin (23/3/2026) waktu setempat, minyak mentah Brent merosot 10,92 persen ke level US$99,94 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 10,28 persen menjadi US$88,13 per barel. Penurunan ini tercatat sebagai koreksi harian terbesar sejak awal Maret.
Tekanan juga terjadi pada produk turunan energi. Kontrak berjangka diesel di Amerika Serikat turun sekitar 10 persen, sedangkan bensin melemah 9,5 persen. Meski demikian, secara tahunan keduanya masih mencatat lonjakan signifikan, masing-masing sekitar 79 persen dan 73 persen.
Sentimen meredanya risiko geopolitik turut menekan aset lindung nilai. Harga emas terkoreksi lebih dari 3 persen, sementara indeks dolar AS melemah sekitar 0,5 persen.
Sebaliknya, pasar saham Amerika Serikat bergerak positif. Indeks Dow Jones ditutup naik 631 poin atau 1,38 persen. S&P 500 menguat 1,15 persen dan Nasdaq bertambah 1,38 persen, mengakhiri tren penurunan yang terjadi sebelumnya.
Analis menilai pasar merespons kemungkinan deeskalasi konflik di Timur Tengah. Direktur perdagangan E-Trade dari Morgan Stanley, Chris Larkin, mengatakan pelaku pasar menyambut potensi kabar positif dari kawasan tersebut. Namun, ia menekankan arah pergerakan pasar masih sangat bergantung pada perkembangan geopolitik dan harga energi.
Optimisme itu sempat tertahan setelah laporan menyebutkan militer Israel tetap melanjutkan serangan ke Teheran. Di sisi lain, Iran juga membantah adanya perundingan dengan Amerika Serikat.
Ketidakpastian juga masih membayangi Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Kondisi keamanan di kawasan itu dinilai belum sepenuhnya stabil.
Di tingkat konsumen, dampak konflik masih terasa. Harga bensin di Amerika Serikat tercatat naik selama 23 hari berturut-turut hingga mencapai US$3,96 per galon, tertinggi sejak Agustus 2022.
Dalam sebulan terakhir, harga melonjak sekitar 34 persen, menjadi kenaikan bulanan terbesar bahkan melampaui periode pasca Badai Katrina 2005 dan awal invasi Rusia ke Ukraina pada 2022.
Meski harga minyak mentah mulai turun, penurunan harga bahan bakar di tingkat konsumen diperkirakan belum terjadi dalam waktu dekat karena proses penyesuaian harga membutuhkan waktu.
Editor : Adi Permana
Rabu, 25 Maret 2026 16:31 WIB
Selasa, 17 Maret 2026 21:05 WIB
You must login to comment...
Be the first comment...