Selasa, 17 Maret 2026 21:05 WIB
Pangannews.id - Korea Selatan (Korsel) menghadapi tekanan serius di sektor peternakan setelah tiga penyakit hewan menular menyebar secara bersamaan di sejumlah wilayah. Pemerintah setempat menetapkan status siaga tertinggi, karena lonjakan kasus yang mulai berdampak pada pasokan pangan domestik.
Tiga penyakit yang tengah merebak yakni flu burung patogen tinggi, demam babi Afrika, dan penyakit mulut dan kuku. Kombinasi ketiganya dinilai sebagai kondisi langka yang berisiko besar terhadap stabilitas produksi pangan berbasis ternak.
Kementerian Pertanian, Pangan, dan Urusan Pedesaan Korsel menyatakan status kewaspadaan tetap berada pada level tertinggi. Masa karantina khusus pun diperpanjang hingga akhir Maret guna menekan laju penyebaran.
Ketiga penyakit tersebut masuk kategori paling berbahaya dalam sistem klasifikasi penyakit hewan di negara itu. Selain berpotensi menyebar cepat, dampaknya juga langsung memukul industri peternakan dan perdagangan produk hewani.
Seperti dilansir dari Strait Times, kondisi saat ini disebut berbeda dibanding periode sebelumnya. Sejak kemunculan pertama demam babi Afrika pada 2019 hingga 2024, wabah tiga penyakit besar tidak pernah terjadi secara bersamaan. Namun dalam dua tahun terakhir, pola tersebut berubah dan memicu kekhawatiran di kalangan pakar.
Data pemerintah menunjukkan lonjakan signifikan pada sejumlah indikator. Kasus flu burung patogen tinggi selama musim dingin 2025–2026 tercatat di 56 peternakan unggas, meningkat dibanding periode sebelumnya.
Sementara itu, penyebaran demam babi Afrika berlangsung lebih cepat dari biasanya. Dalam waktu sedikit di atas dua bulan, tercatat 22 kasus baru, jauh melampaui rata-rata tahunan yang berada di kisaran delapan kasus.
Di sisi lain, penyakit mulut dan kuku juga kembali muncul dengan tiga kasus terkonfirmasi sepanjang tahun ini.
Dampak langsung mulai terasa pada produksi pangan. Lebih dari 9,8 juta ayam petelur dimusnahkan, angka tertinggi dalam lima tahun terakhir. Penurunan populasi ini diperkirakan menekan produksi telur harian hingga hampir enam persen dibandingkan tahun lalu.
Tekanan juga terjadi pada sektor peternakan babi. Pemusnahan ternak akibat wabah demam babi Afrika melonjak tajam, dengan lebih dari 150.000 ekor babi dimatikan, empat kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.
Penurunan pasokan tersebut berpotensi mendorong kenaikan harga. Lembaga riset ekonomi pedesaan Korea memperkirakan harga grosir daging babi akan meningkat sekitar 3,3 persen sepanjang 2026.
Situasi ini menempatkan Korea Selatan dalam posisi rawan, tidak hanya terhadap ketahanan pangan dalam negeri, tetapi juga stabilitas harga produk peternakan di pasar.
Editor : Adi Permana
Rabu, 25 Maret 2026 16:31 WIB
Selasa, 24 Maret 2026 11:32 WIB
Jumat, 13 Maret 2026 11:51 WIB
Jumat, 27 Februari 2026 14:35 WIB
You must login to comment...
Be the first comment...