Sabtu, 28 Maret 2026 19:56 WIB
Pangannews.id - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Balikpapan meminta petani di Kalimantan Timur mulai menyesuaikan pola tanam menjelang musim kemarau yang diperkirakan terjadi pada akhir Mei 2026. Tanaman dengan masa panen panjang dinilai berisiko mengalami kekurangan air saat periode kering berlangsung.
Ketua Tim Data dan Informasi BMKG Stasiun Kelas I Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan Balikpapan, Carolina Meylita Sibarani, mengatakan saat ini wilayah Kalimantan Timur masih berada dalam musim hujan.
Namun perubahan menuju musim kemarau diperkirakan terjadi dalam waktu sekitar dua bulan ke depan dengan puncak pada Agustus.
“Kalimantan Timur saat ini masih musim hujan, sedangkan awal kemarau diperkirakan akhir Mei dengan puncak kemarau pada Agustus 2026,” kata Carolina.
BMKG mengingatkan petani agar tidak menanam komoditas dengan masa tanam lebih dari tiga bulan karena berpotensi kekurangan air tadah hujan. Tanaman padi, sayuran, maupun palawija dengan umur panjang dinilai berisiko jika ditanam mendekati musim kemarau.
Sebagai alternatif, petani disarankan menggunakan varietas padi berumur genjah yang memiliki masa panen lebih cepat. Beberapa varietas yang dinilai sesuai antara lain Inpari 32, Inpari 37, Inpari 42 GSR, serta MR70, dengan penyesuaian pada kondisi lahan masing-masing.
BMKG juga mencatat dalam beberapa hari terakhir suhu udara di Kalimantan Timur terasa lebih panas dan diikuti munculnya sejumlah titik panas. Kondisi ini terjadi meski wilayah tersebut masih berada pada musim hujan.
Carolina menjelaskan kemunculan titik panas tidak hanya dipengaruhi musim kemarau, tetapi juga faktor atmosfer seperti potensi El Nino dan keberadaan bibit siklon yang memengaruhi pergerakan awan.
“Munculnya titik panas, faktor penentunya bukan hanya musim kemarau, tapi ada beberapa hal, antara lain akibat el Nino dan bibit siklon yang menyebabkan pergerakan tidak terkonsentrasi di langit Kaltim, tapi menyebar ke wilayah lain, mengikuti arah angin,” ujarnya.
BMKG mencatat pada Selasa (24/3/2026) terdeteksi 32 titik panas yang tersebar di lima kabupaten/kota. Sehari kemudian jumlahnya meningkat menjadi 73 titik panas dengan konsentrasi terbesar berada di wilayah Kutai Timur. Kondisi tersebut menjadi indikator awal meningkatnya potensi kekeringan menjelang musim kemarau.
Editor : Adi Permana
Senin, 30 Maret 2026 12:52 WIB
Senin, 30 Maret 2026 11:56 WIB
Minggu, 29 Maret 2026 10:33 WIB
Sabtu, 28 Maret 2026 13:22 WIB
You must login to comment...
Be the first comment...