Senin, 30 Maret 2026 11:56 WIB
Pangannews.id - Kementerian Pertanian (Kementan) memperkuat langkah konkret pengamanan produksi pangan di Jawa Barat melalui optimalisasi sumber air, percepatan pompanisasi, serta penguatan jaringan irigasi menghadapi musim kemarau 2026. Langkah ini difokuskan pada wilayah sentra produksi padi untuk memastikan pertanaman tetap berjalan dan target produksi tidak terganggu.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman sebelumnya menegaskan bahwa pengelolaan air menjadi faktor kunci dalam menjaga produksi nasional, terutama saat menghadapi anomali iklim dan musim kering.
Ia menyatakan bahwa pemerintah telah menyiapkan langkah antisipatif melalui optimalisasi irigasi dan percepatan pompanisasi guna memastikan pertanaman tetap berlangsung dan produksi tidak mengalami penurunan.
Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Infrastruktur, Ali Jamil, menegaskan bahwa pengelolaan air menjadi kunci utama dalam menjaga keberlanjutan produksi saat musim kemarau.
“Kita akan mengoordinasikan seluruh kekuatan air yang ada di Jawa Barat untuk mengawal pertanaman saat kemarau datang. Harapannya, swasembada pangan dapat terus kita jaga secara berkelanjutan dan berbagai tantangan bisa diantisipasi sejak dini,” ujar Ali Jamil saat meninjau RJIAT di Kabupaten Purwakarta, Sabtu, 28 Maret 2026.
Penguatan ini dilakukan melalui konsolidasi seluruh sumber air, baik irigasi permukaan maupun air tanah, termasuk percepatan pemanfaatan jaringan irigasi air tanah yang dibangun oleh Kementerian Pekerjaan Umum.
Selain itu, mitigasi kekeringan juga disusun berbasis data iklim dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), termasuk perhitungan volume dan debit air guna memastikan kecukupan suplai selama musim kemarau.
“Jika kekeringan terjadi, kita pastikan seluruh langkah antisipasi sudah dilakukan, termasuk menghitung volume dan debit air di Jawa Barat. Dari hasil koordinasi, ketersediaan air tahun ini relatif cukup,” jelasnya.
Kementan juga mengintensifkan program pompanisasi dan evaluasi irigasi perpompaan (irpom) untuk mempercepat distribusi air ke lahan pertanian, serta memperluas implementasinya guna memperkuat ketahanan produksi.
“Kita akan menggerakkan seluruh sarana yang ada, termasuk melakukan evaluasi terhadap irigasi perpompaan (irpom) dan program pendukung lainnya,” tambahnya.
Sejalan dengan arahan Mentan Amran, upaya peningkatan produksi juga dilakukan melalui optimasi lahan dan peningkatan indeks pertanaman, dengan mendorong frekuensi tanam dari satu kali menjadi dua hingga tiga kali dalam setahun melalui dukungan irigasi, pompanisasi, dan sistem perpipaan.
Sementara itu, Pemerintah Provinsi Jawa Barat memastikan kondisi air di wilayah sentra produksi utama masih dalam kondisi aman, terutama yang bersumber dari Perum Jasa Tirta II (PJT II).
Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jawa Barat, Dadan Hidayat, menyampaikan bahwa kondisi tersebut menjadi modal kuat untuk mendorong peningkatan produksi.
“Alhamdulillah, dari sisi potensi lumbung pangan Jawa Barat, terutama di wilayah utara, kondisi air cukup tersedia. Ini menjadi modal penting untuk meningkatkan produksi sesuai target peningkatan 1 juta ton pada 2026,” kata Dadan.
Ia menambahkan, berbagai upaya optimasi lahan terus didorong, termasuk peningkatan intensitas tanam melalui penguatan sistem irigasi, pompanisasi, dan perpipaan.
“Kita ingin lahan yang ada bisa ditingkatkan produktivitasnya, tidak hanya satu kali tanam, tetapi bisa dua hingga tiga kali dalam setahun,” pungkasnya.(ADV)
Senin, 30 Maret 2026 12:52 WIB
Minggu, 29 Maret 2026 10:33 WIB
Sabtu, 28 Maret 2026 19:56 WIB
Sabtu, 28 Maret 2026 13:22 WIB
You must login to comment...
Be the first comment...