6 jam yang lalu
Pangannews.id - Pemerintah mulai mengarahkan koperasi menjadi pemain kunci dalam pengembangan komoditas kakao, khususnya di Lampung Timur yang selama ini dikenal sebagai salah satu sentra produksi cokelat nasional.
Wakil Menteri Koperasi, Farida Farichah, menegaskan penguatan koperasi di sektor kakao menjadi bagian dari strategi memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan nilai tambah produk pertanian.
“Lampung Timur ini pusatnya tanaman cokelat. Yang harus diperkuat adalah akses modal, akses pasar, dan kualitas sumber daya manusianya,” kata Farida saat kunjungan kerja ke Koperasi Pondok Pesantren Al Firdaus, Candipuro, Lampung Selatan, Senin (4/5/2026).
Menurutnya, selama ini banyak petani kakao masih bergantung pada rantai distribusi panjang yang membuat nilai jual produk tidak optimal. Karena itu, koperasi didorong masuk ke seluruh lini, mulai dari produksi, pengolahan, hingga pemasaran.
Dengan model tersebut, koperasi tidak hanya berfungsi sebagai wadah ekonomi, tetapi juga menjadi agregator yang mampu meningkatkan posisi tawar petani.
Farida menyebut, penguatan sektor kakao juga sejalan dengan arahan pemerintah agar setiap daerah mampu mengembangkan potensi unggulannya. Dalam konteks Lampung Timur, kakao dinilai memiliki peluang besar untuk dikembangkan hingga ke industri hilir.
“Kalau koperasi masuk sampai industri, nilai tambahnya akan jauh lebih besar, tidak berhenti di bahan mentah,” ujarnya.
Selain itu, Kementerian Koperasi juga mendorong integrasi koperasi kakao dengan program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih. Skema ini diharapkan dapat memperkuat ekosistem usaha, termasuk dalam hal distribusi dan akses pasar. Di tingkat daerah, dukungan terhadap pengembangan koperasi berbasis kakao terus menguat.
Kepala Dinas Koperasi dan UKM Lampung, Evie Fatmawaty, menyebutkan ribuan koperasi desa telah terbentuk dan sebagian mulai masuk ke sektor produktif, termasuk pertanian.
“Antusiasme masyarakat tinggi. Ini peluang untuk memperkuat komoditas unggulan seperti kakao,” kata Evie.
Ia mengatakan, keberadaan koperasi diharapkan mampu menjawab persoalan klasik petani, mulai dari keterbatasan modal hingga akses pasar yang sempit.
Editor : Adi Permana
Sabtu, 02 Mei 2026 14:03 WIB
Sabtu, 02 Mei 2026 13:53 WIB
Sabtu, 02 Mei 2026 13:05 WIB
You must login to comment...
Be the first comment...