Harga Minyak RI Naik Tajam, Bahlil: BBM Subsidi Tidak Akan Naik

Pers Pangannews

Rabu, 20 Mei 2026 11:23 WIB

news
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia. (Foto : Kementerian ESDM)

Pangannews.id - Pemerintah memastikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi seperti Pertalite dan Biosolar belum akan naik meski harga minyak mentah Indonesia melonjak dan nilai tukar rupiah berada dalam tekanan.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan pemerintah masih mampu menjaga harga BBM subsidi tetap stabil hingga akhir tahun 2026.

“Tidak akan naik. Insyaallah, ya, doanya, tidak akan kita naikkan (harga BBM subsidi),” kata Bahlil, Selasa (19/5/2026).

Pernyataan itu disampaikan di tengah kenaikan rata-rata harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) pada April 2026 yang mencapai 117,31 dolar AS per barel. Angka tersebut melonjak 15,05 dolar AS dibandingkan Maret 2026 yang berada di level 102,26 dolar AS per barel.

Meski demikian, Bahlil menilai kondisi tersebut belum cukup untuk memicu penyesuaian harga BBM subsidi. Menurut dia, pemerintah masih mengacu pada rata-rata ICP sejak Januari 2026 yang berada di kisaran 80–81 dolar AS per barel.

“Rata-rata ICP kita sekarang itu kurang lebih sekitar 80–81 dolar AS dari bulan Januari sampai sekarang. Jadi, belum sampai 100 dolar AS,” ujarnya.

Ia pun menegaskan harga Pertalite dan Biosolar masih aman dipertahankan hingga akhir tahun.

“Insyaallah sampai akhir tahun,” ucap Bahlil.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Laode Sulaeman mengatakan eskalasi konflik di Timur Tengah meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan minyak dunia, terutama di jalur strategis Selat Hormuz.

Selain itu, pertumbuhan ekonomi China pada triwulan I 2026 yang mencapai 5 persen secara tahunan ikut mendorong optimisme permintaan minyak global.

Namun, Laode menyebut masih ada sejumlah faktor yang berpotensi menahan laju kenaikan harga minyak dunia. Salah satunya adalah proyeksi penurunan permintaan minyak global pada triwulan II 2026 sekitar 5 juta barel per hari dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Di sisi lain, pasar juga menanti kemungkinan terbukanya kembali jalur diplomasi antara Iran dan Amerika Serikat yang dinilai dapat meredakan ketegangan geopolitik dan menekan harga minyak.

Editor : Adi Permana


Kolom Komentar

You must login to comment...