11 jam yang lalu
Pangannews.id - Pengakuan dunia terhadap jamu sebagai warisan budaya Indonesia belum otomatis menjamin masa depan industri herbal nasional. Tantangan terbesar justru berada di dalam negeri. Bagaimana membuat jamu tetap relevan bagi generasi muda dan mampu bersaing di tengah perubahan gaya hidup serta pasar kesehatan yang semakin modern.
Isu tersebut mengemuka dalam peringatan Hari Jamu Nasional 2026 yang digelar Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Di tengah meningkatnya tren gaya hidup sehat dan kembali ke alam (back to nature) yang berkembang secara global, pemerintah melihat jamu memiliki peluang besar untuk berkembang, namun membutuhkan inovasi agar tidak terjebak sebagai produk tradisional yang identik dengan generasi lama.
Kepala BPOM Taruna Ikrar mengatakan jamu tidak boleh dipandang sebagai produk kuno yang kehilangan relevansi di era modern. Menurutnya, kekayaan hayati Indonesia yang menjadi sumber bahan baku obat tradisional merupakan modal besar untuk mengembangkan industri kesehatan berbasis bahan alam.
"Jamu jangan dianggap barang kuno atau klasik yang tidak diperlukan lagi. Potensinya sangat besar dan generasi muda harus melihatnya sebagai kekayaan yang bernilai," kata Taruna.
Peluang tersebut semakin terbuka setelah UNESCO menetapkan jamu sebagai warisan budaya tak benda dunia. Di tingkat global, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga semakin memberi ruang bagi pengembangan pengobatan tradisional yang didukung bukti ilmiah.
Indonesia sendiri memiliki sekitar 31 ribu jenis tanaman yang tumbuh di berbagai wilayah Nusantara. Ribuan di antaranya telah dimanfaatkan sebagai bahan baku obat tradisional dan produk kesehatan. Saat ini tercatat sekitar 22 ribu nomor izin edar yang berkaitan dengan produk obat asli Indonesia.
Meski demikian, pelaku industri menilai pengembangan jamu tidak cukup hanya mengandalkan status warisan budaya. Diperlukan transformasi cara produksi, pemasaran, hingga pendekatan kepada konsumen agar produk herbal mampu mengikuti perubahan zaman.
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Jamu (GP Jamu) Jony Yuwono mengatakan revitalisasi budaya menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan industri jamu. Menurutnya, pelestarian jamu tidak bisa dipisahkan dari upaya mempertahankan identitas budaya yang selama ini melekat pada produk tersebut.
Di sisi lain, peluang ekonomi dari industri jamu dinilai masih sangat besar, terutama bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Penjual jamu gendong yang selama ini menjadi simbol budaya jamu tradisional didorong untuk memanfaatkan teknologi digital dan model bisnis baru agar mampu menjangkau pasar yang lebih luas.
Transformasi itu bisa dilakukan melalui pemasaran daring, pengembangan konsep kafe jamu, hingga diversifikasi produk yang lebih sesuai dengan selera generasi muda. Tidak hanya untuk minuman kesehatan, bahan herbal juga dinilai berpotensi dikembangkan menjadi produk kosmetik dan perawatan tubuh yang memiliki nilai tambah lebih tinggi.
Untuk memperkuat ekosistem industri obat bahan alam, BPOM meluncurkan dua program baru berupa Buku PUSAKA (Pustaka Bahan Aktif) dan fitur BRIDGE yang dirancang untuk mempercepat hilirisasi hasil riset menuju produk komersial.
Langkah tersebut dilakukan untuk menjawab persoalan klasik industri herbal nasional, yakni masih terbatasnya jumlah hasil penelitian yang berhasil dikembangkan menjadi produk yang memiliki daya saing di pasar.
Editor : Adi Permana
Rabu, 27 Mei 2026 12:17 WIB
Rabu, 27 Mei 2026 12:08 WIB
Sabtu, 23 Mei 2026 13:17 WIB
Sabtu, 23 Mei 2026 11:48 WIB
You must login to comment...
Be the first comment...