Wihaji: Anak dari Keluarga Mampu Juga Bisa Mengalami Stunting

Pers Pangannews

23 jam yang lalu

news
Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN Wihaji. (Foto: dok. BKKBN)

Pangannews.id - Stunting tidak selalu identik dengan keluarga kurang mampu. Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN Wihaji mengatakan, anak dari keluarga berada pun tetap memiliki risiko mengalami stunting jika kebutuhan gizi dan pengasuhannya tidak diperhatikan dengan baik.

Wihaji menyoroti pola pengasuhan sebagai salah satu faktor yang perlu mendapat perhatian. Dalam sejumlah kasus, anak dari keluarga mampu lebih banyak dititipkan kepada pengasuh atau asisten rumah tangga, sementara orang tua tidak selalu dapat memantau secara optimal kebutuhan dan perkembangan anak.

“Sekarang ada juga orang kaya yang stunting. Kenapa? Karena tidak diperhatikan pengasuhan ketika ditinggal, dititipkan oleh asisten rumah tangga. Yang penting tidak nangis, dikasih asupan yang manis-manis, diam, dan ternyata, ada beberapa kasus (stunting)," kata Wihaji di Jakarta, Kamis (17/9/2026).

Menurut dia, pencegahan stunting karena itu harus melihat persoalan secara lebih luas. Edukasi kepada orang tua mengenai cara mengasuh dan memenuhi kebutuhan anak menjadi bagian penting, selain memastikan kecukupan gizi, ketersediaan air bersih, sanitasi yang layak, serta mencegah perkawinan dini.

Wihaji juga menegaskan bahwa penanganan stunting tidak bisa bergantung pada satu program saja. Makan Bergizi Gratis (MBG), misalnya, perlu berjalan bersama dengan upaya memperbaiki sanitasi, akses air bersih, kondisi lingkungan tempat tinggal, dan pengasuhan di dalam keluarga.

Gambaran mengenai keluarga yang berisiko stunting terlihat dari pendataan keluarga tahun 2025. Dari 74,1 juta keluarga yang telah terdata berdasarkan nama dan alamat (by name by address) di seluruh Indonesia, sebanyak 8,1 juta keluarga tercatat berisiko stunting.

Kondisi tersebut membuat edukasi pengasuhan dinilai perlu ditempatkan sebagai bagian dari pembangunan keluarga. Wihaji mengatakan, kualitas keluarga memiliki kaitan dengan kualitas generasi yang akan datang.

"Kependudukan intinya stabilitas demografi, keluarga intinya ketahanan keluarga, dan yang saya yakini, keluarga adalah unit paling rendah dan terkecil dalam sebuah negara, maka untuk memperbaiki negara, perbaiki keluarga, dimulai dari mana? Dari memastikan anak generasi ke depan yang lahir itu jangan sampai stunting," ucapnya.

Editor : Adi Permana


Kolom Komentar

You must login to comment...