4 jam yang lalu
PanganNews.id - Aroma manis gula semut yang khas selama ini lahir dari proses panjang dan penuh ketelatenan. Di banyak sentra produksi, pembuatan gula semut masih dilakukan secara manual diaduk perlahan dengan tenaga manusia, membutuhkan waktu, energi, dan ketahanan fisik yang tidak sedikit. Namun kini, sebuah inovasi mulai mengubah wajah produksi gula semut menjadi lebih efisien dan modern.
Adalah Adit Sutardi, mahasiswa prodi Teknologi Mekanisasi Pertanian Polbangtan Bogor yang merancang mesin pengaduk gula semut sebagai solusi atas keterbatasan proses tradisional. Inovasi ini hadir untuk membantu pelaku usaha, seperti CV Mandiri Garlica Pratama di Kudus, Jawa Tengah, dalam meningkatkan efisiensi produksi tanpa mengurangi kualitas produk, yang sekaligus menjadi tugas akhir Adit dalam menyelesaikan studinya.
Mesin ini dirancang menggunakan pendekatan rekayasa teknik modern berbasis perangkat lunak, dengan memperhatikan aspek keamanan pangan dan ketahanan material. Menggunakan bahan stainless steel, motor listrik berdaya 0,8206 kW, serta sistem pemanas listrik, mesin ini mampu mengoptimalkan proses pengadukan dan pemanasan secara lebih stabil dan terkontrol.
Tidak sekadar alat, mesin ini menjadi jawaban atas tantangan klasik dalam produksi gula semut: waktu yang lama, tenaga kerja yang besar, serta inkonsistensi hasil. Dengan sistem pengadukan mekanis, proses kristalisasi gula dapat berlangsung lebih merata, menghasilkan produk dengan kualitas yang lebih konsisten.
Di balik inovasi ini, terdapat proses panjang mulai dari pengumpulan data lapangan, perancangan desain, pembuatan prototipe, hingga pengujian kinerja. Pendekatan ini memastikan bahwa teknologi yang dihasilkan benar-benar sesuai dengan kebutuhan pengguna di lapangan.
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa hilirisasi produk pertanian harus didukung dengan inovasi teknologi yang tepat guna. “Nilai tambah produk pertanian sangat ditentukan oleh proses pengolahan. Inovasi mesin pengaduk gula semut ini menjadi langkah penting dalam meningkatkan kualitas, efisiensi, dan daya saing produk lokal di pasar yang lebih luas,” ujar Amran.
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menilai inovasi ini sebagai bagian dari penguatan agroindustri berbasis masyarakat. “Kita mendorong agar pelaku usaha dan petani tidak hanya memproduksi, tetapi juga mengolah hasilnya dengan teknologi yang lebih baik. Mesin ini menjadi contoh bagaimana inovasi dapat meningkatkan produktivitas sekaligus kualitas produk,” ungkapnya.
Direktur Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Bogor, Yoyon Haryanto, menyampaikan bahwa inovasi seperti ini merupakan hasil nyata dari sinergi antara pendidikan vokasi dan kebutuhan industri. “Mahasiswa dan inovator harus mampu menghadirkan solusi yang aplikatif. Mesin ini tidak hanya menjawab kebutuhan teknis, tetapi juga membuka peluang peningkatan nilai ekonomi bagi pelaku usaha gula semut,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Pusat Pendidikan Pertanian (Kapusdiktan), Muhammad Amin, menekankan pentingnya keberlanjutan pengembangan inovasi. “Teknologi seperti ini perlu terus disempurnakan, termasuk dari aspek ekonomi, produksi, hingga pemasaran. Dengan demikian, manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat,” tuturnya.
Meski telah menunjukkan banyak keunggulan, pengembangan mesin ini masih berlanjut. Analisis lebih mendalam terkait efisiensi biaya dan penguatan sistem produksi menjadi langkah berikutnya, termasuk pengembangan mesin sortasi sebagai pendukung proses pasca panen gula semut.
Di tengah upaya meningkatkan daya saing produk lokal, inovasi ini menjadi bukti bahwa transformasi dapat dimulai dari hal sederhana dari dapur pengolahan tradisional menuju teknologi modern. Gula semut tidak lagi sekadar produk pangan, tetapi juga simbol kemajuan agroindustri Indonesia yang terus bergerak maju. (wsd) (*/Adv)
You must login to comment...
Be the first comment...