3 jam yang lalu
PanganNews.id - Di hamparan lahan kacang tanah yang selama ini identik dengan kerja manual dan tenaga besar, sebuah inovasi mulai mengubah cara petani memanen. Bukan lagi sekadar mencabut satu per satu dengan tangan, kini proses panen dapat dilakukan lebih cepat, praktis, dan efisien melalui alat panen kacang tanah tipe lifting mekanis.
Inovasi ini dirancang oleh Irsyad Ginanjar, mahasiswa prodi Teknologi Mekanisasi Pertanian Polbangtan Bogor sebagai jawaban atas rendahnya efisiensi panen kacang tanah di Indonesia. Selama ini, proses panen dan perontokan masih dilakukan secara terpisah, memakan waktu, serta membutuhkan banyak tenaga kerja. Melalui alat ini, kedua proses tersebut digabungkan dalam satu sistem terpadu.
Dengan memanfaatkan komponen mekanis seperti motor 35 watt, sistem puli dan v-belt, serta rangka besi yang kokoh, alat ini mampu mengangkat tanaman kacang tanah sekaligus merontokkan hasilnya. Desainnya yang dirancang menggunakan pendekatan rekayasa teknik modern menjadikan alat ini tidak hanya fungsional, tetapi juga mudah dioperasikan di lapangan.
Hasil uji coba menunjukkan bahwa alat ini mampu mencapai efisiensi kerja hingga 79 persen. Angka tersebut menjadi bukti bahwa mekanisasi sederhana dapat memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan produktivitas petani.
Di balik angka-angka tersebut, tersimpan cerita tentang bagaimana inovasi lahir dari kebutuhan nyata di lapangan. Proses perancangan dimulai dari desain teknis, pabrikasi alat, hingga pengujian langsung di lahan pertanian. Setiap tahap menjadi pembelajaran berharga dalam menciptakan teknologi yang aplikatif dan sesuai kebutuhan petani.
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa inovasi mekanisasi seperti ini menjadi kunci dalam mendorong modernisasi pertanian nasional. “Transformasi pertanian tidak bisa dilepaskan dari inovasi alat dan mesin pertanian. Kehadiran alat panen kacang tanah ini menjadi solusi nyata untuk meningkatkan efisiensi, menekan biaya tenaga kerja, dan pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan petani,” ujar Amran.
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, juga menyoroti pentingnya peran generasi muda dalam melahirkan inovasi berbasis kebutuhan lapangan. “Inovasi ini menunjukkan bahwa generasi muda pertanian mampu menghadirkan teknologi tepat guna yang langsung bisa dimanfaatkan petani. Ini adalah bagian dari upaya kita membangun pertanian yang maju, mandiri, dan modern,” ungkapnya.
Direktur Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Bogor, Yoyon Haryanto, menyebut inovasi ini sebagai bukti keberhasilan pendidikan vokasi dalam menjawab tantangan sektor pertanian. “Kami mendorong mahasiswa untuk tidak hanya belajar teori, tetapi juga menciptakan solusi nyata. Alat ini menjadi contoh konkret bagaimana inovasi lahir dari pemahaman mendalam terhadap kebutuhan petani di lapangan,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Pusat Pendidikan Pertanian (Kapusdiktan), Muhammad Amin, menekankan bahwa inovasi seperti ini harus terus didorong untuk dikembangkan lebih luas. “Kita perlu memperkuat ekosistem inovasi di bidang pertanian. Teknologi seperti alat panen kacang tanah ini harus direplikasi dan disempurnakan agar semakin banyak petani yang merasakan manfaatnya,” tuturnya.
Meski demikian, inovasi ini masih memiliki ruang untuk pengembangan. Beberapa catatan seperti kestabilan alat dan sistem perontokan yang perlu disempurnakan menjadi tantangan berikutnya. Namun, hal tersebut tidak mengurangi nilai penting dari inovasi ini sebagai langkah awal menuju mekanisasi pertanian yang lebih luas.
Di tengah upaya memperkuat ketahanan pangan nasional, inovasi sederhana seperti ini menjadi pengingat bahwa perubahan besar bisa dimulai dari hal kecil dari lahan kacang tanah, oleh tangan-tangan kreatif anak bangsa, untuk masa depan pertanian Indonesia yang lebih maju. (wsd) (*/Adv)
You must login to comment...
Be the first comment...