3 jam yang lalu
PanganNews.id - Di tengah meningkatnya kebutuhan energi dan dorongan kuat terhadap pemanfaatan energi terbarukan, sebuah inovasi sederhana namun berdampak besar hadir dari tangan kreatif generasi muda. Teknologi solar tracker berbasis Real Time Clock (RTC) menjadi jawaban atas tantangan rendahnya efisiensi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) konvensional, khususnya pada sistem off-grid.
Inovasi ini dikembangkan oleh Wendy Saputra, mahasiswa program studi Teknologi Mekanisasi Pertanian Polbangtan Bogor dengan tujuan utama mengoptimalkan penyerapan energi matahari melalui sistem pelacakan otomatis yang mampu menyesuaikan posisi panel surya sepanjang hari. Berbeda dengan panel statis yang hanya menangkap sinar dari satu arah, sistem ini memastikan panel selalu menghadap posisi matahari secara presisi.
Mengandalkan integrasi teknologi mekanik dan elektronik, sistem ini menggunakan motor aktuator linier, modul RTC DS3231, serta layar LCD I2C yang dikontrol melalui perangkat lunak. Penyesuaian sudut panel dilakukan secara berkala, dimulai dari sudut awal 25 derajat dan bertambah setiap jam mengikuti pergerakan matahari.
Hasilnya pun tidak main-main. Dari serangkaian uji coba, teknologi ini mampu meningkatkan daya output hingga 28 persen dan arus listrik hingga 23 persen dibandingkan panel surya statis. Peningkatan ini menjadi bukti bahwa inovasi sederhana dapat memberikan dampak signifikan, terutama bagi wilayah yang belum terjangkau jaringan listrik nasional.
Tak hanya soal teknologi, implementasi sistem ini juga dirancang aplikatif. Dimulai dari survei lokasi, perakitan sistem, hingga monitoring dan evaluasi dilakukan secara sistematis. Hal ini membuka peluang besar bagi petani maupun masyarakat di daerah terpencil untuk memanfaatkan energi surya secara mandiri.
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa inovasi seperti ini sangat sejalan dengan arah pembangunan pertanian modern yang berkelanjutan. “Pemanfaatan energi terbarukan di sektor pertanian menjadi langkah strategis untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas. Inovasi solar tracker ini membuktikan bahwa generasi muda kita mampu menghadirkan solusi nyata bagi ketahanan energi sekaligus ketahanan pangan nasional,” ujar Amran.
Senada dengan itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menilai inovasi ini sebagai bagian penting dari transformasi pertanian berbasis teknologi. “Kami terus mendorong lahirnya inovasi-inovasi terapan seperti ini. Solar tracker berbasis RTC tidak hanya meningkatkan efisiensi energi, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran bagi petani dan generasi muda dalam mengadopsi teknologi modern,” ungkapnya.
Direktur Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Bogor, Yoyon Haryanto, turut memberikan apresiasi terhadap karya tersebut. Ia menyebut bahwa inovasi ini merupakan wujud nyata dari sinergi antara pendidikan vokasi dan kebutuhan lapangan. “Polbangtan Bogor berkomitmen mencetak SDM pertanian yang adaptif dan inovatif. Teknologi ini menjadi contoh konkret bagaimana mahasiswa mampu menjawab tantangan riil di lapangan, khususnya dalam mendukung pertanian berbasis energi terbarukan,” jelas Yoyon.
Sementara itu, Kepala Pusat Pendidikan Pertanian (Kapusdiktan), Muhammad Amin, menekankan pentingnya penguatan ekosistem inovasi di lingkungan pendidikan pertanian. “Inovasi seperti solar tracker ini harus terus dikembangkan dan direplikasi. Ini bukan hanya soal teknologi, tetapi juga tentang membangun kemandirian energi di tingkat petani dan memperkuat daya saing sektor pertanian kita,” tuturnya.
Meski memiliki keunggulan dalam efisiensi dan presisi, teknologi ini tetap memiliki tantangan, seperti biaya awal yang relatif lebih tinggi serta kebutuhan pemeliharaan berkala. Namun, dengan manfaat jangka panjang yang ditawarkan, investasi ini dinilai sangat layak, terutama bagi pengembangan energi di wilayah off-grid.
Kehadiran solar tracker berbasis RTC ini menjadi bukti bahwa inovasi lokal mampu menjawab tantangan global. Di tangan generasi muda, energi matahari tidak hanya menjadi sumber cahaya, tetapi juga harapan baru bagi kemandirian energi dan masa depan pertanian Indonesia. (*/Adv)
You must login to comment...
Be the first comment...